Sabtu, 23 Maret 2013

Kuusap Lembut, Kasih Untuk Kamu dan Kalian

Kasihku, 

       Perjalanan ini begitu menyenangkan. Satu dua tangkai mawar saling mewarnai. Terkadang duri-duri lembutnya pun turut bisa kita rasakan. 

       Kasih, aku tahu dengan perjalanan ini. Jika berhenti saja dalam perenungan tak akan sampai aku dan kalian dalam rumah impian hati kamu. Tak akan sanggup memeluk jiwa dan ragamu. Impian dalam diri untuk terus meningkatkan kepekaan. 

       Selayaknya perjalanan ke papua. Kita ingin lebih mengenal saudara kita bukan? Memahami kondisi di sana seperti. Jika selama ini kalian hanya menjadi penonton atas keresahan saudara kita, sekarang kalian mendapatkan kesempatan untuk menengok langsung. Bahkan mempunyai kesempatan luar biasa untuk merealisasikan solusi atas keresahan kalian. Kalian tak hanya berkeluh kesah namun bertindak.

       Kita tahu bagaimana adat orang papua. Adat mereka memang beda dengan aku dan kalian. Karena memang setiap daerah mempunyai keunikannya tersendiri. Namun, jika kita masuk ke dalam, bergumul bersama pasti mereka selalu terbuka. Susah memang. Sesusah apapun jika tekad masih berkobar dan menjalankannya tak ada yang susah. Toh ketika nanti kita berhasil menyusup dan diterima oleh mereka senang bukan. Sebuah misi terlaksana. 

Bahkan kita tak hanya sebatas bersenang pada garda depan itu saja. Aku dan kalian harus faham betul. Mengantarkan mereka dan kita pada misi yang pernah kita diskusikan. 

       Sangat faham betul membawa diri saja susah. Apalagi harus berada di tengah-tengah saudara kita. Tidak sekadar hanya meramaikan tapi ikut terlibat dalam keseharian mereka. Kita bukan lagi dalam tahap bermain-main. Namun, ‘mereka-reka’ permainan. Sehingga kita pun dapat memasukkan bola. Selayaknya MU vs Milan bertanding. Sangat menarik dilihat. Transfer semangat itu jelas ada, bahkan kita sampai terpukau dengan tak-tik yang mereka lakukan. Bukan mengaca pada Persijap vs PSIS. Yang ujung-ujungnya rusuh. 

       Aku berpikir bahwa melakukan sesuatu memang harus tergerak dari diri sendiri dulu baru mengarah pada saudara kita di papua. Bukan semata-mata Papua bermasalah. Namun, selayaknya saudara kita turut untuk mengasihinya. Kasih tak hanya tertuju pada yang lemah namun saling menguatkan. Seperti ikatan aku, kamu, dan kalian. Saudara tak hanya sesama ras dan suku. 

Aku merasa bahwa kamu masih saja acuh bahkan egois. Aku pikir tujuan-tujuan mulia yang dilakukan para kyai kepada santrinya itu patut kita contoh. Kyai Zajuli misalnya. Ia begitu eman dengan santrinya. Tak menuntut imbalan apapun. Karena hanya ilmu yang bisa diberikan ia begitu tulus dalam mentranfer ilmu tersebut pada santrinya. Sekarang aku dan tetangga desaku merasa sangat kehilangan. Padahal, aku pikir ia pun tak mempedulikan untuk diajeni orang lain atau tidak. Karena ia cukup mengajeni diri sendiri dan tepat memposisikan diri di keluarga dan masyarakat. Terbukti minimal setiap kamis sore banyak peziarah yang menyambangi makamnya. Membacakan satu dua ayat suci untukmu. 

       Namun, para santri pun sekarang harus lebih jeli lagi saat memilih tempat dan orang untuk menimba ilmu. Jika orang mengatakan dunia ini kejam. Saya pikir tidak. Diri sendirilah bisa aku, kamu, dan kalian yang kejam dan mengajamkan diri. Menutup telinga rapat-rapat. Walau, sesekali memang kejaman itu perlu. Asal untuk kemaslahatan bersama. 

Teruntuk kasih-kasihku yang aku kasihi dan kasih-kasihmu yang terkasihi, saling mengasihi untuk tercipta kasih sayang yang semestinya.  

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Semua jalur itu sama. Jalurku, jalurmu, dan jalur mereka.
Yang membedakan hanyalah seberapa kuat dan mampu untuk tetap bertahan. Bahkan bertahan saja pun tak cukup. Perlu lucutan amunisi-amunisi. Barangkali seperti itu, Om.
Aku masih sangat ingat betul obrolan malam itu. Tentang kamu dan semangatmu. he