Tampilkan postingan dengan label Cerping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerping. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

Jurnalku Temanku




Siswa kelas V SD 004 Pian Tengah berjumlah 8 siswa. Mereka Rifky, Ade, Puput, Erni, Hambali, Arif, Zar, dan Amil. 3 orang perempuan dan 5 orang laki-laki. Mereka saling membaur satu dengan yang lainnya. Saat bermain atau pun di kelas, tidak ada yang saling udur-uduran peran laki-laki dan perempuan. Zar misalnya ia akan dengan sigap memimpin doa. Puput juga akan siap menghapus papan tulis. Sementara siswa laki-lakinya akan bekerjasama dengan siswa lainnya setiap hari menyapu kelas. 

Saat melakukan praktik pengalaman mengajar dulu di sebuah SD di Purwakarta, saya hampir kebingungan saat ingin membagi kelompok entah bermain atau eksperimen. Sebab antara siswa laki-laki dan perempuan tidak mau dicampur. Begitu pula saat ingin mengganti posisi duduk dan tata letak kelas. Mereka semacam membuat kubu. Namun, sekarang hal yang menarik yakni anak-anakku sangat luwes. 

Suatu ketika, saya melihat siswa saya murung. Tidak seperti biasanya yang lincah. Namun, antar saya dan dia seolah ada tembok. Saat saya menerangkan, ia sering bermain sendiri entah mencorat-coret buku, menjahili teman, atau membaca buku. Intinya dia tidak memperhatikan saya. Tidak seperti anak yang lain yang cerewet bertanya ini-itu. Saat saya mengingatkan untuk kembali fokus pada pelajaran, dari raut mukanya justru semakin menunjukkan ketidak senangannya. Kadang saya jengkel, namun saya simpan saja. Saya ingin mengetahui diri masing-masing anak saya. 

Jurnal harian. Ya, ini adalah semacam catatan harian yang ditulis berdasar refleksi keseharian. Atau cerita-cerita konyol bahkan menyedihkan. Dua tahun terakhir, saya sempatkan untuk menulis catatan harian yang dalam satu buku. Walau tak setiap hari juga diisi. Kalau dulu, menulis di sembarang lembaran. Namun, saya sadar butuh satu buku tersendiri untuk menjadi teman. Dari situ, saya mencoba menawarkan pada anak-anak untuk membuat jurnal harian. Mereka tertarik untuk membuatnya. “Iye Bu, saye nak suka. Tapi, kawan lain nak boleh melihat. Cuma ibu seorang yang boleh,” kesepakatan anak-anak. 

Saya tidak membebankan pada mereka buku baru. Atau macam buku diari yang lawa (lawa : bagus). Mereka datang ke sekolah tepat waktu dan membawa buku pelajaran saja sudah satu kesyukuran bagiku. Saya hanya menghimbau untuk membawa satu buku yang masih ada lembar kosong. Bisa buku sisa di kelas sebelumnya, atau yang tak terpakai. Walhasil, jurnal mereka jadi lawa. Mereka sulap sampul buku yang sebelumnya penuh coretan dan lipat-lipatan menjadi gambar yang menarik dilihat. 

Dari situ saya melihat perasaan anak saya. Puput misalnya menulis ingin sekali punya teman bercerita dan yang bisa diajak berpuisi bersama. Sementara Zar, ia menuliskan sangat sayang keluarga. Ia ingin membuat bangga orang tua. Ia juga sangat senang jika di sekolah bisa bermain-main. Sebab, kalau di rumah tidak ada waktu untuk bermain.

Dewi Maghfi, 29 Januari 2016

Sarapan Tambol




Satu diantara perempuan yang menjadi idolaku adalah Mimak. Kala isuk jemun (pagi betul), Mimak telah bangun dan menyiapkan sarapan. Belum pernah sekalipun, saya tidak menjumpai sarapan di meja pagi hari. Entah apapun lauknya, nomer wahid ada nasi. Fiqih soal hukum sarapan di rumah kami adalah wajib! Tidak ada toleransi bagi siapapun tidak sarapan. Saya tak pernah berani untuk tidak sarapan. Walau sebenarnya kadang tidak suka dengan lauknya, mau tidak mau harus makan. Makan juga kadang sambil mecucu. Namun, karena budaya di rumah telah menjadi kolaborasi dari budaya tulen dan budaya tambahan, mimak mulai mempertimbangkan hak asasi manusia, pilihan.

Kami di rumah (anak-anak), hilir mudik mulai mencicipi hidup di kota tetangga. Yang mana anak kos, sarapan adalah hukumnya mubah. Sebatas diperbolehkan, tidak dimulyakan tidak juga dilarang. Awalnya saya berpegang teguh pada hukum sunnah. Artinya jika sarapan berarti dimulyakan. Namun, itu tak bertahan lama. Saya menggeser menjadi mubah. Jika ada waktu, eh ada uang, eh tidak bangun kesiangan, eh tidak ada kelas pagi, eh eh yang lain ya sarapan. Jika tidak ya tidak apa lah. 

Campuran budaya itu yang membuat rindu pada Mimak. Belakangan, Mimak mulai membuat kelonggaran atas pertimbangan banyak hal. “Dimakan atau tidak, yang penting saya  tetap konsisten menyiapkan sarapan tiap pagi,” keluhnya. Tentu, bukanlah karena Mimak sudah mulai bosan. Ia adalah orang yang memberi contoh dari sekadar petuah.  Iya ya, saya sadar. Ada satu alasan rindu yang khas dari Mimak. Saya tidak pernah datang terlambat ke sekolah gegara soal sarapan. Mimak adalah nomor wahid soal urusan di pagi hari sebelum kami meninggalkan rumah. Maka, saya pun memegah teguh soal mindset sarapan. Kata Mimak, harus ada makanan yang masuk ke perut di pagi hari. Perut tidak boleh kosong saat beraktivitas. Kalau dulu, kami diwajibkan sarapan nasi. Namun, mimak kian memahami bahwa ada makanan lain yang bisa digunakan untuk mengganjal perut di pagi hari. 

Sejak ngekos, saya cenderung mengupayakan sarapan dari tidak. Bedanya dengan di rumah adalah soal waktunya. Kalau di rumah, sarapan paling lambat adalah pukul setengah tujuh. Saat kos, mulai menoleransi bisa pukul delapan, Sembilan, bahkan sepuluh. Nah, sekarang ini di Natuna hidup dengan orangtua yang berasal dari Jawa (Jogja), mamakku mengupayakan sarapan. Di desa Pian Tengah, sarapan nasi tidak wajar. Para mamak-mamak akan membeli tambol (kue-kue beraneka macam yang selalu khas dengan ikan tongkol). Ada namanya kue tinju, lampar, pulut janda, kue batu, kernas, dll. Biasanya anak-anak sekolah sd-smp, pagi-pagi akan bersliweran di jalanan untuk menjajakan tambol-tambolnya sebelum ke sekolah. 

Pukul 06.15 saya sudah siap mengenakan seragam ngajar. Dilla (siswa sd kelas 6), kadang datang membawa bakulnya ke rumah. “Buk, nak kue tinju ndok?” tuturnya. Sekembalinya, dia berjalan berlari ke rumah-rumah lainnya. Pukul 06.50 saya mulai berjalan dari rumah dengan jarak menuju sekolah kira 200 meter. Di jalan, kadang menjumpai anak yang berlari-lari dengan handuk dan jariknya. Juga menjumpai anak yang memakai celana dalam sedang mengguyurkan air ke badannya dengan kegirangan. Biasanya ia menyapa “Ibuuuuuk………”Ada juga yang merengek meminta uang jajan lebih. Juga Mamak yang nampak memegang kuat tangan anaknya sembari mengguyurkan air dan mantra-mantra yang tiada ujung titiknya. 

Bel masuk sekolah dihidupkan pukul 07.30. Ruangan yang berada di dalam ruangan kantor kadang gemboknya masih berbentuk ‘n’ kaki dua (lagu untuk anak kelas 1 sd dalam mengingat abjad). Saat melewati kelas-kelas menuju kelas lima, kadang ada satu-dua meja yang kosong. Juga meja yang berada di barisan paling depan tak luput. Kelas berlangsung lima belas menit, “Buk, maaf ye terlambat. Nunggu sarapan matang.” Bukankah, ini semua harus dimulai selayaknya ketulusan Mimak yang senantiasa menyiapkan sarapan di pagi hari? Kalau saya, belajar dari sarapan ketulusan Mimak juga mantra-mantra minimalisnya. Mari…… 

Ranai, 6 Februari 2016

Lima Buah Kue Kernas


Saya sedang menumbuk cabai, bawang, kunyit. Sementara mamak mulai menata kayu-kayu kering di tungku masak. Pawon kalau kata orang jawa. Masyarakat pian hampir semua masak dengan kayu bakar. Juga menggunakan kompor minyak tanah, namun terbatas jatah minyaknya. Setiap kepala keluarga dapat jatah minyak tanah 8 liter dengan harga 30 ribu setiap bulannya. Sementara mamak-mamak biasanya ke hutan untuk mencari kayu bakar. 

Para mamak yang ke hutan untuk mencari kayu bakar atau daun-daunan untuk dimasak menggunakan tunjung. Tunjang yakni sebuah anyaman bambu yang berbentuk balok dengan digendong dan sobekan tali sarung yang diikatkan di kepala. Mamak ini, biasanya memakai baju dan celana lengan panjang. Kadang ada yang bersepatu juga. Oh iya, kepala para mamak ini diikat kain ala-ala orang melayu agar saat menggendong beban tidak berat dan sakit kepala. 

Mamak-mamak berangkat sekitar pukul 7 pagi. Sementara pulang di jam yang tak tentu. Mamak tak pernah membiarkan tunjang kosong. Apapun yang ada dan bisa dimanfaatkan akan mamak ambil. Di desa kami, hampir tiap hari makan ikan laut segar. Namun, jangan harap jika saat musim angin kencang dan badai, bisa sampai satu bulan tak makan ikan. Sungguh, sayur dan telur di sini adalah makanan kemewahan bagi kami. Selain harganya yang bisa 3 kali lipat dari harga di Jawa, barangnya pun tak ada setiap hari. “Orang melayu malas untuk bercocok tanam, Mbak. Lebih suka membeli,” tutur bapak hostfam. Pemasok sayur terbesar dari daerah Batubi. Sementara batubi adalah daerah transmigran yang kebanyakan orang Jawa yang ada. Orang Jawa di sini terkenal ulet, tak mau diem dan terus memutar otak untuk bekerja. Itu pun yang bilang orang-orang sini. Sayur Batubi lalu dijual ke kota kecamatan Bunguran Barat dengan jarak tempuh naik pompong satu setengah jam. Sementara desaku dengan desa batubi mesti menempuh jalan darat sekitar 2 jam.

Di desa Pian Tengah ada nama kue khas daerah sini. Atau kue khas Natuna. Kue tersebut dibuat dari ikan tongkol. Para penduduk sini, kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Berangkat malam hari dengan menggunakan pompong untuk ke laut lepas, dan pulang dini hari. Pagi-pagi sekali pukul 05.30, mamak-mamak sudah melakukan tawar menawar untuk membeli hasil tangkapan nelayan. Ikan yang didapat lebih sering tongkol. Satu ikan tongkol dihargai dari 5-15 ribu. Mamak saya bisa membawa pulang 2-3 ekor ikan. Hamper tiap hari, kami makan ikan. Entah yang dikuah, diasap, disantan, disambal goreng caabe rawit, disambel goreng cabe kering, dicampur sayur-mayur keladi dan macamnya yang katanya sayur, digoreng kering, dan mungkin akan beraneka macam lagi selama setahun ke depan. Untuk membuat kernas, tongkol yang sudah direbus lalu dihancurkan halus. Tulang dan daging dipisahkan. Dan yang digunakan hanya dagingnya saja. Setelah daging siap, lalu dicampur dengan butiran sagu yang sudah dikukus. Campuran sagu dan daging tongkol halus dibuat bulatan-bulatan kecil. Setelah digoreng setengah kering. Makan kernas lebih nikmat dengan dicocol sambal pedas manis. Betapa makanan seharga seribu itu yang sekali gigit habis, melewati jalan panjang dari tangan mamak-mamak dan bapaknya untuk mencari ke laut lepas. Sungguh!

Lupa tanggal. Haha.

Minggu, 07 Februari 2016

Penjual Jamu Mengejar Mimpi



“Ibu…. Saya bertemu lagi orang Jawa. Macam mane ceritanye?” tutur Ibu Suliyatun sembari menjabat tangan dan memeluk saya. Suara ibu Suli mengingatkan pada Yu Sri, seorang penjual jamu di desa saya. Suaranya halus, pelan, cemengkling.  

“Nak gini Bu..….” tiba-tiba Bu Suli menimpali. “Wah Bu, cerita perjalananku lan Mas Toyo ki abot.” Bu Suli saat ini mengajar di SD Pian Tengah. Dia mulai merantau ke Natuna dari Ngawi tahun 2000. Kala itu, ia dan Mas Toyo masih hangat-hangatnya pengantin baru. Ia mengatakan mencari kerja di desa susah. Namun, ia tak mau merantau ke kota besar. Walhasillah ia ke Natuna sebab diajak seorang teman dengan meninggalkan putra wayangnya pada nenek. Baru, saat putranya kelas 1 sekolah menengah pertama, ia memboyong putranya ke Natuna. 

Bu suli sebelum berangkat ke Natuna, ia telah mengikuti kursus membuat jamu dan kursus bahasa inggris. Ia memang berencana akan berjualan jamu di tanah perantauan. Agar jamu tak asal-asalan ia melakukan kursus. Sementara Mas Toyo berjualan penthol di sekolah-sekolah. Bu Suli mempunyai cita-cita menjadi sekretaris sejak sebelum menikah. Namun, akhirnya pada 2003 ia masuk universitas terbuka mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar. Baru pada 2007 ia lulus kuliah. Setelah llulus kuliah, ia pun tak langsung dapat melakukan wiyata di sekolah. Beberapa sekolah menolak karena, latar belakang Ibu Suli seorang penjual jamu. “Bagaimana ye Bu, macem mana kate orang nanti?” tutur seorang kepala sekolah pada Bu Suli. 

Janji Tuhan man jadda wa jadda, siapa yang berssungguh-sungguh pasti akan mendapat apa yang diimpikaan. Bu suli tak putus asa untuk mendaftar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Akhirnya pada 2008 ia mendapat panggilan mengajar bahasa inggris. Di luar waktu mengajar, ibu suli berjualan jamu. Bangun pukul 03.00 pagi untuk membuat penthol bersama suaminya. Pukul 07.00 suaminya sudah berangkat dengan mendorong gerobak. Sementara Bu Suli berangkat mengajar. Setiba di rumah pukul 12.30, Ibu Suli langsung membuat jamu untuk dijual. Pukul 14.30 hingga 20.00 ia berjualan keliling dengan menggunakan onthel. Sepulang menjual jamu, ia baru dapat bertemu kembali dengan suaminya. Rutinitas itu dilakukan bertahun-tahun lamanya. 

Pada 2014, ia diterima menjadi calon pegawai negeri setelah enam kali mengikuti tes. Ibu Suli selalu mengatakan kalau mencari uang hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan dan sehari-hari saja, ia lebih nyaman hidup di Ngawi. Namun, ia ingin masa depan anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik. Maka itu, ia memulai dari dirinya sendiri. Ia memulai dengan mencerdaskan diri dulu, walau dengan payah. “Mari berbuat untuk anak-anak kite, anak-anak Indonesia,” ujar Ibu Suli yang kemudian mengajak saya ke sebuah warung khas jajanan Natuna. Lempeng namanya, pulut yang dibubuhi ikan tongkol dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dibakar. Wau…. Betapa nikmatnya. 

Dewi Maghfi | 13 Januari 2016

Penjual Jamu Mengejar Mimpi



“Ibu…. Saya bertemu lagi orang Jawa. Macam mane ceritanye?” tutur Ibu Suliyatun sembari menjabat tangan dan memeluk saya. Suara ibu Suli mengingatkan pada Yu Sri, seorang penjual jamu di desa saya. Suaranya halus, pelan, cemengkling.  

“Nak gini Bu..….” tiba-tiba Bu Suli menimpali. “Wah Bu, cerita perjalananku lan Mas Toyo ki abot.” Bu Suli saat ini mengajar di SD Pian Tengah. Dia mulai merantau ke Natuna dari Ngawi tahun 2000. Kala itu, ia dan Mas Toyo masih hangat-hangatnya pengantin baru. Ia mengatakan mencari kerja di desa susah. Namun, ia tak mau merantau ke kota besar. Walhasillah ia ke Natuna sebab diajak seorang teman dengan meninggalkan putra wayangnya pada nenek. Baru, saat putranya kelas 1 sekolah menengah pertama, ia memboyong putranya ke Natuna. 

Bu suli sebelum berangkat ke Natuna, ia telah mengikuti kursus membuat jamu dan kursus bahasa inggris. Ia memang berencana akan berjualan jamu di tanah perantauan. Agar jamu tak asal-asalan ia melakukan kursus. Sementara Mas Toyo berjualan penthol di sekolah-sekolah. Bu Suli mempunyai cita-cita menjadi sekretaris sejak sebelum menikah. Namun, akhirnya pada 2003 ia masuk universitas terbuka mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar. Baru pada 2007 ia lulus kuliah. Setelah llulus kuliah, ia pun tak langsung dapat melakukan wiyata di sekolah. Beberapa sekolah menolak karena, latar belakang Ibu Suli seorang penjual jamu. “Bagaimana ye Bu, macem mana kate orang nanti?” tutur seorang kepala sekolah pada Bu Suli. 

Janji Tuhan man jadda wa jadda, siapa yang berssungguh-sungguh pasti akan mendapat apa yang diimpikaan. Bu suli tak putus asa untuk mendaftar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Akhirnya pada 2008 ia mendapat panggilan mengajar bahasa inggris. Di luar waktu mengajar, ibu suli berjualan jamu. Bangun pukul 03.00 pagi untuk membuat penthol bersama suaminya. Pukul 07.00 suaminya sudah berangkat dengan mendorong gerobak. Sementara Bu Suli berangkat mengajar. Setiba di rumah pukul 12.30, Ibu Suli langsung membuat jamu untuk dijual. Pukul 14.30 hingga 20.00 ia berjualan keliling dengan menggunakan onthel. Sepulang menjual jamu, ia baru dapat bertemu kembali dengan suaminya. Rutinitas itu dilakukan bertahun-tahun lamanya. 

Pada 2014, ia diterima menjadi calon pegawai negeri setelah enam kali mengikuti tes. Ibu Suli selalu mengatakan kalau mencari uang hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan dan sehari-hari saja, ia lebih nyaman hidup di Ngawi. Namun, ia ingin masa depan anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik. Maka itu, ia memulai dari dirinya sendiri. Ia memulai dengan mencerdaskan diri dulu, walau dengan payah. “Mari berbuat untuk anak-anak kite, anak-anak Indonesia,” ujar Ibu Suli yang kemudian mengajak saya ke sebuah warung khas jajanan Natuna. Lempeng namanya, pulut yang dibubuhi ikan tongkol dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dibakar. Wau…. Betapa nikmatnya. 

Dewi Maghfi | 13 Januari 2016

Berlayar ke Sedanau


Pak Tukidi, Bapak angkatku

Pernahkah anda merasakan bahwa kematian itu berasa dekat? 

Siang tadi, saya berlayar dari pulau sedanau ke desa Pian Tengah. Pulau sedanau ini adalah kota kecamatan. Yang mana, di pulau ini ada pasar yang lumayan besar buat kami orang-orang desa. Hampir tiap rumah berjualan. Dari toko sembako, kosmetik, makanan, elektronik, pancing, peralatan sekolah, hingga pelelangan ikan. Namun, jangan bayangkan macam pasar swalayan gedhe. Pasar ini, macam pasar tradisional kita di jawa. Namun, sungguhlah pasar ini menjadi kemewahan buat kami di desa. 

Saya ke sedanau untuk berkunjung ke uptd, kantor kecamatan, koramil, puskesmas, dan polsek. Sebab, Indonesia mengajar baru tahun pertama di Natuna, jadi kami bertugas babat alas. Berkunjung kemanapun dan mengulang-ngulang ‘what is Indonesia Mengajar?”. Entah dalam kondisi malas berbicara, mual-mual, kepanasan, harus tetap mampu memperkenalkan maksud kedatangan kami. Ada yang merespon baik, ada juga yang mengawali dengan kata ‘maaf’. Kalau sudah mengucap kata tersebut, untuk selanjutnya harus siap tetap melebarkan senyum walau hati kecut. Macam, “maaf gaji anda berapa? Gedhe dong? Jaminan pegawai ya? Lha itu kan pendirinya uda jadi Menteri, jaminan dong? Dapet dari pemda berapa?”

Biasanya kalau begitu, saya menunggu semua asumsinya keluar, baru membuka pertanyaan. “Kira, kalau yayasan itu negeri apa non-negeri?” dan lainnya. Namun, ada yang membuat hati ini merekah. Ada gadis muda pegawai perpustakaan kecamatan yang antusias menyambut saya yang mengenakan rompi Indonesia mengajar. “Ih, Mbak Dewi dari Indonesia Mengajar. Gimana-gimana ceritaya Mbak, saya sudah lho baca bukunya jilid 1-4 (Hah, emang ada 4? Setahuku…. Krik krik dalam hati.) lucu-lucu ya, ada yang bla bla bla. Mbak, bukunya ya dari pengajar muda ini.”

Saking seringnya bertemu orang dan mengenalkan Indonesia Mengajar, entah karena nglothok di luar kepala atau bingungnya, harus mencari tikungan-tikungan yang beda untuk tiap lawan bicara. Kadang berasa krik krik, menggebu-gebu karena lawan asyik, datar biasa saja. Hal yang masih membuatku butuh managemen adalah soal harapan perubahan. Padahal, saya sebisa mungkin tak bermaksud mengubah katakanlah kebiasaan lama dengan hal baru. Namun, saya ingin memancing tiap-tiap elemen berpikir soal kebiasaan-kebiasaan tersebut dan mereka yang menilai sendiri. Juga mereka yang menemukan kesadaran-kesadaran baru untuk memperbaikinya. 

Siang tadi, merasa dekat dengan kematian dan pasrah. Saya naik pompong (ada yang mengatakan ketinting). Sebuah perahu kecil yang muat maksimal lima orang. Saat ini di Natuna sedang musim utara, yang mana ombak dan anginnya gedhe. Sejak malam harinya saya menginap di salah satu rumah guru, rumah yang saya tempati beratap esbes dan dinding kayunya ingin melayang-layang. Rumah-rumah panggung yang berdiri di atas pinggiran laut. Bangun-bangun, hidung saya juga mulai berlendir. Karena saya berencana cuma dua hari saja di sedanau, berarti hari ini juga harus balik ke Pian Tengah. Saya dan mamak sudah janjian, bahwa mamak akan belanja ke sedanau dan saya numpang pompong ke Pian. Setelah menghubungi beberapa orang Pian dan tak ada respon, ketar-ketir bagaimana pulangnya tak ada pompong. Mamak mengabari tak jadi belanja karena tak ada pompong yang jalan. Akhirnya ada kabar kalau ada pompong yang jalan ke sedanau, jadi bisa numpang. Maklum, jika nyarter pompong mesti mengeluarkan uang dua ratus ribu. Hhmm, lumayan juga buat saya ini. 

Saya dijemput bapak. Orang-orang rumah ternyata mengkhawatirkanku. Kalau dalam kondisi seperti ini, aku sebenarnya memilih disakiti dan dijahati orang-orang saja daripada begini. Darah berasa berhenti ketika bapak tiba-tiba datang ke rumah Bu Suli. Padahal, Bapak sedang tak enak badan beberapa hari ini. Bapak usianya sudah 65an tahun. Ia juga sering masuk angin. Duh. Mata berkaca-kaca ketika dari jauh melihat baju garis-garis bapak. Yakinkah, bahwa banyak orang baik di luar sana? Jika kebaikan dibalas dengan kebaikan, aku bukan lah orang baik. Tapi, begitu banyak orang baik yang selalu saja hadir di hidupku. Bayangan ini yang sering kali membuat jiwaku berasa lepas juga sekaligus kuat. 

Perjalanan menuju Pian Tengah dari Sedanau satu jam naik pompong. Namun, bagiku seperti seharian. Apalagi daerah teman-teman lain yang lebih lebih lagi? Pemandangannya bagus. Satu-satunya langit yang bersih dan cerah yang pernah saya lihat tiap hari entah siang dan malam adalah di Natuna ini. Saya terheran-heran. Di tiap malam, saya bisa menghubungkan antar bintang menjadi sebuah lukisan indah. Mungkin ini juga tergantung suasana hati. Jadi sesuka-sukaku untuk menebak gambar tersebut. Ada gambar telapak tangan, wajah dengan bibir tersenyum, mata yang berbinar, burung, dll. Begitu juga ketika siang hari, oooo… cantiknya langit Natuna. 

Saya duduk di rumah-rumahan pompong. Sementara siswaku kelas lima anak dari pemilik pompong sesekali membantu ayahnya mengarahkan laju pompong. Namun, karena aku khawatir ku minta duduk saja di dekatku. Bapak duduk di ujung pompong dengan berpegangan di sebuah kayu. Bajunya ditumpas oleh angin ke kanan-kiri, depan-belakang. Sementara pengemudi pompong basah kuyup semua karena hantaman ombak yang masuk ke pompong. Selama di pompong, mulut ini selalu komat-kamit hingga maklap tertidur entah berapa menit. Air mulai masuk ke dalam. Sementara pompong terombang-ambing ke kanan-kiri. Tas ku peluk erat, karena ada laptop. Setengah gelo, kenapa dulu tidak beli dry bag. Sebab, laptop fasilitas kantor, jadi merasa was-was jika kenapa-kenapa. Syukurlah, masih bisa dibuat ngetik catatan ini. Mesin mulai mengeluarkan asap dari besi yang panas terhantam air laut. Banjir sudahlah dalam pompong. Mesin mulai dipelankan, dan pengemudi mengeluarkan air sedikit demi sedikit. Aku kian mual. Kepala pusing. Telinga tak mendengar apa-apa. Penyesalan datang, kenapa aku tak membawa pelampung. Sudahlah yang terjadi terjadi lah. 

Ketika mulai nampak rerimbunan pohon bakau, hati sedikit tenang. Namun, angin tak kunjung juga hadir pelan. Ingin sekali terbang langsung ke darat. Aku memang takut dengan air dengan jumlah banyak. Apalagi ditambah angin. Maka, sudah bertahun-tahun lamanya belajar renang tak bisa-bisa hingga kini. Karena aku belum bisa berdamai dengan diri dan mengatasi ketakutan. Aku sadar, aku tak perlu berani. Hanya saja perlu mengatasi ketakutan. Ya, mengatasi ketakutan dengan memupuk harapan. 

Malam pergantian tahun 2016 ini, beberapa orang desa pergi ke kota kabupaten untuk menyaksikan kembang api. Jarak tempuh desaku dengan kabupaten 72 kilo. Orang-orang rela menempuh jarak tersebut untuk berkerumun dan melihat kembang api yang mungkin hanya setahun sekali. Sementara, malam ini di desa listrik mati karena uang subsidi minyak belum cair. Aku memilih menepi dari kerumunan dan melewati pergantian malam ini dengan menulis catatan kecil ini sembari menunggu ditelpon kawan. Tapi PHP! Di sini hanya bisa pakai kartu telkomsel. Sementara membeli pulsa adalah perjuangan. Kadang aku merasa sepi nyit-nyit dan ingin diberi tahu informasi di luar sana. Haha. 

31 Desember 2015 | 11:05 PM

Selasa, 19 Januari 2016

Setahun yang Bukan Semusim



“Tahun baru nanti, jalan-jalan ning Tanjung Pinang yo, Wi?” ujar Pak Tukidi yang saat ini menjadi Bapak angkatku.

Saat itu saye baru tersadar kalau empat hari lagi memasuki tahun baru 2016. Dengan cepat saya menjawab, “Ayo mangkat, Pak.” Baru pada tanggal 1, saye benar-benar tersadar untuk kedua kali kalau hari Jumat itu tahun baru. Rencana kami ke Tanjung Pinang yang akan kami tempuh menggunakan kapal selama enam jam tersebut tidak jadi, sebab gelombang laut sedang tinggi-tingginya. Baru, pada malam harinya saat saya menelpon rekan saya di Semarang, dia mengingatkan saya kalau ini benar bulan Januari. “Saya bertambah usia dong, 6 Januari nanti. Tepat di angka ganjil 23,” batinku. 

Seperti biasa momen pertambahan usia saya, tak ada yang special di hari itu. Kecuali, kejutan-kejutan dari kawan. Saya teringat ketika melewati pertambahan usia di kos Al-Baa’its, rutinitas guyur mengguyur air yang dicampur entah telur, sirup, kopi, selalu tak terlewatkan entah siapa pun yang ulang tahun. Tak pernah ada kekreatifan lain yang kami lakukan selain mengguyurkan air. Tidak hanya mengguyurkan air ke badan si yang sedang ulang tahun, tapi semua harus basah karena kami tetap mengamini jargon jawa mangan ora mangan tetep kumpul. Teles siji, liyane luweh teles gebes. Kejar-kejaran mengelilingi kos, di sudut-sudut tertentu ada petugas jaga, hingga yang pilih aman tak mau ikut-ikutan dan mendukung dari balik pintu kamar. Karena sekat kamar kos kami antar satu dengan yang lainnya masih ada celah, selalu saja ada yang menyiram dari celah tersebut sehingga tak jarang kasur dan barang-barang basah. 

Hhmmm. Tak jarang pasti ada yang ngambek. Karena, si ulang tahun dibiarkan sendiri untuk membersihkan lantai-lantai yang kotor, basah, dan bau. Saya juga pernah ngambek pada kawan-kawan yang usil tersebut. “Ulang tahun mah enak, ada kado. Ini apa, uda diguyur air diminta bersihin lantai pula!” Nah, mengingat momen-momen itu, saye jadi rindu dengan teman-teman somplak. Momen dimarah-marahi Ibu kos karena terlalu ramai. Kalau soal nyanyian-nyanyian nyaring tengah malam bak hantu, biasanya ulah dua manusia tengil, Nita dan Ifa. 

Kepindahan kos pada akhir-akhir semester ternyata memunculkan budaya baru. Kejutan ulang tahun berupa tiup api di pergantian tanggal. Juga kue-kue yang akrab disebut tar. Kami memang hidup dalam nuansa kos yang beda. Namun, aku selalu rindu. Entah kenapa, pergantian usia lebih sering mendapatkan bungkusan buku. “Lalu, berharap ada peri dan peru yang ngirim buku! Apalagi kalau dalam jumlah banyak. Nak dapet ngisi rumah baca baru nak sini. Ayolah siapa berbaik hati di luar sana! Haha.”

Satu tahun ke depan, saye hanya ingin menyelesaikan misi ini, menjadi pengajar muda di Natuna. Sebuah desa yang sebelumnya pernah ada dalam rabaan saya. Dan sekarang rasakno! Haha. Saya benar belojo bermasyarakat dengan orang dan budaya baru. Dengan orang dari beragam suku. Dengan cerita perjalanan perantauan orang-orang pribumi untuk mengubah nasib. Entah nasib mujur atau justru ajur. Namun, itu lah perjalanan hidop ndok isok ditebak. 

Sekembalinya di 2017, saye dapet jumpa lagi dengan kawan-kawan dan menyusun misi baru. Setahun lagi untuk tersadar di angka 24. Bukan hanya semusim untuk melewati bersama. Misi untuk melunasi janji satu per satu dan nak pelon-pelon sojoi (bukan lagunya kotak!). Di sini kadang saya mulai lelah menjawab pertanyaan, “Ibuk, nak sono lah de rang lom? Nak sini bonyok, Buk. Nak sini sajo ye, Buk?” Untung lah bertemu Pak Anis Baswedan sebelum pemberangkatan dulu adalah suatu pencerahan. Soal aturan nomor delapan ‘you may like it, but no falling in love’ dan pandangan hidup. Setahun ke depan, saya juga ingin menjabat tangan Pak Anis lagi dan berucap, “Pak Anis, fansmu bonyok! Janji terlunasi, bagaimana dengan Dek Michael apa sudah lulus dan cukup pantas?” Bhaaaha. 

Dewi Maghfi | 6 Januari 2016

Kedai Mamak


Kedai Mamak
Saya tingge bersame nenek dan atuk di Pian Tengah, Natuna untuk setahun ke depan. Desa Pian Tengah jomloh kepale keluargonye 120. Kalau di desaku 120 KK hanyelah satu rukun tetangga. Keluarge baruku akrab disebut keluarge Pak Tukidi –mantan ketue rt. Aku nyebot orangtua baruku ‘Mamak dan Bapak’. Same seperti nyebot mamak bapak di rumah. 

Mamak di Pian Tengah ini empa tahun lalu dan beso sebelumnya gawe sebagoi penderes getah karet di hutan. Tia hari mamak ke hutan dengan menggendong tunjang (keranjang anyaman yang diikatkan di kepala dengan kain sarung). Sementara bapak kadang ke kebun untuk ngurus pohon petai dan duren. Namun, bapak lebih sering di rumah. Bapak kaye inpormasi. Mamak dan bapak orong jawe yogyakarte yang rantau sejak menikah. Bapak-mamak baro punye anak tujuh tahun setelah menikah. Keduanya perna di Kalimantan hidop dengan suko dayak. Perna pule hidop di Pontianak. 

Desa pian tengah awalnye adalah huten bako (mangrove). Lalu oreng-oreng menumbong pohon-pohon bako untuk dijadikan rumoh. Siape yang numbong, ia berhak atas tanah tersebu. Rumah kami dibuot dari papan. Listrik ade dari panes surye. Mulai nyale dari puko lime sore hingge setengah sebelas male. Mamak punye due kama. Satu, awak tempati. Satu lagi buat tempa menyimpan barang-barang berharge mamak. Mamak dan bapak biase tido di luar. Kamar yang awak tempati, biase ditempati tamo yang dateng. Terakhi sebelum awak tempati, kamar ni nak dibua tidor waki bupati yang baro unto kampanye. 

Mamak punye kedai jualan sembako empa tahun lalu. Modol awel dipinjami lime jute. Kini, kedai mamak menjadi pekerjaan yang menjanjiken bagi mamak. Orong-orong biasa beli sembako dengan ngebon. Baru di awal bulen, mereka membayer. Namon ade juge yang bayer konton. Mamak menaruh barang-barang jualennya awalnye di dalam kama aso. Untuk belanje bareng, ade tige tempa yang biase mamak datangi. Pertama, ke Ranai (orong-orong menyebutnyo Kota di Natuna). Kalau di tempa kite di jawe tepatnyo adaleh daera kecamatan yang sekitarnya bonyok warong-warong. Jarak Pian Tengah ke kota 70 kilo. Bisa ditempuh dengan sepeda moto atau mobil. Di Natuna ndok ade angkutan umum. Orong biase naek sepeda moto sendiri, mobil sendiri, ojek, atau pompong (perahu aso) untuk jalan air. Mamak jarang sekali belanjo ke Ranai. Kecuali, ado anak yang mau ke Ranai dan mamak titip belanjaen. 

Kedue, ke kecamatan sedanau. Kecamaten sedanau ini lebih majo. Di sane ade sinyal internet. Sementara Pian Tengah hanye sinyal sms dan telepon saje. Untuk ke sedanau naik pompon satu setengah jam. Di Natuna ada empa musim. Musim utara, musim selaten, musim timur, musim barat. Seperti kali ini sedang musim utara. Angin dan gelombangnyo kencong. Mamak berkali-kali ingin ke sedanau namun gagal. Mamak mesti menunggu teduh (angin tenang, tak hujan, dan gelombang tak tinggi). Tandanya malam harinya tak hujan, ade bonyok bintang. Sementara paginya langit cerah besih. 

Ketige, belanje ke desa batubi. Desa batubi ini adaleh desa transmigran. Bonyok cine, orong jawe, dan luar Natuna yang bedagang di sono. Batubi ini juga tempa salah satu teman awak dari Indonesia mengajar. Untu ke Batubi bisa ditempuh lewa jalan darat sekitar 2 jam atau nai pompong kurang lebih same 2 jam. Pagi hari di Pian Tengah, panasnye bukan mai. Jam 8 pagi di sini, panosnye seperti jam 11 di jakarte. Kebayang semakin siang, semakin panos. Sementara, malem harinyo di sini dingin. Daerah pian tengah selain di kelilingi laut juge dikelilingi huten lindung. Burung-burung bango bonyok sekali. Juga buaye yang sering datong malem hari memangso hewan ternak wargo. Kata mamak, ayam mamak sering dimakon buaye. 
Kedai mamak tidak leh beso. Namun dapet buot makon sehari dan bangun rumah sediki-sediki, serta untungnyo disimpa. Sekali belanje mamak menghabisken duit sedikinya 5 jute. Itu pun tak dape barong bonyok. Hargo barong-barong di sini mahol. Juge biaye transportasi. “Belanje 5 jute di sini ndok bonyok barong. Kalo di jawe pasti dape bonyok. Namun, Alhamdulillah dengan moda yang sediki ini teru dape mutor. Coba dengan moda yang beso ya? Haha.” 

Hasil untung dari jualan sembako mamak bisa memperbaiki rumah menjadi lebih nyaman. Mamak bisa membeli baju agar ndok compang-camping, mamak bisa makan sederhana yang ndok sesuli sebelumnya, dape membeli mas-masan untuk disimpa atau digadai ketika tak de duit. Orang sini sukunye melayu. Para perempuannya suke berdandan. Suke pulak memakai mas-masan dalam seharinye. Pakek anting beso, kalong panjong, gelang beso-beso, cincin bonyok di jari sudah akrab sehari-harinyo. Itu buka mas palsu. Namun, mas asli. Orang sini ndok ade yang nyimpen uangnyo di bank. Rerata orang punyo duit untuk dibelikan mas-masan. 

Entah ini kebetulan atau ape, mamak mukanyo mirip sekali sama simbok ukin. Mbah yang sangat perhatien sama cucu-cucunye. Kohnu, mamak ini juge perhatien sekali same oreng-oreng. Aku jadi teringat simbok yang selalu nanye “jan-jane kamu kie kapan lulus to, Nduk. Sekolah kog ora rampung-rampung”. Mbah yang menjadi tempa pelarian kala kena marah. Mbah yang selalu menenangken. Mbah yang mengajariku untuk selalu rapi, bersih, dan primpen. Namun, saye ndok pernah ade kala hari-hari akhirnye. Saye yang lebih mengada untuk ‘hal baru yang ciamik’. Saye yang lebih suke mengatakan ‘sibuk’ dari tengok rumah. Namun, toh itu semue bukan tanpa alesan? Setiap perjalanan oreng pasti belajo. Begitu saye, melihat mata mamak, mengingat pula simbok. Masa-masa akhir dengan terapi psikis rutin untuk pemulihan. Bebon yang mungkin menumpuk selame puluhen tahun. Yang tak pernah ia perlihatken pade kite. Simbok yang selalu mengajari, “bagilah makanan terbaikmu unto orang laen.” Mungkin itu lah sediki jawaban mengapa saye berade di sini.  

Soal kedai, saye jadi teringa kedai mamak di kampong yang tergerus banjir. Yang akhirnya memutar otak kreatif mamak untuk belajo keahlian lain. Entah, sudo berapo bonyok keahlian mamak dalam hal beginian. Simbok, Mamak di rumah, Mamak di Pian, dan saye ade dalam lingkaran batin. Entah untuk ape kami dipertemuken. Yang pasti, saye belajo dan memupuk harapon. 

Dewi Maghfi 26-12-2015

AADC

Di bandara Batam
Triller filem ada apa dengan cinta II sudah dirilis. Banyak orang yang menunggu-nunggu. Katanya sih pada penasaran. Tapi, apalah aku. Sumpah kesan pertama kali nonton AADC biasa saja. Yang keren menurutku hanya adegan ketika Dian Sastro memaki Rangga di depan ruang osis. Saat memaki itu, rasanya aku juga ingin menjambak rambut kriwil Nicholas. Sejak saat itu, mindset soal rambut kriwil berubah. Keren, ndaa! ‘Menjadi peran’ memaki dan mengumpat menurutku adalah kepuasan. Maka, aku selalu berada di pihak Dian Sastro. Tak peduli secakep atau penyayang apa Nichola tak penting. Melihat Dian sastro jauh lebih keren. Seorang periang, teguh pendirian, keras kepala, juga pengasih. Dan untuk AADC II, aku tak minat menonton. Jalan ceritanya pasti cenderung pada porsi ‘akhirnya bertemu kembali’. Bayangkan, dalam jarak bertahun-tahun itu, yang mendapat perhatian hanya pada pertemuannya. Padahal mereka melewati waktu itu dengan tegar, pasrah, dan ikhtiar tiada usai. Kalau aku menjadi Dian, memutuskan untuk tak bertemu selamanya. Ada ‘malam terakhir untuk selamanya’. Agar sama-sama berbalik arah untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan nyaman kata orang melayu. Sebab, melihat misi ujung hidup selalu ada hal-hal menarik di luar mengurusi diri sendiri ternyata. 

Kali ini, aku ingin membahas AADC yang lain. Ye, ada apa dengan cincin? Aku sempat terheran-heran ketika dua hari menjelang deployment pengajar muda tetiba santer isu percincinan. Aku aja tak suke pake perhiasan apalagi emas. Entah sejak kapan telingaku ini tak terpasang anting. Yang ku ingat, sejak telingaku memerah dan gatal-gatal gegara pakai anting tindik. Kapok dekok! Isu percincinan itu menyebar dari kaum adam juga hawa. Oh ternyata, biar gak ditanya-tanya lebih lanjut soal teman hidup (kata Tulus) di penempatan karena ada cincin yang terpasang. Bukti penguat. Awalnya, aku juga resah. Sudah memilih-milih cincin ketika sampai di Batam. Namun, hal terbenci adalah ketika saat pilih memilih itu muncul pertanyaan “why?” Akhirnya, aku menepi sejenak untuk menemu jawabannya. Sudah ketemu dan tak perlu beli cincin kataku. Aku antimainstreem soal hal prinsip dan apalagi sekadar imitasi (pura-pura). 

Sejak datang di Natuna sampai hari ini memang dikejutkan dengan pertanyaan sama. Hari pertama saat menelusur pantai di depan hotel bertemu seorang Ibuk, ujungnya “Buk, semoge dape jodo orang sini sehingga ibu ke depan tetap di Natuna.” Saat datang berkunjung ke rumah kepala desa. Ibu desanya menceritakan kisah pertemuannya dengan Pak Desa yang tak pernah disangka. “Buk, siapa tahu. Sudah ada apa belum. Wah, sayang anak masih semester tiga di IPDN. Doaken ye Buk semoge cepa lulus. Eh Buk, kemonakan baru selesai sarjana lho.” Suatu malam memang aku berkeliling untuk jalan ke rumah-rumah sebelah. Bertemulah dengan Bapak Zabir, “Buk, sudah ada apa belum? Pasti sudah ya, Buk?” juga saat diundang kepala sekolah katanya ada pengawas datang. Juga ada sisipan-sisipan, “Buk, sejak pertamo saye jempu ibuk, kawan-kawan tanye laki ato perempuan, dape salam Buk. Mau yang mane Buk?” Selain itu, saye punya keinginan belajar bahasa melayu dengan serius. Saya mencoba untuk cakap dengan bahasa melayu juga saat mengirim pesan pendek. Saat cakap dengan salah satu guru, “Buk, cepa kali dapet basa melayu. Nak cari jodo orang sini pulak?” Hhhmmm. 

Siang tadi, tetiba ada kurcil usia 3 tahun datang. “Buk, ibuk Mamak minta dibantu buat kue”. Karena lagi masak pula, tak kuhiraukan lah dia. “Buk, Ibuk Mas Naga minta ditanyaken. Ibuk sudah punya pacar belum? Nak belum Mas Naga mau Buk.” Lumayan juga sih nih pemuda. Pasti kesan pertama ngobrol kemarin. Oh, ternyata sedari pagi di rumah depan Mamak ini to. Tumben-tumbenan maen sampe sini. Padahal rumahnya jauh dari sini. “Ibuk, nak punya pacar Ferdi. Ibuk berteman saja.” Ku kira akan selesai sampai di situ. Oh, “Buk, Mas Naga cakap katanye kecewa dengan ibuk yang punya teman.” Mamak die nyusul, “Buk, Ferdi bilang ape, tuh Naga di rumah saye Buk. Ferdi jadi makcomblang Buk. Kecil tapi rawit. Gimane Buk?” Ohhhh….. 

Biasanye aku jadi idola bapak-bapak ketika PKL dan KKN. Entah apa yang dilihat bapak-bapak tersebut. Masih baik saja sampai sekarang. Masih suka telpon dan tanyak. Katanya sih karena aku asyik, sopan, keibuan, juga kebapakan. Yalaaaa, itu karena aku saja yang longgar untuk masih menerima panggilan mereka. Soalnya yang lain, entahlah. Begitu juga kali ini, masih hangat-hangatnya, baru, coba aja setelah aku eksotis menjurus pekat, mulai bosan, mulai di sini kadang aku merasa lelah. Beeeeuuh. Tak usah memberi penjelasan soal jodo. Sebab, aku tak tahu pulak. Bantu saya Gusti. “Tapi, bukankeh kite aken disatuken same orong-orong yang dalam satu lingkaran batin? Aok lah, ujungnye ade pada setiap anak. Bukan pada siape beranak. Yuhuuui.”

Dewi Maghfi | 26 Desember 2015

Ditemani Senter, Kami Tetap Membaca


Pit dan Sera membaca cerita
Setiap hari anak-anak berduyun-berduyun ke rumah baca selepas magrib. Datangnya anak-anak selalu diiringi dengan kemeriahan. Entah ada yang menyanyi, tepuk-tepuk tangan, atau saling usil-mengusili teman lain. Rumah baca kami terbuat dari papan kayu. Bentuknya seperti rumah panggung yang bawahnya perairan. Juga di depannya tempat berlabuh pompong atau ketinting. Rumah baca terletak di tengah-tengah pemukiman warga dan persis di sudut perempatan jalan. 

Gerakan kaki setiap orang yang menginjak rumah baca, pasti akan terdengar. Apalagi gerakan anak-anak yang tak hanya melenggang, namun saling tubruk dan bertingkah polah atraktif. Gedebuk.. gedebuk.. Malam itu, Senin (4/1) saya berjalan menuju rumah baca. Dengan menyorotkan senter ke arah depan, saya sembari memanggil nama-nama anak. Tak ada satu pun yang menyahut. Hingga ada satu anak bernama Putri siswa kelas 4 sekolah dasar yang berlari menuju saya. Sesampai di rumah baca, aktivitas pertama kami adalah mengambil buku di rak. Buku tersebut melanjutkan dari bacaan di hari sebelumnya, atau membaca buku baru. 

Aktivitas membaca berlangsung 15 menit sebelum menginjak aktivitas berikutnya. Kegiatan di rumah baca salah satunya yakni membangun gerakan membaca minimal 15 menit sehari. Rumah baca terletak di balai pertemuan yang gedungnya terbuka. Dengan begitu siapapun bisa membaca buku di rumah baca. Sementara pengontrol buku-buku supaya tetap utuh dan rapi adalah kite semua. Kami menerapkan sistem saling mengawasi entah anak kecil, remaja, hingga dewasa. 

10 menit berlangsung, tiba-tiba rumah baca terdengar gemuruh akibat gerakan kaki dan suara sorakan anak. “Maaf Bu, kami terlambat. Kami pikir belajar ditiadakan karena listrik mati,” tutur Angga dengan memegang senter. Listrik di Pian Tengah hidup mulai pukul 18.00 hingga 22.00 wib. Namun, sering pula padam dengan jadwal yang tidak diketahui. Walau listrik padam, kami tetap membaca. 

Dewi Maghfi | 13 Januari 2016

Melunasi Janji Kemerdekaan dengan Membaca


Bahu membahu menata buku
Balai pertemuan Desa Pian Tengah, Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Minggu (2/1) nampak ramai. Anak-anak remaja dan orang tua memilah-milah buku untuk dikategorikan berdasarkan bidang studi. Pagi itu, kami bahu membahu memfungsikan balai pertemuan untuk rumah baca. Ide awalnya, ketika saya pergi ke kantor kelurahan, saya melihat ada buku-buku yang tertata rapi di rak. Buku tersebut sudah ada sejak 2013. Namun, pemanfaatannya belum maksimal. Atas musyawarah perangkat desa, anak remaja, guru, dan masyarakat kami sepakat untuk membuat rumah baca. 

Setiap masyarakat dapat membaca buku kapan pun. Asal tidak dibawa pulang ke rumah. Malam harinya, kami gunakan untuk belajar. Anak-anak sekolah dasar akan mendapat bimbingan dari guru sekolah dasar dan kakak-kakak yang duduk di sekolah menengah pertama dan atas. Sebelum memulai kegiatan belajar, diawali dengan membaca lima belas menit dilanjut masing-masing menceritakan isinya pada rombongan belajar. Rombongan belajar disesuaikan dengan kelas masing-masing. 

Selain belajar mata pelajaran, setiap hari selasa jadwalnya adalah kelas minat dan bakat. Kelas minat dan bakat ini selalu ramai dan anak-anak antusias. Ada kelas puisi yang diasuh Wulan murid kelas tiga sekolah menengah pertama satu atap, kelas tari yang diasuh Ika dan Erna siswa kelas tiga sekolah menengah pertama satu atap, kelas pencak silat yang diasuh oleh Irkham siswa kelas dua sekolah menengah atas, dan kelas mendongeng yang diasuh oleh Ibu Suli dan Ibu Ani guru sekolah dasar 04 Pian Tengah. 

“Bu, saya mau membuka kelas menyanyi, kelas bermain voli, dan kelas memasak selain kelas pencak silat,” tutur Irkham. Irkham ini merupakan anak remaja yang mempunyai banyak minat. Di bidang akademiknya, ia selalu masuk lima besar dalam rombongan belajarnya. “Bu, cita-cita saya dari kecil sampai sekarang hanya satu, ingin jadi guru. Apa bisa, Bu?” tuturnya. 

Kegigihan dalam usaha mengembangakan diri dan mau mengorbankan waktu dan tenaga untuk kepentingan orang lain adalah salah satu kunci melunasi janji kemerdekaan. Setiap masyarakat Indonesia mengemban amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Irkham, anak muda yang bersemangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Peran menjadi guru salah satunya. Irkham, semoga kelak kau menjadi guru yang terus mendidik anak-anak bangsa. 

7 Januari 2016 | Dewi Maghfiroh

#Indonesiamengajar
#PengajarmudaXI
#Natuna

Kurikulum Tuhan


7 kilo masuk ke desa Pian Tengah
Pernahkah diri anda mempertanyakan sesuatu yang jawabannya sulit didefinisikan?
Di kelas training intensif Indonesia Mengajar aku mengenal Bu Weilin Han. Suatu ketika, saya bertanya “Buk, di antara 5 kabupaten penempatan kira yang menurut ibu tantangannya besar?” ia mengatakan kalau jawabannya akan saya temukan sendiri. Soal penempatan pengajar muda memang banyak ekspektasi tak terduga. Teman yang berekspektasi tinggi di suatu wilayah A, bisa jadi ditempatkan di wilayah B. Begitu sebaliknya. 

Kami masih beranggapan semakin jauh tempatnya, maka semakin sangar! Soal ‘jarak’ yang menjadi ekspektasi memang menjadi incaran bagi sebagian orang. Anak muda sekarang bukan dengan sengaja mengincar penderitaan dengan wilayah yang sulit akses, namun, mereka ingin menjajal tantangan baru yang barangkali melebihi ekspektasinya. Aku suka dengan anak-anak muda macam ini. 

Nah, lima hari di Pian Tengah, Bunguran Barat, Natuna, aku menemu jawabannya. Keinginanku untuk melepas apa-apa yang pernah lekat denganku tak dikabulkan juga. Ya, semakin kuat keinginan untuk melupa justru semakin mengada. Tapi, inilah jawabannya. 

Saya pernah berpikir, bagaimana sejatinya manusia dihadirkan di muka bumi ini? Apa Tuhan memberikan porsi katakanlah jika laku dualism (kebaikan dan kejahatan) dihadirkan untuk keseimbangan hidup. Ada orang yang memang berasal dari genetik ‘baik’. Dari laku, sikap, dan tuturnya. Sementara aku membayangkan makhluk lain yakni malaikat. Apa ini orang adalah malaikat yang berupa manusia? Ah. Di sisi lain ada orang yang dari genetiknya, melakukan kekerasan adalah makanan seharinya. Sampai cucu turunannya begitu. Apa ia adalah dari makhluk golongan setan yang berupa manusia? Ah. Ternyata, dualism kebaikan dan keburukan adalah stigma yang berkembang mengikuti tumbuhnya manusia. Orang-orang di luar diri yang justru membuat kategori-kategori baik buruk. Sementara diri terjebak dalam stigma itu. Padahal, semestinya manusia lahir di bumi saya yakin adalah pencarian jiwa kemanusiaannya. Manusia yang pernah punya karier sebagai nabi, rasul, rasul ulul azmi, khulafaur rasidhin. Manusia yang itu sibuk mencari kedirian karier kemanusiaannya.

Saya meyakini bahwa, tiap manusia akan dihadapkan pada lingkaran yang tak jauh beda. Sebut saja lingkaran itu adalah keterikatan hubungan batin. Hubungan yang abstrak, tak nampak, namun kuat. Begini cara kerjanya, katakanlah batin manusia diciptakan saling terhubung dengan satu lainnya sejak di zaman awing-awang. Yang membedakannya adalah lewat orangtua yang beda, pola asuh, lingkungan bermain, hingga cara memandang hidup yang beda. Keterhubungan itu ada sebab manusia diciptakan sebagai makhluk pengasih. Saya yakin tidak ada orang yang semua kontur tubuhnya berasimilasi untuk melakukan kejahatan. Pasti akan ada kebaikan walau sedikit tumbuh di dirinya. Batin adalah cermin ketulusan. Cermin keterhubungan antar satu dengan lainnya. Ketulusan sering disimbolkan dengan hati, nah sekarang saya penasaran apa simbol ketaktulusan? Empedu kah, otak kah, pancreas, mata kah? 

Orang sering menyebut “lihatlah matanya, di sana lah cermin ketulusannya.” Tak ada yang mengatakan “lihatlah matanya, di sana orang nampak kebejatannya.” Saya yakin, tiap orang punya harapan saling kasih-mengasihi. Meyakini potensi walau kecil untuk dikembangkan dari mengorek masalah yang terus tumbuh mekar. 

Dewi Maghfi
Pian Tengah, Natuna