Rabu, 13 Mei 2015

Kejarlah Mimpi, Meski Lewat Kejar Paket


Mimpi… bermimpilah….kejar….kejarlah….

Rambutnya hitam panjang. Saat bertemu, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Agaknya, ia juga malu-malu. Ia lah Dwi Lestari murid kelas X Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Semarang. SKB merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan. Orang tuanya, kini berjualan di pasar.
            
SKB Kota Semarang berdiri pada 2001. Salah satu dasar didirikannya SKB Kota Semarang adalah dampak krisis multi dimensi, yang berdampak pada kondisi perekonomian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kelas bawah. SKB kota Semarang ini mempunyai visi menjadi lembaga pelayanan, pendampingan, dan percontohan pendidikan luar sekolah dan pemuda serta pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat gemar belajar, berkarya, dan berswadaya mandiri.

Dwi begitu panggilan akrabnya. Ia sejak sekolah menengah pertama ikut kejar paket B. ia mengatakan tidak dapat membayar biaya di sekolah umum. Padahal keinginannya untuk melanjutkan di sekolah umum sangat kuat, “Bagaimana lagi orang tua tidak mempunyai biaya. Dulu saya sempat mendaftar di smp. Namun, karena biayanya mahal tidak jadi,” tutur perempuan dengan lima saudara ini.

Selain mengikuti pelajaran selayaknya di sekolah umum, Dwi di SKB ini juga belajar berwirausaha. Ia bersama dua rekannya juga menjadi karyawan kantin di sekolah tersebut. Ia belajar mengelola uang agar mendapat keuntungan untuk modal usaha. Selain itu, ia juga mengikuti ekstrakulikuler membatik. Terbukti, seragam yang ia kenakan pun hasil dari membatik sendiri. “Daripada membeli seragam untuk jaga kantin, mending kami membuatnya sendiri. He-he,” tambah perempuan kelahiran September 1999.
            
Ia tak lantas patah semangat untuk tetap melanjutkan sekolah lagi. Setelah lulus kejar paket C ini, ia berencana melanjutkan ke perguruan tinggi. Menjadi Guru adalah keinginannya sedari dulu. “Saya ingin menjadi guru. Mendidik anak adalah kebanggaan tersendiri. Sama-sama menyemangati untuk mewujudkan mimpi,” terangnya. 

SKB didirikan dengan tujuan menuntaskan buta aksara dengan priorotas usia 10-44 tahun, menunjang suksesnya wajib belajar pendidikan dasar melalui kejar paket A, kejar paket B setara SMP, kejar paket C setara SMA, memberikan pelayanan pendidikan yang berorientasi pada ketrampilan bagi masyarakat yang tidak bersekolah dan bekerja, memberikan layanan pendidikan anak usia dini, dan meningkatkan wawasan dan sikap pemuda agar memiliki ketangguhan dalam menghadapi tantangan global.

Jauh panggang dari api, begitullah gambaran SKB ini. Banyaknya misi yang mesti dilakukan tidak sebanding dengan kemampuan yang dimiliki. Kemampuan dari segi pembiayaan yang memadai, gedung dan fasilitas yang baik, serta pengembangan usaha yang maksimal. Suryana Kepala Sub Bagian Tata Usaha mengatakan tidak memperoleh sokongan pendanaan yang cukup untuk memaksimalkan SKB tersebut. Seperti contoh, usaha pembibitan lele yang beberapa tahun belakang tidak berjalan lagi sebab tidak ada biaya. Padahal mempunyai prospek yang bagus. Juga, usaha dari pimpinan SKB untuk mengurai masalah minimnya dana agar kegiatan tetap berjalan masih tidak maksimal.

Gedung SKB tersebut bekas sekolah dasar Impres Sumurjurang 02 yang dibangun pada 1977. Walau mendapat kucuran dana untuk membangun 2 gedung dan rehab atap, tetap saja gedung-gedung yang lain nampak usang dan tak terawat. Rumput-rumput yang tinggi serta seringnya terendam banjir jika musim penghujan. 
Dewi Maghfi