Senin, 25 Februari 2013

Maya Pendidikan, Pendidikan Maya

Mengeja dengan pasti
Pendidikan masih menjadi primadona setiap warga. Pendidikan dirumuskan untuk memperbaiki kualitas manusia. Permasalahan negara yang kian pelik diharapkan dapat terselesaikan dengan menempuh proses dalam pendidikan. Proses berdiskusi, debat, menjalin jejaring, bertukar cakrawala merupakan hal yang penting untuk melucuti keruwetan perkembangan masalah. 

          Tentu benar, jika sebagian besar pemerintah di dunia mengambil langkah untuk memprioritaskan pendidikan. Termasuk Indonesia yang mengambil langkah untuk memberikan anggaran 20% dari APBN–mau tidak mau pendidikan memang membutuhkan dana yang besar. Sayang, pelaksanaan secara riil di lapangan yang memupuskan cita-cita luhur pendidikan Indonesia. Entah secara sistem dan substansi yang ingin diraih dalam pendidikan belum tercapai dengan baik. Ada beberapa kebijakan-kebijakan pendidikan yang dinilai tidak tepat. Dan bukan hasil perenungan yang dalam. Kebijakan yang masih dalam permukaan. Sehingga hasilnya pun tidak maksimal. 

Terdidik dan Tidak Terdidik
Suatu negara pasti membutuhkan generasi-generasi cemerlang untuk memimpin negara ke depan. Salah satunya jebolan dari dunia pendidikan (sekolah) diharapkan dapat menjadi penggerak bangsa. Walaupun tidak semua. 

Mereka yang terdidik di bangku sekolah dengan yang tidak terdidik di bangku sekolah diharapkan berbeda. Tentunya beda dalam berpikir. Idealnya orang yang terdidik bisa berpikir kritis dan sistematis. Kenyataannya, saya hampir susah untuk membedakan diantara yang terdidik dan tidak terdidik. Sebab, hampir tidak ada beda. Banyak masyarakat umum yang tidak pernah makan bangku sekolah justru dapat berpandangan luas. Namun, sebaliknya mereka yang mengenyam bangku sekolah masih saja bermain-main. 

          Sialnya, mindset orang Indonesia selalu mengganggap jika pendidikan hanya dapat ditempuh melalui bangku sekolah. Duduk di kelas mendengarkan guru berbicara. Begitu seterusnya setiap hari hingga ujian selesai dan mendapatkan sebuah nilai yang berjenjang. Kemudian digunakan untuk melamar pekerjaan. Kita hampir luput bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam rangka mendewasakan manusia melalui berbagai upaya. Bahkan kehidupan dari sosial masyarakat menjadi sebuah pendidikan yang berharga termasuk interaksi dengan keluarga. 

          Namun, dalam praktiknya peran sekolah di negeri ini belum optimal. Ada beberapa poin yang terabaikan dari sorotan pendidikan. Seremonial di dunia pendidikan pun kian mewabah dibanding membidik ke akar hasil pendidikan yang ingin dicapai. Menelurkan manusia yang berkualitas contohnya. Manusia yang secara akal dan tindakan mempunyai kepekaan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Merasa tergugah hatinya setiap melihat ketidakadilan.

          Jadi, pendidikan terkesan maya. Hanya sebuah khayalan. Sistem dan kebijakan-kebijakannya pun maya. Tampaknya ada dan dibuat bahkan terinci, namun tidak ada hasil yang didapat dan mengena. Pendidikan yang masih grambyangan, pendidikan maya. Berbeda dengan maya pendidikan. Kita diajak untuk berkhayal, berimajinasi terkait segala bentuk pendidikan. Pikiran kita diajak untuk berkontraksi dan relaksasi memecahkan suatu problem. Maya pendidikan, pendidikan maya.
         

4 komentar:

Imam Rahmanto mengatakan...

"...pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam rangka mendewasakan manusia melalui berbagai upaya..."
Like it! :)

Web Master mengatakan...

Jadi, pendidikan terkesan maya. Hanya sebuah khayalan. Sistem dan kebijakan-kebijakannya pun maya. Tampaknya ada dan dibuat bahkan terinci, namun tidak ada hasil yang didapat dan mengena.

Cocok Sekali. ^_^

Unknown mengatakan...

Ayo ayo semangat nulis.

Unknown mengatakan...

Yasir, beberapa aku suka tulisanmu. bagus.