Jumat, 02 Oktober 2015

Pulau yang Sunyi

Gambar diambil dari telusurindonesia.com
Di hadapanku ada seorang yang baru datang kira sepuluh menit yang lalu. Sebelumnya aku dengan seorang teman membincangkan topik ‘selamat’. Ah, entah sebab apa kupingku macam ngeri mendengar kata itu. Kami pernah ngobrol pada suatu malam yang tak begitu panjang, namun berkualitas. Aku yang tertarik memahami orang, sejak itu ketertarikanku kian meningkat untuk memperhatikan siapa pun. sebab, dari situ aku paham diri. Hampir, aku memahami banyak hal dari luar diri. Aku mengaca di sekeliling. Entah, ini suatu hal baik/tidak baik, yang tidak mengakui kedirian atau tidak menjadi diri sendiri sungguh lah aku tak tahu. Bagiku tak masalah dinilai ‘tak menjadi diri sendiri’ atau apalah. Sebab, aku menemu diriku pada diri yang lain. Bagiku terlalu susah dan sakit untuk melulu memahami diri sendiri pada diri ini. Aku hanya ingin bertemu banyak orang dan menampung ‘sampah-sampah’ nya. Toh, rasanya pas sekali sewaktu aku membuat permainan haha-hihi ketika up-grading bp2m 2015, ‘aku adalah tong sampah’ tulisnya di selembar kertas merah muda. Permainan itu menulis tentang apapun yang dipikirkan, dimasukkan kotak, lalu mengambilnya secara acak. Tak ada interpretasi. Dibaca, didengarkan, selesai.  

Rasa-rasanya pas saja. Semesta ini bergerak atas kehendak-Nya. Belakangan memang aku lebih menjalani perjalanan ini dengan intuisi saja. Aku itu seorang yang bebal. Seorang yang sakit namun berlagak sehat. Seperti jembatan kayu gantung yang nampak naas, tapi anak-anak yang memakai seragam sd masih menggelayutinya (fokus media, selalu pada anak-anak yang berani/terpaksa menyebrang demi cita-cita. Tapi, bagaimana orang berpikir untuk meneliti jenis kayunya yang bertahan puluhan tahun? Berapa tahun kayu tersebut ditanam? penyebrang generasi pertama mempergunakan untuk penyambung perut atau peningkat gubug? Sayang, yang di sana hanya berpikir “kasih anggaran untuk dibuat jembatan beton yang jika bernasib baik akan awet pula.”

Apalah kata-kata yang pantas untukku. Tapi, aku akan tetap mendengar. Aku sadari aku sebenarnya bukan seorang yang berani bicara. Cuma aku berlatih untuk berbicara secara berani sebab suatu kondisi yang mendesak ‘sendi-sendi’ keberanian itu. Aku resapi, aku ngeri dengan diri sendiri. Berapa orang yang pernah sakit hati dengan mulut ini, berapa orang yang melihat mata ini saja tidak berani, berapa kali tangan ini menggebrak meja, berapa kali mulut ini mengumpat, siapa saja yang langkahnya luluh-lantah sebab atas mulut ini, dan berapa kali keinginan untuk menonjok tapi berujung derai air mata. Ah….
Orang di depanku sekarang terbaring. Kami tidak melakukan obrolan sepatah kata pun. Aku memang seperti ini, tak bisa mengawali obrolan di kala melihat muka lawan yang sengeri itu. Aku punya anggapan bahwa, bicara bukan hanya lewat kata. Aku memahami kegelisahannya, dan cukup. Masing-masing butuh ruang penjernihan pikiran. Ia memilih tidur dan aku masih ngetik. Pembaca pasti akan terkecoh dengan pertanyaan ‘who’ bukannya ‘why’. Sebab, menyintas jalan memang praktis dan mudah. Yakni menjawab siapa yang hanya sepotong, daripada memahami mengapa yang membutuhkan narasi. 

Ada seorang kawan yang mengirimkan tulisan tentang pulau di seberang pulau yang sunyi tanpa kehidupan manusia. Saat ini aku terbawa dalam tulisan tersebut. Aku sedang di pulau yang sunyi, pulau bp2m. Sering sekali, menikmati pulau ini sendiri, dulu. Sayang, lagi lagi aku tak berani berlayar jauh. Atau memang tak mampu. Sebab, aku hanya punya perahu kertas. Satu-satunya kerajinan kertas yang bisa ku buat, ‘perahu-perahuan’. Gampang, sederhana, dan bayanganku hanyalah seorang gadis kecil yang sedang memegangi perahu kertas tersebut di pinggir laut menunggu senja. Ia hanya akan mengirimkan senyum kecilnya tanpa pernah ingin menghanyutkan perahunya. Naas, Aylan Kurdi ditemukan tak bernyawa di bibir laut! Bagaimana tidak, pandangan gadis kecil tersebut teraduk-aduk! Ah…

Lukisan Dewi Candraningrum Pemred Jurnal Perempuan
Bisa dikatakan aku memang terdampar di pulau yang sunyi ini. Apa-apa yang tak pernah mampir secuil pun di benak ini sebelumnya. Semua benar-benar baru dan tak bisa dihindari. Tentang terdampar, selalu menghadapkan pada yang nikmat dan lara. Betapa bersyukurnya, bahwa kenikmatan tak butuh (si)apapun hadir dan tergenggam. Namun, jika ‘fuad’ (lebih dalam dari qalbu dalam bukunya A. Chodjim Membangun Surga) merasa sunyi dan benar harus berpulang pada yang hakikat (semoga jika apa yang saya rasakan benar). Memahami perjalanan selalu menawan dan unik. Juga ingatan kengerian di tikungan.

Sementara lara, bahwa aku kembali di pulau ini dan mungkin bisa saja yang terakhir. Kelaraan bukan benar-benar hadir dari luar diri. Sampai saat ini, belum ada lara yang selara-laranya hadir dari pulau sunyi ini. Hanya, lara itu datang dari dalam diri. Dulu, sesekali menusuki dan menyanyat. Belakangan hadir dua kali lipat bahkan dilumuri garam. Lara itu datang dari dalam diri. Ini yang membuat susah untuk mencari penyembuh. Maka, seringkali diri ini membentangkan jurang, jarak, dan jangkauan agar sedikit mengobati secara sadar dan otomatis. Saya paham bahwa, jika maksud baik akan tersampai serupa walau harus melewati yang melelahkan. Pulau sunyi ini telah mengajariku banyak hal. Walau ia benda mati, toh mampu menggerakkan diri untuk berlelah-lelah yang menyenangkan.

Mungkin, aku saja yang hanya mengharu-biru? Atau yang lain juga? Atau malah tidak ngeh? Atau justru menyayat-nyayat? Sesungguhnya jika ingin berjujur pada diri, aku memang mengharu-biru yang objektif. Jadi, nikmat dan lara memang menyatu. Jika ada pertanyaan pada si(apa) aku cinta? “Hanya satu selain bagian dari jiwaku (ibuk), yakni pulau yang sunyi ini.” Betapa, aku benar merasakan cinta (jika benar ini ‘isqh’ seperti yang dikatakan Rumi). Tentu standar cinta satu dengan yang lainnya beda. Dan standarku mungkin ‘gitu-gitu’ aja. Jika ada yang bilang bahwa jatuh cinta itu hanya orang yang jatuh cinta saja yang mampu merasakannya. Aku pun mengamini, ‘hanya aku yang bisa merasakan ini dan membuatku gilak’. Apa aku bodoh cinta yang bukan pada sesosok makhluk, manusia misalnnya?

Saat ini, pemahamanku cinta ya ‘nikmat dan lara’ itu. Jadi, fokusku memang pada yang ‘nikmat dan lara’. Dan pulau sunyi ini adalah penghubung, ruang antara. Boleh jadi, aku tidak berada pada titik yang sama, namun aku-ia bisa meresapi yang nikmat dan lara tersebut. Apa aku perlu menanyakan apa ia meresapi hal yang sama? Tentu tidak! Sekali lagi kata hanyalah lumuran garam pada sayatan. Saat ini saja, ia telah bisa membuatku untuk duduk, diam, tenang dalam mengetik, senyum kecil, sesekali mengumpat, ruang yang kacau balau (paling males liat kek gini! Bagiku barang harus tertata rapi), tumpah ruah linangan air yang berjam-jam (membayangkan aja susah! Tapi kog bisa? Setelahnya bahkan berlanjut berjam-jam lagi).

Foto diambil dari indonesiamengajar.org
Hanya pada pulau sunyi ini, aku yakin membicarakan cinta. Belum pernah sekali pun benar memahami cinta selain ini. Aku gila? Memang! Aku lebay? Anak sekarang menyebutnya iya! Perjalanan memang lucu dan tak bisa ditebak, bisa jadi pengakuan ini akan runtuh beberapa waktu ke depan saat dihadapkan pada hal baru. Namun, aku ingin jujur (hal yang susah ku selesaikan pada diri) aku cinta! Pada jiwa-jiwa yang satu akan paham dan meresap bagaimana gaungnya. Bagaimana ngilunya. Dan keinginanya untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju yang hakikat. Inilah kenikmatlaraanku! Jawaban atas banyak hal yang mampir pada diri! Semoga, semoga tidak berlebihan dan belajar dalam takaran yang pas!


Dewi Maghfi | 03 Oktober 2015 | 01:05

Tidak ada komentar: