Selasa, 11 Maret 2014

Biasa-Biasa Saja


Mariana sudah  melewati masa sejak IKIP Semarang sampai saat ini, Unnes. Tentunya dari masa Retmono, A.T. Soegito, Rasdi, Sudijono, hingga Fathur. “Saya merasa biasa-biasa saja walau sudah berganti rektor lima kali. Saya sih berpikir positif saja,” ucap Ibu dua putra


Seseorang dengan gelar akademik sarjana dengan spesifikasi tertentu tak menjamin mendapatkan pekerjaan sepadan. Kala itu barangkali hingga sekarang mencari pekerjaan tak mudah. Setiap orang harus bersaing dengan beribu-ribu orang lainnya hanya untuk mendapatkan satu tempat saja. Ya, hal tersebut untuk berjuang mendapatkan kursi di badan kepegawaian. Lain jika ingin berwiraswasta, peluang sangat banyak, tinggal membulatkan tekad. “Saat itu saya tak terlalu berpikir mau kerja apa. Saya hanya ingin bekerja sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Sudah,” kenang perempuan kelahiran 1957 silam.
Suatu hari ada sebuah pengumuman lowongan menjadi karyawan perpustakaan yang menempel di stadion. Ia menemukan pengumuman itu dengan tidak sengaja. Awalnya, ia hanya ingin jalan-jalan saja. Lantas, menemukan pengumuman yang saat dilihatnya pertama kali langsung menarik hati. Walau perempuan berhidung bangir tersebut lulusan sarjana hukum dari universitas sultan agung, ia tak lantas malu untuk bekerja apapun. “Yang penting halal dan berkah,” jelasnya sembari melebarkan bibir jambonnya yang tanpa gincu. Pekerjaan untuk tidak dipilah-pilih, namun perlu dicoba dan disesuaikan dengan kemampuan. Jika melihat para pejabat yang berbondong-bondong masuk bui karena kasus korupsi, hati Mariana ternyuh. “Ibu mana yang tidak sedih ketika anak yang disekolahkan malah berujung di penjara? Walau penjara sekarang bisa disulap menjadi hotel. Tetap saja sedih,” pertanyaan sekaligus penegasan pernyataan wanita berkerudung merah muda itu. 


Sedikit dan Tak Nyaman 
Dua puluh delapan tahun ia tetap setia merawat lembar-lembar yang katanya ilmu atau pun informasi. Hari-hari ia jalani dengan mengkode buku-buku koleksi, menyampuli, membendel, menyetreples, hingga menginput data di komputer. Koleksi buku-buku perpustakaan pusat unnes memang sudah lama-lama, jika tidak jadul


Mariana bercerita pembaruan buku-buku koleksi terkadang tidak sesuai kebutuhan. Tender yang gol dalam pengadaan buku sering tak sesuai dalam memberikan buku. Misal, mintanya merah dikasih hijau. Mintanya dua dikasih satu. Namun kabarnya sekarang perpustakaan sudah diperbolehkan mengusulkan jenis buku. Suatu kabar gembira. 


Kondisi ruangan atau tata letak perpustakaan juga kurang menarik pengunjung untuk membaca di perpustakaan. Terkesan kaku dalam penataan rak-rak buku dan ruang-ruang diskusi. 


Bekerja Juga Belajar
Wanita berjilbab ini selain bekerja, ia juga senantiasa belajar. Setiap hari ia menghabiskan tiga hingga empat Koran di sela-sela pekerjaannya. Ia harus tetap mengikuti wacana yang ada. Ia tidak mau terlihat buta informasi. Ia yang berlatarbelakang hukum justru tak senang dengan berita-berita hukum. Ia lebih tertarik pada berita-berita teknologi dan kuliner. Walau begitu ia tetap sesekali membacanya. Ia yakini sekarang tak punya banyak waktu untuk membaca. Ia harus pandai-pandai mengatur waktu. 

Tiga media yang diikuti Mariana yakni suara merdeka, jawa pos, dan kompas. Ia rasa ketiganya sudah mewakili berita daerah maupun nasional. Ia juga mengakui tak terlalu suka berita berat. “saya tak terlalu suka berita yang berat-berat. Hehe,” ucapnya.

Menganggap biasa saja, luar biasa, super menjadi pandangan subjektifitas setiap orang. Begitupula pandangan Mariana.

Tidak ada komentar: