Senin, 03 November 2014

Melompati Kesedihan


Aku atau tiap manusia semua pasti pernah merasa sedih. Kesedihan. Ia hadir sebab satu hal yang tak sesuai harapan. Harapan yang pupus begitu saja. Ya, kesedihan adalah kondisi terpuruk tiap manusia untuk merenungi sebuah nasib. Tentu, nasib yang dielu-elukan kebenarannya sebab tak sesuai ekspektasi. Sebab ia mengira kebenaran yang ia yakini benar adanya, dan melenakan jika Gusti lah pemilik kebenaran yang hakiki.

Ah, ini sebuah perjalanan hidup Yu. Aku tentu ingin sepertimu yang bisa menyemelehkan segala sesuatunya dalam pundak diri. Tentu, kelak aku menginginkan pundak yang beda jenis dengan kita Yu. Aku cukup melihat satu keyakinan yang kau ajarkan padaku. Ya tentang sebuah kata ‘semeleh’. Sebelum ku menemu kata baru yang bisa membuat diri ‘gregel dan nyer’ Yu, semeleh akan tetap menjadi pertautan kata yang tiada ujung. Tentu, semua itu atas kebijaksanaan Gusti bukan, Yu. Maha yang semaha-mahanya.

Yu, ada fase-fase yang perlu diakrabi setiap diri bukan? Untuk tetap menemu-Nya dan menemu diri. Tentu apa yang ku baca atas teks dan sebuah langkah semua akan menuju-Mu. Ya, ku kira setiap itu perlu untuk menarik batas. Batas yang kebenarannya disaring atas kebenaran yang berlapis dan bersiklus begitu seterusnya. Ingin bukan Yu pada kondisi tertentu, diri ingin melompati kesedihan. Sedih yang tak berujung. Ah Yu, dunia begitu indah ternyata. Sedih senang bukan kah satu hal romantis yang jarang ditangkap mata dengan senyuman. Aku membayangkan kesedihan dan kesenangan adalah kawan bercerita yang renyah. Pada salah satu posisi ada yang tak ingin atau susah bercerita sebab begitu sudah kondisi dan genetik lalu di posisi bersebrangan ada ia yang bisa memantik cerita dan cukup mampu untuk memberi keyakinan. Atau pada kondisi tertentu ia akan sama-sama renyah untuk bercerita dan ngobrol apa pun. Ia bisa menjadi musuhmu, kawanmu, belahan jiwamu, atau anak-anak yang ingin dipeluk ibunya.

Ah Yu, pada akhirnya, ia adalah seorang yang bisa menghapus air matamu dalam gemetarnya dunia. Lewat sebuah ujung jari atau kecupan dahi. Atau aku membayangkan pada kondisi diam yang di antaranya saling menguatkan lewat hati. Tanpa satu patah huruf pun, layaknya tiap manusia yang sedang jatuh cinta lalu menjadi pujangga adalah otomatis. Ah, Yu, melompati kesedihan adalah Kau, melantun doa untuk kebijaksaan Gusti.