Senin, 10 Maret 2014

Lingkaran Imajinasi



2 Oktober 2013
Suara hening menyambut pagi kali ini. di atas Komputer ini kumulai merangkai huruf-huruf yang semestinya sudah berceceran. Ya, mengulas sebuah cerita. Mengenang suatu peristiwa. Walau dalam memulainya pun harus aku mulai darimana, semakin timbul pertanyaan. 

      “Kau yakin tidak, bahwa pertemuan itu tak harus secara fisik?” ujarku pada Felix.
      “Maksudnya?”
      “Iya, bahwa mimpi-mimpimu, imajinasimu, tentulah sering mempertemukanmu pada ide-ide liar, cara-cara jitu, atau bahkan sosok yang sudah atau tidak kamu kenal.”
      “Untuk bertemu sosok, aku yakini harus bertatap muka. Kurang afdol jika tidak.”
      “Lhoh, bagaimana kau mengelak. Akun facebookmu tiga, akun twittermu dua, belum lagi email, bbm, dll. Apa semua temen di medsosmu sudah pernah bertatap muka denganmu?”
Felix sontak diam. Mulutnya disumpal rapat-rapat. Tak ada satu huruf pun yang keluar.
      ***

      Di atas meja coklat, kumulai mengocok kartu remi. Aku tak sepandai mereka yang lihai memainkan kartu. Aku baru pemula. Perjanjian permainan kali ini, bagi yang kalah tiga kali berturut-turut harus bercerita apapun tentang dirinya.
      Ada satu pembelajaran penting dalam permainan kali ini. Tarmin –Bandar remi senior, agaknya ingin mengajak siapapun berbicara. Ia mahasiswa hukum, selalu ia menekankan bahwa setiap insan mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat. Apa gunu mulut jika tak digunkan untuk bersuara. Barang, ada kekeliruan itu hal yang sangat wajar. Asal, tak ada maksud mencelakai siapapun dalam berucap.
      “Yo, ada yang berani tidak? ‘King’,” ujar Tarmin.
      “Berani to ya. ‘As’,” timpal Aziz.
Dalam lingkaran cengkrama, gelak tawa tak henti-hentinya mengocok isi perut. Bahasa-bahasa mulai mengalir dari mulut ke mulut. Uteke, lambenem, fuck, masyaallah, innalillah, dll.
      Tarmin yang sangat piawai memainkan kartu, agaknya tergopoh-gopoh dengan tiga pemain pemula. Aku, Santox, dan Ganbaret. Aku mengenal dua rekan ini, baru tadi di masjid. Ia sangat tertarik dengan arsitektur masjid kuno tersebut. Tangan kanan Ganbaret memegang kamera, sementara tangan kirinya mengarahkan gaya Santox.
      “Rada mepet tembok dikit. Mundur,” ujar Ganbaret pada Santox sembari menggerak-gerakkan tangan kirinya.
      “Mb, saya minta tolong difotoin berdua ya?” ucapnya padaku.
      “Oh. Oke.”
      Setelah jeprat-jepret, aku mengajak mereka untuk bertanjang di gubug kami. Gubug yang tak lebih terbuat dari susunan batu bata. Kata orang megah. Namun, apa gunanya kemegahan jika tak ada orang yang menganggap bahwa diri sendiri itu juga megah. Di lingkaran itu kami menyusup. Kami turut mengambil bagian. 

3 Oktober 2013
      Satu dua kali, aku menang. Melibas para pemain senior. Tawaku terbahak, agaknya telah menampar diri sendiri. Dalam pertaruhan permainan ketigaku, aku keos. Kalah telak. Sontak, gemetar. Aku khawatir aku harus bercerita apa. aku orang yang susah untuk bercerita, tentang apapun, menyoal susah atau senang. Biasanya aku hanya diam dan merenung. Bahkan kepada keluarga pun aku tak bisa mengungkapkan semua cerita. Bagiku, ada hal-hal yang bisa aku ceritakan ada hal yang tak bisa aku ceritakan. Termasuk bercerita untuk diri sendiri pun terkadang sulit. Karena aku kalah, giliranku untuk bercerita. Aku bercerita tentang seorang temanku, Zuhdan namanya. Aku lupa kapan pertama kali aku mengenalnya. 
      Kami sering kontak, saling memberi informasi. Tak jarang kami mengobrolkan hal-hal yang tak penting. Walaupun tak sering, namun komunikasi kami terbilang continue. Terkadang aku menjadi pemecah suasana, terkadang pula aku malas untuk membalas pesannya ketika sedang tak mood.
      Aku sendiri terheran-heran. Aku hampir tidak bertatap muka satu tahun lamanya. Aku hanya tahu dia lewat medsosnya. Yang terkadang ia memasang gambar narsisnya. Sudah. Itu.
      Suatu ketika aku pernah membincangkan ini, “Eh, kita kog lucu ya. Nda pernah ketemu, namun sering komunikasi. Haha,” ujarku.
      “Yah, suatu saat nanti, kalau sudah tepat waktunya, ya bakal ketemu. Hehe,” jawabnya.
      Aku merasa bahwa Zuhdan teman baruku. Namun, ia teman lamaku. Aku merasa sudah lama mengenalnya. Entah di mana, ketemu dimana, pokonya ia teman lamaku. Kali ini, aku merasa bahwa teman imajinasi itu nyata. Walaupun belum pernah bertemu. Bahwa teman itu bukan menyoal seberapa sering kita bertemu, seberapa sering kita bermain bersama. Namun, aku mencoba mengembalikan sebagaimana mestinya fungsi teman.
      Jadi, ketika belakangan aku bertemu secara tatap muka langsung,tak ada yang aku herankan. Aku seperti sudah pernah bertemu dan ngobrol dengannya. Aku pun merasa bahwa kita tak ada sekat. Sebelum dan sesudah bertemu pun masih sama. Tak ada komunikasi yang terputus atau komunikasi yang berlebihan. Aku mengartikan pertemanan seperti ini adalah pertemanan yang sederhana. Yang tak menuntut kau harus membela aku ketika aku lemah atau sebaliknya. Teman tentulah sudah sangat peka terhadap apa yang dialami karibnya. Tanpa harus diminta. Itu ada padanya.
      Akhir ceritaku, Zuhdan, kau teman yang sederhana. Yang sudah aku imajinasikan di masa lampau, yang sekarang pun masih dalam imajinasi.
***

4 Oktober 2013
      Alunan musik terdengar lirih. Syair-syairnya begitu sahdu. Tidak lain Peterpan yang sekarang Noah. Sudah kucoba untuk tak memutarnya barang sehari, namun rindu. Begitulah kerinduan yang selalu melanda. Lagu yang sederhana. Namun, membuatku rindu. Jatuh bangunnyalah yang membuatku salut.
      “Hai, kau sudah berapa lama duduk di sini?” ujar Ima padaku.
      “Aku... aku...”
      “Bangun dan bergegaslah pulang. Hujan akan turun. Sementara kapal akan berlabuh 8 menit lagi.”
      Imajinasi bisa terwujud menjadi kenyataan. Kenyataan menuntut sebuah imajinasi. Lingkaran imajinasi dan kenyataan menjadi dualisme untuk perkembangan sebuah peradaban.
     

Tidak ada komentar: