Senin, 10 Maret 2014

Duit Hangus, Demi Anak



Wati datang dari Bogor mantap dengan pilihan anaknya kuliah di Unnes. Kali ini, Unnes tidak tepat waktu dalam mengumumkan mahasiswa cadangan yang diterima. Uang sejumlah delapan juta yang disetor Wati di Akademi Kimia Analis Bogor hangus. 

Dua perempuan berjalan sejajar di teras gedung rektorat Unnes. Satu diantara mereka menyeret koper hitam ukuran sedang di tangan kirinya, dengan mengapit tas kecil di ketiak kanan.  Remaja yang berada disebelahnya menyangking kresek putih berisi penuh beberapa minuman botol, cemilan, dan perkakas mandi. Mereka menuju tempat duduk yang berada di sekeliling kiri gedung rektorat. Gurat wajah mereka tersirat penuh lesu dan lemas. Sorot matanya redup. Bibir tipisnya terkunci rapat. Raut muka alami orang jawa yang tanpa bedak atau pun lipen

            Ia Friska Dian bersama ibu. Friska –panggilan akrabnya –sedang melakukan verifikasi mahasiswa baru, Jumat (16/8). Ia dipanggil setelah ditetapkan sebagai mahasiswa cadangan. Ibu Friska menunggu di luar sementara ia masuk gedung rektorat lantai 1 untuk melakukan verifikasi. 

            Di luar gedung H tampak para ibu, bapak, anak, remaja, dewasa, duduk-duduk sembari ngobrol dengan sesama. Diantaranya mereka bercerita menyoal pahit-manis anak, saudara yang mencoba ikut seleksi perguruan tinggi. Renyah didengarkan. 

            “Anak saya diterima di Akademi Kimia Analis (AKA) Bogor, sudah registrasi, “ ujar Saolah Purwati ibu dari Friska dengan suara lirih, “tidak diambil, karena anak ingin di kependidikan.” Ia berangkat dari Bogor Barat pukul 16.00 dengan menggunakan kereta dan sampai di Semarang pukul 06.00. 

            Ia menyampatkan untuk ngaso sebentar. “Tadi ngaso sebentar di mushola sana,” ucapnya sembari menudingkan jari kanannya. Ia ke Unnes untuk yang ke dua. Mengantar Friska mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Unnes (SPMU) pertama kalinya. “Rimbun, hijau,“ ucapnya. 

            Uang delapan juta yang baru dibayar Wati pada Kamis (15/8) untuk registrasi AKA hangus. “Saya tak akan kehilangan delapan juta jika Unnes tepat waktu mengumumkan mahasiswa cadangan pada Rabu (14/8) pukul 11.00. Namun, ditunda hingga Kamis secara mendadak. Aksesnya pun lemot dan sulit”. 

            Registrasi di AK terakhir Kamis (15/8). Ia dan anaknya sengaja tidak melakukan registrasi awal, sebab masih menanti pengumuman dari Unnes. Dinanti tak kunjung memberi kepastian, ia memutuskan untuk memilih AKA. 

“Friska lebih condong ke pendidikan. Saat melakukan registrasi untuk AKA kemarin ia tak menunjukkan semburat kegembiraan. Di Bank saja ia masih berusaha keluar masuk internet untuk melihat pengumuman dari Unnes,” tutur Wati dengan menghela nafas. Wati bercerita anaknya baru bisa melihat pengumunan dari Unnes saat di Rumah Sakit persis setelah registrasi untuk AKA. Anak bungsunya yang duduk di kelas 4 SD terserang DBD. Seketika itu Friska merengek kepada Wati dan Suami untuk mengambil pilihan di Unnes, Pendidikan Fisika. 

Wati tak habis pikir jika verifikasi untuk Mahasiswa cadangan esok harinya. Tak ada persiapan dan dengan terburu-buru ia berangkat menuju semarang setelah menyetor uang tiga juta di Bank.  “Adek sudah memantapkan pilihan di Unnes. Apa boleh buat. Walaupun untuk mengumpulkan duit delapan juta tersebut kami lakukan bertahun-tahun. Orang tua hanya bisa mendukung,” cerita Wati. 

Beberapa waktu lalu, persis takbir idul fitri berkumandang anak Wati yang ke dua juga baru keluar Rumah Sakit. Terserang DBD pula. Masing-masing menginap tujuh hari. Ia ibu rumah tangga, sementara suami wirausaha. “Anak yang menjalani, saya tak bisa memaksa,” tutupnya.

Tidak ada komentar: