Minggu, 07 Februari 2016

Penjual Jamu Mengejar Mimpi



“Ibu…. Saya bertemu lagi orang Jawa. Macam mane ceritanye?” tutur Ibu Suliyatun sembari menjabat tangan dan memeluk saya. Suara ibu Suli mengingatkan pada Yu Sri, seorang penjual jamu di desa saya. Suaranya halus, pelan, cemengkling.  

“Nak gini Bu..….” tiba-tiba Bu Suli menimpali. “Wah Bu, cerita perjalananku lan Mas Toyo ki abot.” Bu Suli saat ini mengajar di SD Pian Tengah. Dia mulai merantau ke Natuna dari Ngawi tahun 2000. Kala itu, ia dan Mas Toyo masih hangat-hangatnya pengantin baru. Ia mengatakan mencari kerja di desa susah. Namun, ia tak mau merantau ke kota besar. Walhasillah ia ke Natuna sebab diajak seorang teman dengan meninggalkan putra wayangnya pada nenek. Baru, saat putranya kelas 1 sekolah menengah pertama, ia memboyong putranya ke Natuna. 

Bu suli sebelum berangkat ke Natuna, ia telah mengikuti kursus membuat jamu dan kursus bahasa inggris. Ia memang berencana akan berjualan jamu di tanah perantauan. Agar jamu tak asal-asalan ia melakukan kursus. Sementara Mas Toyo berjualan penthol di sekolah-sekolah. Bu Suli mempunyai cita-cita menjadi sekretaris sejak sebelum menikah. Namun, akhirnya pada 2003 ia masuk universitas terbuka mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar. Baru pada 2007 ia lulus kuliah. Setelah llulus kuliah, ia pun tak langsung dapat melakukan wiyata di sekolah. Beberapa sekolah menolak karena, latar belakang Ibu Suli seorang penjual jamu. “Bagaimana ye Bu, macem mana kate orang nanti?” tutur seorang kepala sekolah pada Bu Suli. 

Janji Tuhan man jadda wa jadda, siapa yang berssungguh-sungguh pasti akan mendapat apa yang diimpikaan. Bu suli tak putus asa untuk mendaftar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Akhirnya pada 2008 ia mendapat panggilan mengajar bahasa inggris. Di luar waktu mengajar, ibu suli berjualan jamu. Bangun pukul 03.00 pagi untuk membuat penthol bersama suaminya. Pukul 07.00 suaminya sudah berangkat dengan mendorong gerobak. Sementara Bu Suli berangkat mengajar. Setiba di rumah pukul 12.30, Ibu Suli langsung membuat jamu untuk dijual. Pukul 14.30 hingga 20.00 ia berjualan keliling dengan menggunakan onthel. Sepulang menjual jamu, ia baru dapat bertemu kembali dengan suaminya. Rutinitas itu dilakukan bertahun-tahun lamanya. 

Pada 2014, ia diterima menjadi calon pegawai negeri setelah enam kali mengikuti tes. Ibu Suli selalu mengatakan kalau mencari uang hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan dan sehari-hari saja, ia lebih nyaman hidup di Ngawi. Namun, ia ingin masa depan anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik. Maka itu, ia memulai dari dirinya sendiri. Ia memulai dengan mencerdaskan diri dulu, walau dengan payah. “Mari berbuat untuk anak-anak kite, anak-anak Indonesia,” ujar Ibu Suli yang kemudian mengajak saya ke sebuah warung khas jajanan Natuna. Lempeng namanya, pulut yang dibubuhi ikan tongkol dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dibakar. Wau…. Betapa nikmatnya. 

Dewi Maghfi | 13 Januari 2016

Tidak ada komentar: