Minggu, 26 April 2015

Darsum


Dar…

DI suatu senja nanti Dar, aku ingin merapatkan kaki di depanmu. Dar, ini malam, hatiku kembali koyak. Lantunan gitar mengalir pelan. Begitu suara nan syahdu yang mengiringinya. Sebuah lagu spanyol kesukaan Fari, yang setahun lalu telah meninggalkan bumi ini. Sudah delapan bulan ini, aku, menempuh hidup baru dengan istrinya. Risa, perempuan kuat dengan satu putri imut nan lucu. Hari-hariku semakin diyakinkan, bahwa perjalanan hidup begitu tak bisa ditebak. Kejutan Dar.

Aku berjodoh dengan Risa. “Aku telah menemukan jodohku De, tak usah menunggu lama atas sepeninggalnya Dedi,” tuturnya dengan mata sayup. Ah, entah. Aku dan diriku yang belum selesai, namun selalu dihadapkan pada hidup-hidup yang baru. Aku lahir berulang-ulang kali, Dar.

Risa, aku sering menangkap tangannya yang sedang mengusap sudut matanya. Kadang juga, ada air yang tumpah di pipinya. Lalu, cepat-cepat ia menyerutup air yang mengambang di hidungnya. Aku tahu, Risa pasti begitu merasa sedih sekaligus kuat. Di meja makan, di ruang tamu, di kamar tidur, di sela-sela ia makan, pandangannya selalu menerawang jauh, kosong, dan selalu diakhiri dengan lelehan. Yang aku yakini, ia pun tak sedang merenunginya atau tak rela atas kepergiaan Fari. Aku yakin tidak. Ia hanya ingin mengulas rekaman ingatan bersamanya.

Ia pun menceritakan runtut kisah-kisah pertemuannya dengan Fari. Lalu, bagaimana ia belajar memaknai kata welas asih. Aku tak menyebutnya cinta Dar, sebab aku belum cukup mampu untuk mengatakan itu. Bagiku, cinta syarat akan makna. Aku lagi lagi tak kuat. Aku hanya ingin belajar mengikuti nurani saja. Maka, aku lebih nyaman dengan ‘welas asih’. Sikap welas asih itu ku dapat dari kakek-nenek pada cucu-cucunya. Aku pun tak bisa utuh merasakannya. Aku hanya menangkap dari kakek-nenek yang kutemui tanpa sengaja atau pada teks yang pernah ditulis sastrawan besar, NH Dini. Lagi lagi kejutan.

Dar, tadi tanpa sengaja aku temukan sepucuk surat Risa. Kira begini “Hal yang kutakutkan selama ini jika engkau meninggal. Berkali aku katakan padamu ‘aku seperti lahir kembali sejak ada Dedi. Jika jalan ini tak ada, mungkin aku telah gila atau mati’. Kini, ketakutanku benar. Namun, Dedi sudah mempersiapkan segalanya. Aku pasti kuat untuk menghadapinya. Terima kasih.”

Begitu dengan diriku, aku memprediksi hanya ada satu pilihan, menempuh perjalanan. 
***
Di warung bertembok gedhek, saat kami menikmati sop, di jalanan kehidupan yang kau dan aku pernah menertawakannya, kini aku justru menangisinya bersama. Ia, bercerita tentang sosok lelaki. Dua lelaki yang membuatnya sungguh benci dan sangat kagum. Lalu, ingatanku menerawang kau, keduanya ada pada kau. Ia berkata, “apa lah guna lelaki jika aku tak bisa menemukan kenyamanan di dekatnya. Aku yakin bahwa budaya patriarki di negeri ini menyeramkan. Hanya demi cinta seorang perempuan, ia menyerahkan segalanya, ibu. Tibalah saatnya, ia harus benar-benar memakan cinta. Dan aku tahu, itu sangat pahit. Namun, barangkali ibu sudah melepaskan itu semua, yang penting ia akan dengan gagah menjalaninya.”

Sementara, lelaki lain yang dikaguminya, memberi makna hidup baru baginya. Ia seolah seperti bayi lalu tumbuh untuk menjadi anak-anak. Layaknya anak-anak ia baru menemukan kegembiraan anak-anak di usia empat puluh lima tahun. Ah, sepertinya stigma anak-anak itu boleh berbuat kebodohan apapun dan tidak etis jika hal tersebut dilakukan orang dewasa patah. Buktinya, ada anak-anak yang justru telah mendewasa sebelum batasan umur yang ditetapkan. Betapa tidak, sedari anak-anak, pagi, ia sarapan omongan. Makan siang dengan marahan. Dan makan malam dengan sabetan. Sehingga ia berpikir dewasa dan melakukan hal-hal sebagaimana bocah dewasa melakukannya. Padahal ia anak-anak. Lalu masihkah batas tersebut menjadi tolak ukur?
Berlanjut….

Sum…

Gracias a la vida que me ha dado tanto.
Me ha dado el sonido y el abecedario;
Con el las palabras que pienso y declare:
Madre, amigo, hermano, y luz alumbrando
La ruta del alma del que estoy amando.

HATIKU pilu, Sum. Ini lagu menggerus-gerus hatiku. Ku tarik napas yang panjang, ku tutup mata, dan ketika ku buka mata, aku membayangkan kau duduk di sampingku. Ah, mana mungkin kita akan bertemu? Mimpimu dan mimpiku tak pernah satu. Aku dan kamu sungguh sama, namun justru kesamaan itu lah, yang terus ku lantunkan bahwa aku kamu tak sama. Entah rumusan apa atas kesamaan dan ketaksamaan, Sum. Sebab yang sama itu justru akan memunculkan kebuntuan dan mungkin sepo. Atau justru, sebab hal-hal yang sama itu akan memberi pilihan baru untuk tetap gagah. Ah, itu butuh perjalanan yang panjang lagi. Aku ingin mengendorkan lutut, Sum. Mengapa kita tak cari jalan alternatif untuk memperpendek jalan saja? Toh, bensin kita akan irit, dan tidak membebankan Negara. Juga seperti cita-citamu, agar sisanya itu dapat dibagi pada orang-orang yang membutuhkan. Begitu bukan?

Sum, aku tahu, aku itu bukan lelaki. Lebih tepatnya memaknai lelaki seperti yang kau kira. Ceritamu pada malam yang haru biru tentu masih ku rekam. Tentang lelaki memang persis seperti perumusan yang ada di kepalamu. Namun, kau akan merelakannya atas pertimbangan-pertimbangan yang tak pernah bisa dikalkulasikan. Apalagi, aku melakukan kesalahan yang tak pernah kau maafkan. Mengumpatlah Sum. Lelaki itu bajingan! Namun, tiada lah jalan untuk menutup kebajingan itu, Sum? “Selalu, ada jalan,” katamu.

Aku tak berani meraba-meraba diriku. Seperti lelaki yang kau benci, aku pun sama. Maka, atas kesamaan itu, aku kamu tak akan bertemu dalam jalan pendek. Namun, aku sanggup menempuh perjalanan. Baik aku dan kamu punya ketraumaan itu. Dan mestinya, aku dan kamu harus bisa menjadi terapis untuk diri sendiri. Untung saja, ada pelukan ibu. Ibu adalah jendela yang memberi kenyamanan di rumah. Padahal lini rumah sungguh besar. Namun, ibu hanya jendela. Sebab, rumah dikuasai lelaki. Ibu, tetap perempuan yang suaranya kadang hanya terpendam di lubuk hati. Namun, jendela senantiasa memberi kesejukan. Tanpa jendela, rumah menjadi pengap.

Sum, yakinlah bersedekah itu jauh bisa melapangkan segalanya. Segala aral melintang sudah sesuai porsi-porsinya. Pandanglah dengan tatapan yang mantap orang-orang di sekitarmu. Oh, kau jauh lebih pintar untuk memaknai.

Bersedekahlah atas rasa, energi, pikiran, dan perjalanan. Terima kasih hidup.
Selesai….

Dewi Maghfi, penikmat cerpen