Rabu, 20 Mei 2015

Tresna


Berawal dari menulis di rubrik Teras Merput, aku terinspirasi untuk merenungkan apa yang pernah aku tulis. Ketika itu, aku menulis dengan sepintas. Sebab, mestinya yang nulis bukan aku. Namun, karena sudah harus dilayout, ya akhirnya aku nulis sembari diwaktui layouter.

 Tresna, aku ingin menariknya menjadi sebuah eksplanasi. Eksplanasi tentang aku dan organisasi yang pernah menghidupiku, BP2M. Kala masih mahasiswa aku ikut organisasi pers dari awal hingga kelulusanku bahkan akan tetap dalam jiwaku sampai kapanpun.
Ada banyak hal-hal yang memang tak terungkap antara aku dan bp2m. sekalipun eksplanasi kali ini hanya nampak seperti gunung es. Barangkali hanya 10% yang tertangkap oleh kata-kata. Aku ingin memaknainya dalam laku.

Jika ku pikir, mengapa dulu aku ikut bp2m tidak organisasi lainnya yang barangkali justru menjanjikan. Seperti koperasi yang akan diajarkan bagaimana cara berwirausaha dan mendapatkan uang. Seperti mahapala, aku mungkin sudah ke luar negeri untuk mengikuti 7summit. Atau teater, yang guyub dan keasyikannya bisa ku rasakan setiap saat. Bagaimana mengolah rasa dan ekspresi, sebab aku orang yang susah untuk meluapkan ekspresi?

Aku mengenal pers kampus, ketika aku tes snmptn yang kala itu bertempat di Undip Pleburan. Aku ditampung oleh salah satu kru Manunggal. Aku mendapat cerita darinya. Dia, adalah Mas Huda, PU Manunggal. “ku pikir, apa di Unnes ada macam gituan?” ah, keterima saja belum sudah mikir begituan. Juga mengobati luka kekecewaan sebab tak diterima lewat spmu juga belum kering. Lukaku masih menganga. Segala sesuatu tak bisa diukur dengan materil. Aku belajar itu, sangat. Dulu, ketika aku ingin kuliah aku telah melewati hal-hal yang huru-haru. Maka, sudah ku niatkan dalam diri untuk memulainya dengan sepenuh hati. Dan aku tidak menduga, jika langkahku mesti menapak di bp2m. Aku tipikel orang jika sudah memulai sesuatu, mesti dituntaskan. Benar, jika aku kuliah di bp2m. Aku ditempa di sana.

Apa yang membuatku perlu memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada kuliahku di jurusan kesehatan masyarakat?

Ini adalah jawaban sulit. Kali ini, aku baru sadar. Jika banyak orang-orang yang menanyakan itu lagi. Dulu, jika aku ditanya begitu, aku hanya cengengesan dan nylemong ‘suka.’ Sebab, aku memang benar suka. Kalau sekarang, sepertinya aku perlu mencari perenungan untuk menjawab itu. Ya, ku pikir, jawabanku sudah terjawab lewat segala hal yang sudah ku lakukan hampir 5 tahun ini. Waktu yang lama namun juga singkat. Jadi, perenunganku pun telah menemukan jawabannya. Bahwa, jawaban tak hanya berupa narasi kata, namun narasi laku yang sudah ku rajut. Dan kini, tinggal memaknainya. 

Memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada di jurusan adalah ibarat jodoh yang tak bisa dihindari. Betapa tidak, banyak orang mendamba untuk ahli di bidang yang sedang ia geluti. Bahkan keinginan untuk melanjutkan studi hingga titik tertinggi. Namun, jodohku adalah bp2m kala itu. Aku tak bisa menghindar. Sebab, itu soal pertautan jiwa dengan semesta. Pun, aku tak lantas tidak mendapat apapun di jurusanku. Aku dapat banyak hal. Dipertemukan dengan dosen alot. Aku mesti selalu berurusan dengannya di setiap makul. Juga pernah dimarah-marahi, katanya aku menyepelekan makulnya dan mementingkan organisasi. Haha. Dipertemukan dengan guru inspiratif, Bu Rus 65 tahun, yang selalu semangat. Dipertemukan dengan pembimbing yang begitu baiknya padaku. Dipertemukan dengan penguji yang sangat sentimental padaku. Dan dipertemukan dengan teman sangat baik, Tutik-Sasya. Aku semacam diopeni oleh mereka, diingatkan tentang tugas, tentang hal-hal yang berkaitan tentang jurusan. Terima kasih.


Apa aku tidak punya keinginan untuk memperdalam ilmu kesehatan masyarakat. Yang aku rasa kuliahku kemarin cuma main-main?

Selalu ada keinginan untuk memperdalam apa yang pernah kucemplungi. Pun, aku merasa diriku hambar saat ini. Aku yakin, aku akan mempelajarinya kembali. Aku akan mulai menyukai untuk nongkrong di rak baru di toko buku. Pada percabangan ilmu yang kuminati, kesehatan reproduksi. Ya, aku akan memperdalam lagi. Juga, pertemuanku saat menemui kasus ketika magang kala itu. Aku merasa tak fokus dan pikiranku kemana-mana. Pada hal-hal begitu, aku sangat menghukum diriku. Bahwa, aku tak dapat menyelesaikan dengan baik.  

Apa aku tak ingin membuktikan pada orang-orang yang pernah benar-benar memarahiku bahwa aku hanyalah orang yang bisanya menjelek-jelekkan sivitas, penghianat, padahal aku bisa begini darinya, katanya?

Ya, aku memang dapat menyelesaikan studi ini berkat beasiswa. Pun aku mensyukurinya. Aku hampir tak ingat lagi berapa kali aku mendapat omelan-omelan macam itu selama kuliah. Pun itu tak lepas sebab aku membawa bp2m. Masa-masa itu, aku tak memang merasa tak punya ketakutan tentang apapun. Justru aku ingin memperlihatkan kegagahan. Aku mungkin nampak frontal, dan justru banyak orang beranggapan itu hal konyol. Namun, keyakinannku kala itu adalah mencintai. 

Betapa begitullah cara mencintaiku. Aku mencintai dengan caraku. Laku cinta yang sebenarnya sulit, namun aku harus tetap yakin akan caraku. Juga, keinginan agar adik-adikku bisa mencintai dengan cara yang lebih dariku, sepertinya belum terwujud. Setiap orang menempuh perjalanannya masing-masing. Akan ku buktikan dalam perjalanan selanjutnya, bahwa aku pun punya rasa dan sanggup untuk mencintai, tentu dengan caraku sendiri.  

Apa aku begitu berbangga diri pernah singgah di bp2m dan cintaku akan bp2m adalah segalanya?

Pernah memang, aku merasa bangga, pernah tumbuh di sana. Di saat-saat aku harus menyelesaikan hal berat dengan sendiri dan ternyata mampu melewatinya, kadang membuatku bangga. Oh, aku bisa. Aku bisa mengukur diri. Namun, tak lain, hal macam itu hanyalah sepintas saja. Bahwa perjalanan selanjutnya menyimpan kejutan. Aku mengibaratkan perjalananku seperti goa yang tak tahu ujungnya. Aku ingin menelusur goa itu, untuk menemu cahaya. Sebab, goa adalah soal keheningan. Dan keheningan perlu dipecah. Bp2m telah membawaku di ujung pintu. Mengenalkanku lapis demi lapis kenampakan goa dari luar dan sedikit masuk di ambang ruang tamu. Aku belum menelusur ke ruang meditasi. Aku masih di muka. Maka, cinta macam apa yang patut ku banggakan? Tak ada. Aku menjalaninya dalam laku. Maka, aku berusaha sebiasa mungkin pada apapun. Mungkin itu yang menyebabkanku tak bisa ekspresif. Sebab, aku menekan impuls-impuls ekspresionis. Maka, sampai sekarang aku benar belum bisa memaknai cinta, selain memaknai laku apa yang pernah aku lakukan di bp2m atau pada orang-orang.

Apa aku benar-benar dihidupi bp2m?

Barangkali tidak. Bp2m hanyalah perantara, bahwa keberadaan Gusti dimana-mana. Aku juga memendam luka, bukan semata-mata, hidup penuh kebahagiaan. Namun, begitullah aku. Aku akan menyembuhkan luka-luka ku sendiri lewat cerita dan senyuman. Entah, tak terhitung, bahwa cerita dan senyuman menjadi obat ampuh bagiku. Juga, menulis adalah melakukan terapi pada diri sendiri. Luka, kenangan, menjadi hal yang perlu dilepaskan. Toh, aku tak pernah mengkalkulasikan itu. Jika aku merasa ‘senang’ dan semcam ruang-ruang jiwaku terisi, ku kira cukup. Dan tak perlu untuk melebih-lebihkan luka. Namun memang mencari obat tak hanya berhenti pada fisik yang nampak yahud saja, namun pencarian obat adalah pencarian diri.

Lalu, apa hubunganku dengan bp2m?

Aku memaknai bahwa hubunganku dengan bp2m seperti ‘ruang antara’. Aku dan dia, ‘ada’ melampaui ruang dan waktu. Aku diperhubungkan melalui jiwa dunia, kalau kata Coelho di Sang Alkemis. Aku tak pernah tahu, akan dipertemukan dengannya. Namun, aku pernah bersamanya secara fisik 4,5 tahun. Pun, untuk ke depan aku akan benar-benar hilang darinya. Tapi, jiwaku akan selalu bertaut dengan jiwanya. Bahwa setiap apapun yang diciptakan Gusti selalu mempunyai jiwa. Kadang, aku merasa ada hal di luar nalarku, dan mempertanyakannya berulang-ulang, dan semesta lah yang menggerakkan itu semua. Jika, aku merasa letih, aku hanya perlu untuk memejamkan mata dan menghirup napas yang panjang. Kemudian, aku mesti menapaki lagi. Begitu, mengapa jiwaku ditautkan pada jiwa senja, sebab aku paham bahwa senja hadir begitu cepat. Namun, untuk bisa menatapnya dengan tegak aku perlu menguatkan diri. Padahal, telah menunggu di sepanjang hari.

Senja selalu mengingatkan akan perjalanan yang panjang. Aku dan bp2m tak perlu menjelaskan apapun. Tentang apa yang ku rasa dan apa yang bp2m rasa. Pun, menuntut akan luka-lukaku. Aku sudah melepaskannya. Aku akan senantiasa merekam senyum. Tak pernah berhenti dan lelah. Aku dan bp2m adalah sebuah proses perjalanan. Jiwaku sudah terpaut pada jiwanya. Entah jiwanya? Aku cukup senang, bp2m akan selalu dihidupi jiwa-jiwa manusia. Maka, hari-hari belakang aku menguatkan diri untuk tidak hadir atau mengurangi intensitas sebab ada kerapuhan dalam diri untuk sekadar menyapa atau menatap. Aku benar tak sanggup. Barangkali ini yang dianamakan kerinduan. Aku tak ingin membayar rindu seperti Eka Kurniawan harus dibayar lunass. Aku memilih untuk tak membayar rindu lewat apapun. Aku benar-benar tak ingin.


Apa hal yang membuatku hidup, sebab kawan dan manusia-manusia lain yang terhubung dengan bp2m?

Ini juga jawaban sulit. Ya, aku mendapat teman dari berbagai perspektif di bp2m. Juga, tak hanya sekadar teman, namun secara personal aku tertarik mempelajari personal-personal. Sulit bagiku untuk mendeskripsikan kawan di bp2m. Sebenarnya, pendeskripsianku dengan bp2m di atas, juga tak lepas dari pertautan jiwa antar kawan. Ya, kawan berproses. Itu semua adalah pandangan subjektifku. Ada ruang-ruang penghubung yang digerakkan semesta.

Kalau kata temanku, bp2m bukanlah epilog. Kami masih melintas di tanda-tanda semesta. Perjalanan ini hanyalah perjalanan untuk memaknai tresna juga mencari kedirian hingga menuju Gusti.

Dewi Maghfi | Merput | 20 Mei 2015