Selasa, 11 Maret 2014

Di Sirandu, Kau Bunuh Aku



Gang sirandu begitu terkenal. Aku berangan untuk menjelajah. Sementara waktu sangat singkat. Jabat tangan serta senyuman saling aku kamu lemparkan. Aku sudah jauh-jauh hari merencanakan akan mengunjungi gang sirandu. Gang yang kata orang-orang di luar sana, kebenaran diagungkan di atas segalanya. Ketika itu, aku sendiri, kau pun sendiri. 

Gang pembantaian ini kata orang tak jarang penuh ceceran darah. Penggalan-penggalan kepala bergeletak. Kepala yang tak mampu mengimbangi sudah tentulah keos. Anehnya, orang-orang meronta untuk tetap berada di sana. Menggantungkan takdir di sana. Bahwa, Tuhan tak akan mengubah takdir, jika diri tak mengubahnya. Sepelik apapun kondisinya masih banyak orang yang setia mengelap tembok atau sekadar menumpang leyeh-leyeh. Aku heran, barang di luar sana gang-gang begitu sepi. Orang-orang mulai melirik gang sebelah yang membumbung hedonisme. Atau sudah muak dengan apa yang telah dipertahankannya selama bertahun-tahun. Walau setiap gang kini dibuat bak hotel berbintang. Segala fasilitas terpenuhi. Namun sayang, genderang tak dipukul sekeras dulu. Lebih-lebih jauh lebih keras.

Aku hanya punya waktu 8 menit untuk berada di gang sirandu. Untuk bertatap muka denganmu. Dengan waktu sekejap itu, aku ingin menelusuri jejak-jejak pembantaian. Delapan memang angka yang sempurna. Titik-titik saling terhubung sehingga membentuk dua bulatan yang seimbang. Saling menyangga.

Delapan menit itu, aku bayangkan lima tahun silam ketika ku berlabuh di Mataram. Gunung tertinggi di Indonesia yang menjadi impianku. Gunugng Rinjani. Aku berkelana menyusur jalan bebatu. Entah apa yang ku mahu aku tak tahu. Namun, jalanku sudah berpuluh-puluh kilometer. Setiap ada persimpangan, hatiku selalu gundah. Kuikuti saja apa yang diinginkan kakiku. Kususur jalan-jalan buntu, pohon-pohon saling tumbang, ditambah pula angin yang menerkamku. Sejenak kubaringkan punggung di rumput, ada sesosok lelaki yang menaruh air mineral di sampingku. Lantas ia pergi. Menjelma menjadi daun-daun teh. Ku kejar ke sana ke mari, kuberteriak sekencang-kencangnya, tak pula ia muncul. 

Entah, aku sendiri pun bingung dengan perjalanan ini. Namun, aku selalu mendamba bercengkerama langsung dengan alam. Aku yang bisa menumpahkan apapun pada pohon, rerumputan, air mengalir, batu-batu, bahkan semut. Ke manapun langkahku aku selalu teringat lelaki berperawakan kekar sedikit gemuk. Rambut lurus mengkilau. 

“Mb, mampir dulu ke gubug yang kami buat ini,” kata Parjo. Ia seorang teman yang baru aku kenal di perjalanan ini. ia menawariku sebuah tempat peristirahatan, lengkap dengan berbagai makanan ringan yang ia bawa. Ia bersama dua rekannya memang gemar untuk melancong. Separuh hidupnya ia habiskan untuk mengenal apa itu Indonesia. Negeri yang berlimpah panorama. Negeri yang memberikan sejuta kesaksian hidup, dan Negeri yang membuat Parjo kembali ingin menemukan seorang permaisuri. 

“Oh iya, bolehkah aku memejamkan mata sejenak, di gubug ini?, ujarku dengan nafas terengah-engah.
“silakan.”
“Terima kasih,” ujarku sembari membuka serambi gubug.

Mereka yang di luar gubug terdengar berbincang-bincang dengan sura lirih. Aku pun turut berbincang dengannya. Paijo, berulang-ulang kali memandangiku. Aku dan mereka bercerita tentang apa yang menjadi pengalaman masing-masing. Pilu, cerita dari mereka. Paijo khususnya. Kulit sawo matangnya mengkilap ketika tersorot sengatan matahari. Sorotan matanya begitu tajam memandangiku, seolah ia masuk ke dalam bola mataku. Aku tak tega. Sebaliknya ketika aku bercerita, mereka diam. Hanya hembusan angin yang terkadang menyapu rambut Paijo. Tak lama, Paijo mengajakku mengunjungi danau segara anak. Biru air telaga serta gemericik air terjun mengumbara aku dan ia untuk saling bercerita. Cerita soal aku dan Ia. Namun, aku takut ketika Paijo sudah mulai menyorot mataku. Sempat, Paijo akan mengatakan sesuatu padaku. Namun tak kesampaian. Aku yang berada di dalam gubug, terbangun karena suara raungan harimau. Aku sudah delapan puluh jam terlelap di gubug ini. 

Kukaitkan tali-tali sepatu, kemudian berpamitan dengan mereka. Sejuta terima kasih kusampaikan.
“jika kau rindu, ke marilah pada tanggal dan bulan yang sama – 8 Agustus- di setiap tahun kelipatan delapan dari tahun ini,” ujar Paijo padaku.
“Baiklah, jika aku rindu.”

Kubergegas menyusur kembali jalan. Kali ini jalan penuh lumut. Aku tak bisa berjalan sekencang kemarin. Sesekali ku terpeleset dan bangun. Jalanku sudah bertambah kilometernya. Setiap ada persimpangan hatiku selalu gundah. Kuikuti saja apa yang diinginkan kakiku. Kususur jalan-jalan buntu, pohon-pohon saling tumbang, ditambah pula angin yang menerkamku. Sejenak kubaringkan punggung di rumput, ada sesosok lelaki yang menaruh air mineral di sampingku. Lantas ia pergi. Menjelma menjadi daun-daun. Ku kejar ke sana ke mari, kuberteriak sekencang-kencangnya, tak pula ia muncul. 

Lagi-lagi lelaki itu muncul membawa air mineral. Dengan botol yang sama dan diisi air yang tak penuh. Kuteguk hingga air menjadi setengah. Kusimpan botol itu pada tasku. Kucari botol kemarin yang ia berikan pula padaku. Namun, sudah raib. Tak ada di dalam tas. 

Lima puluh meter di depan pandanganku, Sepertinya  ada Sandi. Ia teman akrabku. Aku sudah mengenalnya hampir satu tahun ini. telekomunikasi kami cukup lewat handpone. Kami tak pernah bertemu sebelumnya. Baru kali ini, aku melihatnya langsung. Memandangi mukanya di jarak lima puluh meter. Menerawang warna baju yang ia pake. Hitam, warna yang ia sukai. Di jarak lima meter aku menyapanya. 

“San, Sandi. . . .”
Ia memandangku, mengingat-ngingatku. Aku, sibuk menjelaskan apa yang pernah kita bicarakan tempo hari. Ia tersenyum, dan sesekali menimpali. Sama, ia selalu menjadi orang yang memulai pembicaraan. Tak pernah kehabisan tema untuk kita bahas. Asyik, ia memang.

      “Ima, sedang apakah kau ke mari?” ujar Sandi padaku.
      “Aku tak tahu apa yang aku cari di sini.Aku menuruti langkah kakiku.”
      “Cukup. Kita obrolkan yang lain,” ujarnya. 

      Ia mengajakku bernostalgia, menyoal kegilaan kita. Tiada hari untuk saling ejek. Dari orang yang oon, telmi, kuru, sampai si manis. Kala itu merupakan kesempatan yang bagus untuk kami saling meluapkan semuanya. Aku tak banyak bicara. Ia yang terus mengajakku tertawa ria. Melupakan semua keluh. Hanya alam, aku, dan ia. 

      Pelan-pelan, ia mengulur tali untuk di kaitkan di bebatuan. Ia ingin menyebrangi gunung di sebelahnya. Oke, aku membantunya. Saat ia sudah sampai berteriaklah ia padaku. 

“Sekarang, giliranmu. Pegang tali erat-erat,”ucapnya.
Aku tak mau, karena ada bayangan laki-laki yang sudah dua kali memberiku air mineral. Kukejar ia. Ia terus berlari kencang. Tak sering aku harus jatuh dan sobek lututku tersandung batu. Bangkit, berdiri, dan mengejarnya kembali.

Aku penasaran. Siapa Ia? Manusia yang telah mengusikku berpuluh-puluh hari. Kemudian ia terengah-engah duduk di batu besar di bawah pohon beringin. Kudekati dengan langkah yang pelan dan lirih. Ia terus memandang telaga biru di depannya. Ia tak melihat aku. Dari jarak lima meter ia berteriak. 

“Bangunlah, aku hanya sebuah imajinasi yang selalu kau pikirkan. Aku tak pernah ada. Aku tak mengenalmu.aku tak pernah memberimu air mineral. Aku pula tak pernah mengusik hidupmu.”
“Tidak, kau bohong. Aku seperti ini karenamu. Aku hampir selalu memikirkanmu. Kau telah mengusikku,”jeritku dengan kucuran air yang keluar dari mata.
“Bangunlah sayang, tatap indah dunimu. Ini hanya ruang imajinasi. Imajinasi bisa terwujud bisa saja tidak. Jangan kau selalu berharap nyata dari apa yang kau imajinasikan.”
“Baik, aku akan melupakan kamu dan air mineralmu. Namun, siapa namamu?”
“Aku, aku, . . .”
“Siapa?”

      Lantas kau hilang. Menjelma menjadi angin yang memudar. Meninggalkan hawa segar di bawah pohon beringin itu. Langit sontak mendung, air mengguyur seluruh tubuhku, juga telaga yang ada di depanku semakin penuh. MU, dua huruf yang terukir di atas danau itu.

      Di gang sirandu, aku menghabiskan delapan menit. Kau Imajinasi, telah membunuhku.
                       

Tidak ada komentar: