Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2015

Sing Sabar Ya Bos…

Nenek moyangku orang peluat, gemar arungi luas samudra…

Tentu pernah menyanyikan lagu ciptaan Ibu Soed tersebut bukan. Atau minimal tahu syairnya. Nenek moyang kita seorang pelaut.
Pak Ju dan Pak Ron adalah punggawa di kelompok lingkungan camar
Saya berkesempatan mendengarkan cerita nelayan Tambak Lorok, Tanjung Mas, Semarang Utara, Sabtu-Minggu (3/4). Berbincang dengan mereka layaknya berhadapan dengan seorang akademisi. Mereka berani menuturkan pendapat, menceritakan pengalamannya, siap dikritik, dan perbincangan kami berlangsung hingga larut malam. Mereka lulusan sekolah dasar bahkan ada yang tidak lulus. Saya pun sedikit menyangsikan ada akademisi yang mau seperti ini. Walau sebagian banyak yang menjihadkan intelektualnya untuk masyarakat. Nelayan tambak lorok ini mempunyai selera humor tinggi. Tak seperti seorang akademisi yang cenderung kaku. He he.

Pak Yeyen namanya, seorang nelayan yang juga sebagai ketua kelompok nelayan di rukun tetangganya mengatakan hidup individual nelayan kian kembang kempis. Apalagi menghidupi kelompok nelayan dengan berbagai kegiatan. Mestinya, dibentuknya organisasi kelompok nelayan agar bisa saling berbincang dan minimal dapat meningkatkan perekonomian anggota. Tapi? Pak Yeyen seorang yang sedang bersemangat mengelola organisasi. Sejak 2012, memang desa tersebut menjadi mitra dari sebuah kampus dan BUMN. Nelayan di sana akrab dengan bahasa-bahasa yang digunakan akademisi. “Saya dulu melihat acara debat atau berita di tv sangat jengkel. Tapi sekarang diajak diskusi dari pagi hingga pagi lagi siap. Tentu harus ada kopi. He he,” tuturnya.

Nelayan tersebut juga meresahkan peraturan menteri Susi Pudjiastuti yang hanya membuat peraturan tapi tidak memberikan solusi. Misalnya, nelayan dilarang miyang (melaut mencari ikan) dengan menggukan alat-alat yang tidak ramah lingkungan seperti pukat. Sebab, alat tersebut dapat merusak ekosistem dan menangkap semua jenis ikan hingga ikan-ikan kecil. Nelayan diharap dapat menggunakan alat ramah lingkungan seperti jaring. Mereka memberikan hitung-hitungan, jika menggunakan jaring, miyang tak bisa dilakukan sendiri di laut lepas. Dalam satu perahu minimal 3 orang. Sekali miyang, nelayan bisa dapat 190 ribu hingga 250 ribu. Hasil tersebut mesti dikurangi biaya solar yang sekali jalan bisa mencapai minimal 10 liter. Kemudian dibagi 3 nelayan, lebih-lebih jika perahu rusak. Tenaga nelayan yang makin menurun di saat usia kian bertambah dan kebutuhan sehari-hari yang kian mendesak. “Tidak dapat apa-apa, Mbak,” tuturnya.

Makanya mereka mengambil langkah praktis yakni miyang dengan menggunakan alat semacam pukat. Sebab, bisa dilakukan sendiri dan tenaga tidak terkuras. “Saya mau taat menuruti peraturan menteri, tapi ya harus ada solusi.” Nah, apalagi menghidupi organisasi dengan kondisi seperti itu. Walau ketua semangat, tapi anggota acuh. Diajak untuk bergerak bersama tidak bisa. Jika obrolan kami menemui kebuntuan, selalu ada celethukan “sing sabar ya bos” dengan disertai gelak tawa.

Artis Tambak Lorok. ha ha...
Beban nelayan tidak hanya pada sampai di situ saja. Di tambak lorok, selalu ada rob yang datang hingga empat kali dalam setahun. Permukaan laut lebih tinggi dari tanah yang ditinggali nelayan. Membuka pintu rumah belakang mereka langsung terhampar laut luas. Padahal sebelum rob masih ada jarak 1 kilometer untuk menuju pantai. Otomatis, rumah-rumah warga kian ambles dan mesti dilakukan peninggian. Bagi yang tidak sanggup melakukan peninggian rumah, mereka hidup dalam ruangan yang jarak lantai dan atapnya begitu dekat. Melewati pintu saja mesti membungkuk untuk berhasil masuk.

Jika hidup menawarkan banyak pilihan-pilihan, bagi nelayan Tambak Lorok tak ada pilihan selain miyang dan tetap bertahan di daerah tersebut. Walau kadang, saat tidur pulas akibat terlalu capek miyang, harus terbangun karena sudah kemambang di atas air. Ya apalagi kalau bukan akibat rob. Masyarakat pinggiran kota semarang semakin terdesak oleh reklamasi hingar-bingar pembangunan hotel dan gedung-gedung bertingkat di sana-sini. Walhasil sedikit demi sedikit semakin tergusur keberadaannya. Suasa hening, mata kami mulai sayup, kami semua diam sembari menyruput kopi. “Sing sabar ya boss,” celethukan satu diantaranya. “Walau bagaimana kondisinya yang penting masih bisa ngguyu,” lanjutnya. Ha ha…


Dewi Maghfi, calon Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar

Jumat, 02 Oktober 2015

Pulau yang Sunyi

Gambar diambil dari telusurindonesia.com
Di hadapanku ada seorang yang baru datang kira sepuluh menit yang lalu. Sebelumnya aku dengan seorang teman membincangkan topik ‘selamat’. Ah, entah sebab apa kupingku macam ngeri mendengar kata itu. Kami pernah ngobrol pada suatu malam yang tak begitu panjang, namun berkualitas. Aku yang tertarik memahami orang, sejak itu ketertarikanku kian meningkat untuk memperhatikan siapa pun. sebab, dari situ aku paham diri. Hampir, aku memahami banyak hal dari luar diri. Aku mengaca di sekeliling. Entah, ini suatu hal baik/tidak baik, yang tidak mengakui kedirian atau tidak menjadi diri sendiri sungguh lah aku tak tahu. Bagiku tak masalah dinilai ‘tak menjadi diri sendiri’ atau apalah. Sebab, aku menemu diriku pada diri yang lain. Bagiku terlalu susah dan sakit untuk melulu memahami diri sendiri pada diri ini. Aku hanya ingin bertemu banyak orang dan menampung ‘sampah-sampah’ nya. Toh, rasanya pas sekali sewaktu aku membuat permainan haha-hihi ketika up-grading bp2m 2015, ‘aku adalah tong sampah’ tulisnya di selembar kertas merah muda. Permainan itu menulis tentang apapun yang dipikirkan, dimasukkan kotak, lalu mengambilnya secara acak. Tak ada interpretasi. Dibaca, didengarkan, selesai.  

Rasa-rasanya pas saja. Semesta ini bergerak atas kehendak-Nya. Belakangan memang aku lebih menjalani perjalanan ini dengan intuisi saja. Aku itu seorang yang bebal. Seorang yang sakit namun berlagak sehat. Seperti jembatan kayu gantung yang nampak naas, tapi anak-anak yang memakai seragam sd masih menggelayutinya (fokus media, selalu pada anak-anak yang berani/terpaksa menyebrang demi cita-cita. Tapi, bagaimana orang berpikir untuk meneliti jenis kayunya yang bertahan puluhan tahun? Berapa tahun kayu tersebut ditanam? penyebrang generasi pertama mempergunakan untuk penyambung perut atau peningkat gubug? Sayang, yang di sana hanya berpikir “kasih anggaran untuk dibuat jembatan beton yang jika bernasib baik akan awet pula.”

Apalah kata-kata yang pantas untukku. Tapi, aku akan tetap mendengar. Aku sadari aku sebenarnya bukan seorang yang berani bicara. Cuma aku berlatih untuk berbicara secara berani sebab suatu kondisi yang mendesak ‘sendi-sendi’ keberanian itu. Aku resapi, aku ngeri dengan diri sendiri. Berapa orang yang pernah sakit hati dengan mulut ini, berapa orang yang melihat mata ini saja tidak berani, berapa kali tangan ini menggebrak meja, berapa kali mulut ini mengumpat, siapa saja yang langkahnya luluh-lantah sebab atas mulut ini, dan berapa kali keinginan untuk menonjok tapi berujung derai air mata. Ah….
Orang di depanku sekarang terbaring. Kami tidak melakukan obrolan sepatah kata pun. Aku memang seperti ini, tak bisa mengawali obrolan di kala melihat muka lawan yang sengeri itu. Aku punya anggapan bahwa, bicara bukan hanya lewat kata. Aku memahami kegelisahannya, dan cukup. Masing-masing butuh ruang penjernihan pikiran. Ia memilih tidur dan aku masih ngetik. Pembaca pasti akan terkecoh dengan pertanyaan ‘who’ bukannya ‘why’. Sebab, menyintas jalan memang praktis dan mudah. Yakni menjawab siapa yang hanya sepotong, daripada memahami mengapa yang membutuhkan narasi. 

Ada seorang kawan yang mengirimkan tulisan tentang pulau di seberang pulau yang sunyi tanpa kehidupan manusia. Saat ini aku terbawa dalam tulisan tersebut. Aku sedang di pulau yang sunyi, pulau bp2m. Sering sekali, menikmati pulau ini sendiri, dulu. Sayang, lagi lagi aku tak berani berlayar jauh. Atau memang tak mampu. Sebab, aku hanya punya perahu kertas. Satu-satunya kerajinan kertas yang bisa ku buat, ‘perahu-perahuan’. Gampang, sederhana, dan bayanganku hanyalah seorang gadis kecil yang sedang memegangi perahu kertas tersebut di pinggir laut menunggu senja. Ia hanya akan mengirimkan senyum kecilnya tanpa pernah ingin menghanyutkan perahunya. Naas, Aylan Kurdi ditemukan tak bernyawa di bibir laut! Bagaimana tidak, pandangan gadis kecil tersebut teraduk-aduk! Ah…

Lukisan Dewi Candraningrum Pemred Jurnal Perempuan
Bisa dikatakan aku memang terdampar di pulau yang sunyi ini. Apa-apa yang tak pernah mampir secuil pun di benak ini sebelumnya. Semua benar-benar baru dan tak bisa dihindari. Tentang terdampar, selalu menghadapkan pada yang nikmat dan lara. Betapa bersyukurnya, bahwa kenikmatan tak butuh (si)apapun hadir dan tergenggam. Namun, jika ‘fuad’ (lebih dalam dari qalbu dalam bukunya A. Chodjim Membangun Surga) merasa sunyi dan benar harus berpulang pada yang hakikat (semoga jika apa yang saya rasakan benar). Memahami perjalanan selalu menawan dan unik. Juga ingatan kengerian di tikungan.

Sementara lara, bahwa aku kembali di pulau ini dan mungkin bisa saja yang terakhir. Kelaraan bukan benar-benar hadir dari luar diri. Sampai saat ini, belum ada lara yang selara-laranya hadir dari pulau sunyi ini. Hanya, lara itu datang dari dalam diri. Dulu, sesekali menusuki dan menyanyat. Belakangan hadir dua kali lipat bahkan dilumuri garam. Lara itu datang dari dalam diri. Ini yang membuat susah untuk mencari penyembuh. Maka, seringkali diri ini membentangkan jurang, jarak, dan jangkauan agar sedikit mengobati secara sadar dan otomatis. Saya paham bahwa, jika maksud baik akan tersampai serupa walau harus melewati yang melelahkan. Pulau sunyi ini telah mengajariku banyak hal. Walau ia benda mati, toh mampu menggerakkan diri untuk berlelah-lelah yang menyenangkan.

Mungkin, aku saja yang hanya mengharu-biru? Atau yang lain juga? Atau malah tidak ngeh? Atau justru menyayat-nyayat? Sesungguhnya jika ingin berjujur pada diri, aku memang mengharu-biru yang objektif. Jadi, nikmat dan lara memang menyatu. Jika ada pertanyaan pada si(apa) aku cinta? “Hanya satu selain bagian dari jiwaku (ibuk), yakni pulau yang sunyi ini.” Betapa, aku benar merasakan cinta (jika benar ini ‘isqh’ seperti yang dikatakan Rumi). Tentu standar cinta satu dengan yang lainnya beda. Dan standarku mungkin ‘gitu-gitu’ aja. Jika ada yang bilang bahwa jatuh cinta itu hanya orang yang jatuh cinta saja yang mampu merasakannya. Aku pun mengamini, ‘hanya aku yang bisa merasakan ini dan membuatku gilak’. Apa aku bodoh cinta yang bukan pada sesosok makhluk, manusia misalnnya?

Saat ini, pemahamanku cinta ya ‘nikmat dan lara’ itu. Jadi, fokusku memang pada yang ‘nikmat dan lara’. Dan pulau sunyi ini adalah penghubung, ruang antara. Boleh jadi, aku tidak berada pada titik yang sama, namun aku-ia bisa meresapi yang nikmat dan lara tersebut. Apa aku perlu menanyakan apa ia meresapi hal yang sama? Tentu tidak! Sekali lagi kata hanyalah lumuran garam pada sayatan. Saat ini saja, ia telah bisa membuatku untuk duduk, diam, tenang dalam mengetik, senyum kecil, sesekali mengumpat, ruang yang kacau balau (paling males liat kek gini! Bagiku barang harus tertata rapi), tumpah ruah linangan air yang berjam-jam (membayangkan aja susah! Tapi kog bisa? Setelahnya bahkan berlanjut berjam-jam lagi).

Foto diambil dari indonesiamengajar.org
Hanya pada pulau sunyi ini, aku yakin membicarakan cinta. Belum pernah sekali pun benar memahami cinta selain ini. Aku gila? Memang! Aku lebay? Anak sekarang menyebutnya iya! Perjalanan memang lucu dan tak bisa ditebak, bisa jadi pengakuan ini akan runtuh beberapa waktu ke depan saat dihadapkan pada hal baru. Namun, aku ingin jujur (hal yang susah ku selesaikan pada diri) aku cinta! Pada jiwa-jiwa yang satu akan paham dan meresap bagaimana gaungnya. Bagaimana ngilunya. Dan keinginanya untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju yang hakikat. Inilah kenikmatlaraanku! Jawaban atas banyak hal yang mampir pada diri! Semoga, semoga tidak berlebihan dan belajar dalam takaran yang pas!


Dewi Maghfi | 03 Oktober 2015 | 01:05

Kamis, 17 September 2015

Aylan Kurdi



Baru-baru ini dunia maya digegerkan ketika ditemukan seorang bocah (3 tahun) tak bernyawa di pantai dekat kota wisata Bodrum, Turki. Ia adalah Aylan Kurdi. Bersama orang tua dan ribuan orang lainnya ia meninggalkan negeri mereka yang dihancurkan oleh kebiadaban kelompok bersenjata Negeri Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Mereka membunuh siapa pun yang dianggap bukan bagian dari mereka.

Hingga akhir tahun 2014, PBB mencatat konflik di Suriah, Libya, Afganistan, dan beberapa negara Afrika menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan 60 juta lainnya mengungsi. UNHR mencatat jumlah pengungsi di Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat 19 persen, di Asia 31 Persen, dan Eropa 51 persen seperti dilansir Kompas, Sabtu (13/9).

Aylan hanyalah satu dari korban anak yang jasadnya ditemukan secara mengenaskan. Masih banyak anak-anak lainnya yang mengalami nasib yang sama. Selayaknya bocah berusia 3 tahun yang mestinya menikmati masa-masa bermain untuk tumbuh kembang, ia melepas nyawanya dengan mengenaskan. Paru-paru seorang bocah yang belum sempurna kemasukan air bahkan mungkin berjam-jam atau berhari-hari. Betapa pedih matanya terkena air laut. Tubuh yang membiru sebab dinginnya air laut. Membayangkan bocah sekecil itu meregang nyawa di lautan lepas, membuat hati saya teraduk-aduk.

Orang-orang dewasa yang mengatasnamakan agama telah menabuh gong peperangan pada siapa saja. Orang-orang yang menjadi musuhnya adalah sesama orang dewasa. Tapi lihatlah, anak-anak yang menjadi imbasnya. Sedari kecil, anak dihadapkan pada kekerasan, perlakuan bejat, hingga kematian di tangan orang dewasa. Itu semua sebab laku biadab orang dewasa.

Anak merupakan masa depan. Anak mengandung hal-hal yang memesonakan. Rabindranath Tagore bersyair dalam Gitanyali tentang dimana anak-anak berkumpul, bermain, dan mencipta. “Di pantai dunia tiada terbatas,” kata Tagore. Di sana mereka mendirikan rumah-rumahan pasir dan bermain lakon kosong. Di sana mereka menganyam kapal-kapal dari dedaunan kering dan melayarkannya sambil tertawa ria. Di sana pula Aylan tertelungkup tak bernyawa!

Lalu mengapa mesti ada agama jika bukannya menuntun pada cahaya ilahi, tapi justru menghabisi dengan cara-cara yang keji? Benarkah pengatasnamaan agama oleh sebagian kelompok untuk meraih ridho ilahi? Lalu dengan cara apakah tingkat keimanan seseorang ternilai?

“Ah, itu bukan ajaran agama. Orangnya saja yang punya kepentingan,” terang Darman di sebelahku. “Apakah agama dan kepentingan mesti dipisahkan dalam bagian tersendiri? Setahu saya agama adalah pedoman kehidupan dan kepentingan adalah bagian dalam kehidupan? Sekalipun agama, ia baru hadir kemudian setelah Adam dan Hawa diciptakan, setelah manusia terseok-seok menjalani urip,  baru agama hadir untuk menyempurnakan? Bukankah jika kita ini benar manusia, mestinya mempunyai naluri kemanusiaan? Ah, Dar. Dunyo iki karepe piye ora mudeng….”

Mengakui agama satu yang benar memang berdampak pada fanatisme. Katakanlah islam sebagai agama yang benar. Namun, islam juga agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam ayat-ayat al-Quran memang nampak ada ayat-ayat yang paradoksal. Semisal, islam sebagai agama yang benar atau penyempurna. Namun ada ayat yang mengatakan agamaku agamaku, agamamu agamamu. Dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab dikatakan bahwa penafsiran tidak bersifat kaku dan berdiri sendiri. Selalu ada asbabun nuzulnya. Bisa dikatakan luwes untuk menyempurnakan jalan urip saat ini. Dalam arti, menafsir ayat-ayat Quran untuk menuntun hidup sezaman ini begitu penting. Al Quran sebagai penuntun hidup bukan untuk merusak naluri kemanusiaan. Aneh bukan jika seorang disebut manusia tapi mengingkari kemanusiaannya, Dar? Dan terjebaklah pada hal-hal yang berbau ekstrimisme. Biadabnya, hal macam itu kencang disuarakan mengatasnamakan agama!

Saya pernah membaca sebuah buku, ada seorang dokter yang awalnya menjadi relawan bagi pengungsi di Timur Tengah. Akhirnya ia menulis cerita tentang kebiadaban kelompok ekstrimisme. Di buku tersebut bahkan ia menulis “Agama saya bernama kemanusiaan.” Barangkali berangkat atas kekecewaan dan kepedihan yang mendalam ia mengibarkan bendera kemanusiaan. Apalah arti agama itu jika…. Namun, agama tetap suci. Agama menjadi penuntun urip dari dan menuju-Nya. Laku sekelompok orang lah yang telah melukai agama. Agama, keimanan, tak sesiapa pun yang bisa menilai. Saya yakin dalam diri tiap manusia ada ‘hakikat’ untuk kembali pada-Nya. Entah namanya ruh, jiwa, fuad, naluri, pikiran atau apalah. Tinggal tiap manusia menuntun yang hakikat itu dalam laku keseharian dengan sungguh-sungguh, bi jaddin istilah lainnya.

Sesungguhnya jika di Bumi ini hanyalah terminal menuju yang kekal, kita berarti tinggal menunggu kiamat datang. Dan kemunculan Djajallah yang ditakutkan. Tangannya adalah gergaji yang siap membelah tubuh siapa saja yang tak mengikutinya. Lalu melumurinya dengan garam. Bukankah Djajal tersebut sungguhlah diri kita sendiri, Dar?

Dewi Maghfi, manusia yang mencari makna kemanusiaan

Rabu, 19 Agustus 2015

Abdih, Kau kah kini….


Hari pertama hadir di diskusi soal penguatan toleransi dan penangkalan terorisme dari instansi mentereng, aku masih meraba-raba. Skeptis dan pesimis, jujur. Pada sesi pertama pemaparan, kepala rasanya teraduk-aduk. Orang-orang ternama dari berbagai institusi memaparkan materi dengan angka-angka juga definisi-definisi gaya akademisi sekali! Pembicaraan lalu bergulir terus ke arah NII atau belakangan menjadi ISIS. Bagaimana latar belakang, motifnya, perjalanan pelaku, perekrutan jaringan internasional detail dipaparkan. Perut kian mual. Beginikah rupa dunia? Ngeri!

Walau katanya, radikalisme bukan hanya soal agama, toh negeri ini sudah terlabeli ‘negeri sarang teroris’. Dan itu dilakukan oleh beberapa pemeluk agama mayoritas di Indonesia. Cerita kawan-kawan yang pernah ke negeri orang juga tak lain pada bahasan tersebut.
“Are you from?”
“I am from Indonesia.”
“O, Indonesia is the terrorist land.”
Walau banyak yang mengagumi budaya negeri ini, juga mencibir sebagai sarang teroris.

Kabar haru datang dari Farha Ciciek sebagai pendamping kampung pluralisme di Ledokombo Jember dan aktivis islam damai Irfan Amalee. Satu hal yang tak banyak diminati orang yakni menjaga harapan. Dan kedua orang ini, mewujudkan harapan. Satu pilihan yang butuh peluh lebih, tenaga lebih, serta waktu lebih. Dan semua itu perlu pemahaman, hubungan antar manusia-Tuhan bukan hanya soal syariat, namun hakikat.

Abdih adalah seorang kawan bermain-main kecilku. Kami, kala kecil paling suka bermain-main menjadi guru. Mempraktikkan bagaimana mengajar siswa plus memarahi jika bandel. Maklum, kami masih menikmati dipukul guru pakai rotan kala tak lancar hafalan. Ah. Kami juga satu seperguruan ngaji tartil (baca al-quran dengan tajwid) sebelum masing-masing memilih kota perantauan. Aku ingat betul, kala itu bacaanku lebih fasih. Namun, kini ia bahkan lebih ‘ngeprel’ dalam membaca quran dengan tartil. Sadar betul, aku memang kian jarang membuka kitab suciku, Abd. Dyaar!
            
Abd, dari selentingan tetangga-tetangga, ada yang meresahkan perubahanmu. Kamu yang sekarang memakai busana lebih cingkrang, jenggot yang kian lebat nan panjang, juga bersalaman hanya dengan sesama jenismu, kecuali pengecualian. Hal macam itu, bukan menjadi soal bagiku. Maka, bertemu denganmu dan bercakap menjadi hal yang ku nanti. Dan, walau hanya beberapa jam aku tak ingin terjebak pada percakapan yang ndakik sehingga aku-kamu membenarkan sebenar-benarnya keyakinan masing. Aku tidak mau, Abd. Aku mencoba menyelipkan ingatan masa kecil dimana kita dulu tumbuh. Tentang ketakutan pada orang tua ketika bermain tak ‘eling wayah.’ Tapi, bukankah itu sungguh wajar di masa kanak? Begitullah, mungkin sebab kasih sayang orang tua yang berlebih. Padahal Rabindranath Tagore bersyair dalam Gitanyali tentang dimana anak-anak berkumpul, bermain. “Di pantai dunia tiada berbatas,” kata Tagore.
            
Kamu, dari ceritamu sedang menjalani proses untuk memahami islam yang kaffah. Juga, sering melakukan kajian islamis dengan kawan-kawan di salah satu gerakan yang banyak orang mengenalnya dengan gerakan radikal. Cita-cita memiliki negara dengan menegakkan syariat islam juga kau utarakan. Bahkan dunia. Kadang, ada titik dimana aku-kamu meluap-luap untuk memaparkan keyakinan masing. Juga, dimana aku-kamu mesti berpikir dan suasana menjadi senyap. Walau kita tidak pernah menyepakati bagaimana arah obrolan ini akan bermuara, kita saling paham dengan ketaksepemahaman bukan? Kita saling memosisikan menjadi kendi bocor. Bukan kendi yang tertutup. Dan dengan keyakinan kita masing-masing, air bocoran itu tetap kita tampung bukan dibiarkan tumpah ruah.
            
Gandhi telah tiada. Terlalu muluk bukan, jika Gandhi terus diseret ke sana ke mari menyoal perdamaian? Tanpa memahami dan memaknai laku perjalanannya dalam laku diri. Laku itu kelaku kanthi setiti. Sebab setiti itu ngati-ngati, bukan fanatik atau gegabah. Apalagi dengan menebarkan kebencian, kekejaman, membombardir, dan saling membunuh. Semua itu hanya merusak diri, benar merusak. Kalau dalam novel Aleph karya Paulo Coelho hal demikian dinamakan faal. Semacam tanda yang hadir dalam diri manusia tiap ia melakukan tindakan. Entah atas ketulusan hati atau menciderai liyan. Tanda itu hadir dan tidak banyak yang mau meluangkan waktu sejenak untuk berpikir di ujung hari yang lalu berganti di hari berikutnya. Itulah Abd, mengapa aku menjadi anak yang berjingkrak jika bertemu senja. Sebab, senja mengingatkan pada hal sebentar. Ya, tiap manusia akan kembali pada haribaan-Nya.

Dewi Maghfi, penikmat sunyi

Minggu, 12 Juli 2015

Dua Dunia


“Adek, kamu ingin jadi apa?”
“Ingin jadi dokter, polisi, guru…”
“Adek, menjadi orang jujur, bertanggungjawab, membantu orang lain jauh lebih mulia dari menjadi dokter dan apalah itu.”
“Lho, kog bisa gitu? Di sekolah tidak pernah diajarkan profesi jujur, tanggungjawab, Yah?”
“Iya, adek tidak musti belajar dari sekolah. Belajar bisa darimana saja.”
               
Percakapan kecil tersebut terjadi di sebuah teras rumah. Seorang ayah dengan menggunakan kaos oblong putih dan celana pendek sedang bercerita pada putri kecilnya. Lavida namanya. Ia sangat senang jika musti duduk di perut ayahnya yang sedang tiduran santai di lincak. Ayahnya tak pernah punya waktu banyak, namun ia selalu membuat pertemuan berkualitas.
                
Mengenang sosok yang tak pernah bertatap muka memang susah. Apalagi untuk sekadar berkelakar.aku dan Ayah Lavida. Hari berganti hari, aku hanya mengenalnya dari cerita. Juga rekaman-rekaman ‘benda’ yang masih tersisa. Tidak, aku mengenalmu jauh melebihi itu. Aku mengenal lewat putri kecilmu.
                
Putri kecilmu, Lavida, barangkali akan tumbuh menjadi putri kecil layaknya cerita yang pernah kau bangun padanya. Ia riang, suka bergoyang-goyang, ceriwis, juga kadang meminta sesuatu yang tak terbayangkan. Misalnya, “Aku itu, suka sama Madun. Apa aku bisa bertemu Madun? Tapi, Madun sudah punya pacar, aku hanya ingin sekadar bertemu saja,” rengekan putri berusia 4 tahun. Madun adalah salah satu tokoh sinetron di televisi. Sejak, Ayahnya meninggal, Lavida memang tak bisa lagi menonton acara anak di televisi langganan. Ibuknya menyetop langganan tersebut, persis setelah seminggu sepeninggal suaminya.
                
Otomatis, Lavida mulai beralih menonton tayangan di televisi umum yang banyak tak berpihak pada anak. Tayangan di televisi, lebih banyak mempropaganda orang-orang dewasa. Sementara anak-anak dan orang dewasa terus membikin jarak. Ngeri!
                
Dalam sehari saja, anak-anak lebih banyak menonton televisi daripada bermain dengan teman sebaya. Berdendang ria, main pasir-pasiran, kecibak-kecibuk air, lari-larian mengejar layangan, dll. Anak kadang mendapat perlakuan kasar dari orang dewasa hanya soal bermain. “Awas, pasir itu kotor. Awas, kalau sampai bajumu basah, gak boleh ganti lagi. Awas, kalau kakinya berdarah, tidak boleh nangis. Awas. Awas. Dan awas.  
                
Orang-orang dewasa, katakanlah orang tua, saudara dewasa, dan tetangga. Mereka ke semuanya bermula dari anak. Tapi, tidak semua ingat bahwa mereka pernah menginjak fase anak. Mereka sering menuntut ini dan itu. Sebab, orang-orang dewasa tak pernah mau belajar untuk mengindentifikasi kesakitan masa kecilnya. Orang dewasa, hanya paham bahwa fase manusia, lahir-menjadi anak-remaja yang boleh melakukan apa saja- dewasa beranak pinak- menjadi tua- menikmati asset dari anaknya- meninggal. Orang dewasa lupa bahwa setiap manusia memendam kesakitan yang perlu sebuah penyembuhan. Sehingga, banyak anak yang menjadi dewasa sedari anak. Padahal batas anak menuju dewasa adalah pilihan mandiri yang mestinya mereka diajarkan untuk bertanggungjawab, bukan dituntut.

Orang-orang dewasa, barangkali membayangkan anak adalah asset. Kemungkinan-kemungkinan akan masa depan yang masih misteri atau justru prediksi kesakitan, yang lalu dibebankan pada anak. Orang dewasa, sering mendongengkan dengan permulaan ‘kelak jika adek sudah dewasa, kelak jika adek sudah dewasa……” Orang tua lupa bertanya, “apa yang adek rasakan hari ini?” bagi orang dewasa pertanyaan macam itu tidak penting. Sebab, orang dewasa hanya punya target menyulap apapun menjadi mutiara. Sementara yang ada dipikiran anak-anak hanyalah mencari apapun yang bisa dibuat mainan lalu memporak-porakdakan.

Anak dikonstruksi serupa mungkin oleh orang dewasa untuk menjadi bangga. Padahal, orang dewasa tak pernah mau belajar memaknai sebuah kebanggan. Jika begini, anak dan orang dewasa akan selalu berjarak. Mereka memandang ada dua dunia di dunia ini. Dunia anak dan dunia dewasa. Anak hanya sekadar kepo untuk mengetahui dunia dewasa, namu tak pernah sedikit pun ia paham. Sementara, orang dewasa sibuk menyulap mutiara. Anak membangun ruang imaji dengan dirinya sendiri lewat televisi, membayangkan sosok di layar kaca sebagai idola, berkawan dengan gadget dan game. Sementara, orang dewasa membangun jejaring sesama orang dewasa untuk berkompilasi menemu cara jitu mengumpulkan mutiara.

Maka, tak heran begitu banyak anak yang bersenandung di jalanan yang kadang juga merengek. Merangsek dalam polusi jalanan. Juga mereka yang menjadi korban kekerasan fisik orang dewasa. Juga mereka yang mendapat kekerasan seksual dari orang dewasa. Dunia anak. Dunia dewasa. Pisah. Berjarak. Kosong. Jiwa anak. Jiwa dewasa. Sendiri. Sendiri. Aku. Kamu. Kejam! Sebab bermula, orang dewasa sedikit mau memahami anak.

                

Jumat, 22 Mei 2015

Masa Kanak yang Melampaui Ruang dan Waktu


Berjalan menyusur pasar seusai kebakaran menjadi kengiluan bagi diri. Dua kali (Pasar Mbabatan Ungaran & Pasar Johar), aku sekadar menengok, atau mencari informasi pasar tradisional yang terbakar. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa pasar tradisional yang sering terbakar? Mengapa tidak swalayan yang gedhe saja yang terbakar lalu ludes? Mengapa masyarakat kecil semakin menderita di negeri ini? Apakah negeri ini memang sudah tak sanggup lagi menjadi ibu pertiwi bagi masyarakat kecil? Apa sebab terbakarnya, korsleting? Ah, atau sengaja dibakar oleh oknum? Kamprett, negara ini! Lalu, seusai mengumpat, kutujukan pada siapa kekesalanku ini? Ah, aku hanya ingin mengumpat. Aku masih bersemangat untuk menyibak hal-hal kecil yang dapat kujamah.

Seusai puter-puter pasar, aku merasa lelah. Bukan lelah sebab aku berjalan dari ujung ke ujung. Itu hal yang biasa ku lakukan, jalan kaki. Namun, hati dan pikiranku merasa lelah. Aku memang tak percaya kalau pasar-pasar tradisional terbakar karena korsleting. Aku sangat yakin, jika itu dibakar.

Orang-orang mengapa semakin bejat dan kejam. Aku tak habis pikir. Ya, sebab aku capek, aku singgah ke tempat tinggal Gias. Seorang kawan yang ku kenal beberapa bulan belakangan. Ia tinggal di dalam pasar johar bersama keluarganya dan keluarga lain sedari kecil. Aku merasa beruntung punya kawan di sana, setidaknya bisa kujadikan sandaran (walau dalam kenyataannya aku tak benar-benar bersandar). Bersandar di sini kumaknai, aku hanya ingin mendengar cerita. Aku memposisikan diriku sebagai anak kecil yang ingin mendapat cerita atau dongeng. Aku adalah orang yang sering kehausan cerita. Aku ingin mendapat banyak cerita. Namun, terkadang aku juga tak kuat untuk mendengar cerita (lagi). Aku ingin bercerita pada diriku sendiri, itu pun justru menjadi hal sulit yang belum terpecahkan.

Gias usianya 20 tahun. Ia sudah punya bayi mungil yang usianya 8 bulan. Padahal terakhir aku ke sana, pas bayinya berusia 3 bulan. Sudah lama sekali berarti aku tak singgah di rumah kehidupannya. Ah, aku tak bertemu Gias. Ia ikut suaminya bekerja. Padahal aku ingin mencium dan mempuk-puk anaknya. Tapi, bertemulah aku dengan Wulan. Ia adalah kakak Gias. Wulan ternyata sudah menikah. Kini, ia hamil 3 bulan. Ia nampak cantik menggunakan daster putih selutut dengan bahan kain goni. Aku suka. Rambutnya dipocong. Ia tak menggunakan riasan. Kulitnya memang gelap (sepertiku), namun aku melihat wajahnya berseri. Sebab, senyum yang tiada lepas dari bibirnya. Ya, kegilaan kami kemarin adalah menertawakan hal-hal konyol sekaligus berarti.

“Mbak, minta duite to. Aku pek jajan es,” tuturnya seorang bocil laki-laki sembari merengek. “Minta ibukmu sana. Jajan kog terus. Aku ndak punya duit,” jelas Wulan dengan nada tinggi. Bocil itu adalah keponakan Gias. Ia memang sering jajan. Apalagi mereka tinggal di pasar, yang mana mau jajan apa saja ada.

Dari rengekan bocil itu, Wulan mungkin teringat tentang sebuah kenangan. Ya, kenangan masa kecilnya. Usianya kini 23 tahun. Ia mulai bercerita dengan sesekali menunjukkan kejengkelannya dan kami tertawa bersama. Dulu, ia begitu bersamangat untuk sekolah. “Pokoknya piye carane aku sekolah.” Suatu kebanggaan bagiku, ia seoranga anak jalanan yang menamatkan sma. Horeee… entah, sekolah itu seberapa berharganya, namun untuk kondisi Wulan aku mengacungi jempol. Jika, sekolah tidak penting dan dimanapun seorang bisa belajar, barangkali aku menangkap titik poin yang beda dengan jika itu ada pada kondisi mereka.

Tempat kehidupan Wulan sejak lahir adalah pasar dan jalanan. Tempat bermain yang asyik bagi adalah lahan parkiran, gang-gang sempit antar penjual, dan depan toilet sewaktu mengantri mandi. Ia mengaku menikmati masa-masa kecil tersebut, namun bukan berarti mudah untuk yakin akan menjalaninya ke depan. Lebih-lebih jika anaknya lahir.
Dulu pada 2009, ia adalah penggagas forum anaknya yayasan setara semarang. Yayasan yang saat itu fokus untuk menangani anak jalanan. Ia aktif. Ia juga sebagai koordonator anak jalanan komplek pasar johar. Setiap minggu pasti kumpul dengan anjal lainnya untuk cerita dan bersenang-senang. Para pendamping yayasan setara hadir untuk mendengar cerita mereka dan merumuskan keresahan tersebut.

Sejak sekolah dasar, ia belajar mandiri untuk sekadar memenuhi keperluannya sendiri. Memang keperluannya tidak neko-neko. Yang penting bisa makan dan uang sekolah terbayar. Ketika ia kelas 3 sd, ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah (pasar). Baru, ketika ia smp ibunya kembali. Sejak sd hingga sma, ia mendapat beasiswa untuk sekolah. Namun, bukan berarti mendapat beasiswa menjadi hal yang menyenangkan dan cukup tinggal belajar saja. Ia mendapat beasiswa namun juga harus aktif untuk berkegiatan.
Ya, beasiswa yang ia terima tak bisa memenuhi kebutuhan untuk makan. Maka, sejak sekolah dasar tersebut ia ngamen dari bis ke bis. Dari toko ke toko. Dari gang ke gang. Dari mendapat senyuman hingga kemarahan.

Tulisan ini ditunda beberapa saat. Sebab ada rapat dengan pak pram, pemredku yang super duper semangat. Aku terharu pokoknya sama dia. Aku juga kuliah privat dengannya. Biasa, rapat redaksi sering berujung kuliah privat. Ia pasti bercerita banyak hal ketika tema sudah kelar. Seperti ini tadi, kami membicarakan tentang pemikiran tokoh Indonesia, tentang keperempuanan, tentang kartini, dewi sartika, ki hajar dewantara hingga pancasilais yang terbit di merput bulan depan. Yeiii. Katanya, “Selagi muda, menulislah. Agar kau senantiasa muda hingga di usia tuamu.”

Hal yang menjadi kegeliaannya yakni, sewaktu kelas 5 menuju kelas 6, ia mengenal orang jepang yang baik hati. Di sebuah warung makan, ia mengamen. Di sana pula ada orang jepang yang sedang makan. Orang jepang lalu mengajaknya bercerita. Ia bercerita tentang apa yang ia alami. Kemudian, orang jepang tersebut bersedia membiayai sekolahnya selama setahun. Orang jepang tersebut juga berkunjung ke sdnya, berkenalan dengan guru dan teman-temannya. Juga yang menggembirakan, ia ternyata mendapat bonus untuk makan setiap hari di warung tersebut. Dan yang membiayai orang jepang. “Wah, enak pas kuwi. Aku isoh mangan sepuasnya. Haha,” ceritanya.

Begitu hingga dia smp dan sma, ia aktif untuk mencari beasiswa. Siapa pun yang mau membantu ia bersekolah. Sebab, jika ia tidak berangkat sekolah ia akan sedih dan menangis. Padaku ia bercerita, kurang lebih ada sepuluh lebih lembaga atau perorangan yang membantu membiayai sekolahnya. Juga, ia bekerja untuk mandiri. “Aku kalau gak kerja itu gak bisa. Sudah dari kecil kerja. Tapi, saiki aku gak kerja karena hamil. Gak boleh bojo. Hehe.”

Ia juga prihatin pada anak-anak di sekitarnya, jarang sekali yang mau melanjutkan sekolah. Mereka cenderung bersenang-senang dengan dirinya. Bekerja untuk kenikmatan sesaat. Padahal dulu, ia melakukan apapun untuk sekolah. Ia memang tak muluk-muluk menginginkan banyak hal dari sekolah. Dapat bersekolah saja, cukup. Namun, aku menangkap bahwa ia adalah seorang yang cerdas. Dari bicaranya, pemilihan alasan untuk berargumen, aku melihat ia mapan dalam berpikir. Sehingga, ia pun berusaha untuk menjalani kehidupannya atas olah pikir.

Ya, sejak ia aktif di forum anak dulu, ia telah dikirim ke banyak kota untuk menjadi peserta atau fasilitator tentang anak. Maka, tak heran, pengetahuan yang ia punyai luas. Ia pernah ke Medan, Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Surakarta, dan beberapa daerah lain. Ia kadang merasa kecewa, mengapa keponakan dan anak-anak kecil di lingkungannya jarang sekali bersekolah. Padahal saat ini sekolah gratis. Seusia Wulan, yang berhasil menamatkan sekolah hingga sma di lingkungannya hanya dia seorang. Bahkan adik kandungnya tidak tamat smp. Ia kadang secara spontas memarahi anak-anak yang tak mau sekolah. 

“Aku mumet ngrasakke bocah saiki. Aku biyen tak rewangi sampek ngono, lha cah saiki malah nyepelekke. Mbuh nang, nduk…. Haha,” tutupnya. Kami berpisah dengan saling melempar senyuman. Entah, aku kira dengan senyuman itu aku dan ia saling memberi keyakinan pada ketidakyakinan itu sendiri. Tanpa eksplanasi apapun. kami hanya saling bercerita. “Anakmu akan menjadi anak hebat, Lan,” bisikku sembari menepuk pundaknya.

Dewi Maghfi | 23 Mei 2015


Rabu, 13 Mei 2015

Dari Anak Jalanan hingga Ketua Yayasan


Perjalanan kehidupan setiap orang beraneka macam. Seperti apa pun, ada. Maka, pilihan untuk mensyukurinya dan bangkit adalah jauh lebih bijak dari sekadar meratapi.

Tinggi badannya sekitar 160 cm. Lengan kirinya bertato. Ia lah Ayub Waluyo yang saat ini menjadi ketua Yayasan Emas Indonesia (YEI). Yayasan emas Indonesia adalah yayasan yang menampung anak-anak jalanan di kota semarang. Saat ini, YEI menapung 124 anak jalanan dan beberapa orang gila.
               
YEI awal mulanya ide dari anak-anak muda dan juga mahasiswa pada 2001. Anak-anak muda tersebut memiliki visi untuk memulai pergerakan yang berdampak langsung pada lingkungan sekitar serta kota yang mereka tinggali. Kala itu, dikomandoi oleh Samuel Repi yang sekarang menjadi Pembina YEI. Mereka mulai bergerak mendatangi anak-anak jalanan di kota semarang terutama di daerah pasar johar dan jembatan berok. Anak-anak tersebut merupakan anak dari pengemis, pemulung, serta orang miskin yang mulai meninggalkan bangku sekolah menjadi anak-anak yang turun ke jalan untuk membantu mencari nafkah keluarga.

Baru pada tahun 2003, lembaga sosial tersebut mengukuhkan nama menjadi Adulam Ministry. Baru pada 2010 berubah menjadi Yayasan Emas Indonesia yang telah memiliki izin operasional dari Dinas Sosial Jawa Tengah. Setelah beberapa kali berganti kepengurusan, pada 2012 terpilihlah Ayub menjadi ketua yayasan.

Ayub dulunya adalah anak jalanan. Ia keluar dari rumah saat usianya 14 tahun. Sebab faktor ekonomi, keluarga, dan lingkungan ia nekad untuk turun ke jalan. Baru pada 2009 ia bergabung di YEI. Satu tahun di YEI, ia berusaha menyesuaikan diri dengan program-program yang diusung YEI. Ia mengaku tidak mudah melakukan penyesuaian diri dari yang awalnya bisa melakukan apa saja di jalanan menjadi terstuktur. “Proses untuk menyesuaikannya yang sulit,” tuturnya.

Selepas satu tahun digembleng di YEI, ia dikirim ke Palembang selama 1 tahun untuk mengikuti training pembentukan karakter. Di sana, ia mesti memahami kembali arti menjalani kehidupan. Ia mengikuti tahap demi tahap. Hingga akhirnya, ia merasa betah tinggal di Palembang dan sempat tidak ingin kembali ke semarang. “saya berpikir ulang, ternyata saya dibutuhkan di semarang untuk adek-adek di jalanan. Akhirnya mau deh kembali dan menyusun strategi di YEI,” tambahnya. Keinginan ia untuk menetap di Palembang bukan tanpa alasan. Ia berencana mendirikan semacam komunitas yang pergerakannya di wilayah anak-anak jalanan. Di Palembang, ia juga memiliki keresahan yang sama tentang anak jalanan. Ditambah lagi, ia mempunyai partner dari kawan-kawan alumni training pembentukan karakter. “Maklum, masih hangat-hangatnya dan semangat masih menggebu selepas mengikuti training. He-he,” lanjutnya.


Memberdayakan Potensi
Keinginan YEI untuk mandiri tanpa donatur sedikit demi sedikit disiasati. YEI mempunyai usaha jual es batu, cuci motor, dan sebuah angkringan. Pengelola usaha tersebut adalah anak-anak jalanan yang menjadi binaannya. Kevin misalnya seorang anak jalanan yang dipercaya menjadi ketua pengelola cucian motor membawahi beberapa temannya. Namun, terhitung mulai minggu pertama bulan Mei ini, Kevin keluar dari YEI dan bekerja di sebuah restauran ternama. “Anak-anak yang di sini memang masih keluar masuk. Ada yang tidak betah atau ingin mencari penghasilan di luar. Saya terus mencari siasat untuk tetap merangkul mereka. Saya juga harus bisa mengambil hatinya,” terang Ayub.
                
Angkringan yang dijalankan teman-teman di YEI cukup menjanjikan. Mereka memasak sendiri dan menjagai angkringan tersebut secara bergantian. Di bantaran sungai Jalan Onta Raya, angkringan beserta Rumah perlindungan sosial anak (RPSA) YEI berdiri. Sementara kantor yayasannya terletak sekitar setengah kilo dari RPSA tersebut.
                
YEI ke depan juga berusaha untuk membuat badan usaha yakni CV untuk mewadahi usaha-usaha yang akan dikelolanya. Ia berharap ada pihak yang berbaik hati memberikan pelatihan kerja pada anak-anak di YEI. “Anak-anak jalanan itu survive, mereka tidak perlu untuk dikasihani, cukup difasilitasi,” tegasnya. Akhirnya, Ayub selamat untuk hidup yang baru…. 
Dewi Maghfi


Indra, Tetaplah Menjadi Lilin Bagi Anak Spesial….


Membangun mimpi setinggi-tingginya adalah modal gratis setiap manusia. Begitu juga Indra. Namun, memahami kondisi setelah melakukan ikhtiar panjang jauh lebih bijak atas sejuta mimpi. Ia lah Indra, sang penerang bagi anak-anak spesial.

Sebuah plang bertulis MI LB YKTM Budi Asih Semarang menggerakkan saya untuk menelusurinya. Plang tersebut terletak persis di samping taman kanak-kanak di Jalan Dewi Sartika. Di situ pula saya bertanya pada seorang ibu, walhasil ia menunjukkan sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu mobil.

Lelaki dengan perawakan tinggi, kulit putih, menyambut saya dengan mengulurkan tangan. “Maaf mbak sedang berantakan, tunggu sebentar kami beresi dulu. Lembar jawaban untuk anak ujian sekolah tertinggal,” kata Kepala Sekolah Indra Ariwibowo yang nampak panik dan keringetan sembari menyilakan.

Madrasah Ibtidaiyah Luar biasa ini, Senin (4/5) sedang menyelenggarakan ujian sekolah dengan diikuti 3 siswa, 1 tunanetra dan 2 tunanetra low vision. Suasana ujian jauh seperti ujian di sekolah pada umumnya yang nampak ketat dan penuh pengawasan. Alvin ramadhan misalnya, menjawab ujian dengan dibacakan soal oleh gurunya. Satu per satu siswa didampingi guru dalam mengerjakan ujian. Jika ada soal yang kurang jelas, Alvin meminta untuk dibacakan ulang. Tak ada suasana tegang, anak-anak nampak gembira mengerjakannya. Mindset mereka, tidak penting untuk lulus atau tidak lulus. Lebih pada mereka mengerjakan sesuai kemampuan dan mereka yakin setelah ujian masih ada hal-hal yang masih akan terus dilakukan. “Mbak, saya itu kembar lho. Saudara saya di jauh sana. Dia normal, saya kangen ingin bertemu,” cerita Alvin dengan sumringah ketika jam istirahat. Ketiga dari mereka berebut bercerita, saya menjadi pendengar. 

Saat ini, murid siswa MI LB di Budi Asih sejumlah 37 siswa. Sekolah ini berdiri pada 2009 yang bertempat di Semarang Timur dekat Pasar Langgar. Kala itu, jumlah siswanya hanya 5 orang. Gedung terbuat dari tripleks yang disekat-sekat di tiap kelasnya. “Kalau ngajar, kami serasa balapan suara. Haha-haha,” tutur Indra. Daerah yang rawan rob tersebut menghambat proses belajar mengajar. Setiap rob, guru harus menguras kelas dulu agar air surut. Baru, pada 2011 SLB tersebut pindah di Jalan Dewi Sartika Sampangan atas bantuan pemerintah. Muasal pembangunan gedung tersebut sebab ada beberapa siswa yang beprestasi, sehingga dihadiahi gedung baru.

Sedari MI LB Budi Asih ini dibangun, Indra tak pernah meminta-minta pada donatur. Ia lebih ingin menunjukkan pada khalayak bahwa siswa-siswanya beprestasi. Dalam berbagai kesempatan, ia mencoba memperkenalkan siswanya dengan bakat yang dimiliki misalnya, menyanyi, tausiah, qiraah, memainkan alat musik, dll.

Prestasi Siswa
Siswa yang mengalami disabilitas tersebut berprestasi bahkan ke tingkat provinsi kategori menyanyi dan MTQ yang diselenggarakan Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Dinas Provinsi Jawa Tengah . Ia lah Alfin Ramadhan yang menjadi juara I lomba MTQ 2014 antar siswa sekolah luar biasa tingkat provinsi. Muhamad Subhan juga tak kalah berprestasi. Ia menjadi juara I loma menyanyi 2014 antar siswa sekolah luar biasa tingkat provinsi.
            
Prestasi Muhammad Subhan lainnya adalah juara II lomba memainkan alat musik (instrumental) tingkat provinsi Jawa Tengah tahun 2013, Juara III menyanyi lagu nasionalisme tingkat provinsi Jateng tahun 2013, Juara I lomba tilawah putra tingkat SD tahun 2013. Sementara prestasi Alfian Ramadhan adalah juara I lomba menyanyi putra tingkat Jateng tahun 2012, juara III lomba menyanyi tingkat Jateng tahun 2014, juara II lomba menyanyi lagu nasionalisme tahun 2013, juara II lomba azan tingkat SD tahun 2013.
            
Desember 2014, MI LB Budi Asih diganjar penghargaan dari Menteri Agama sebagai juara I Madrasah Luar Biasa dalam rangka Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke 69. “Saya sendiri heran, kog bisa MI LB Budi Asih yang menjadi juara, apalagi kepala sekolanya masih muda. Hehe,” guyonan Indra. Indra adalah lelaki periang. Dari awal perbincangan hingga selesai, ia terus menampakkan keceriaan dengan ngelucu. Ia juga penyandang tunanetra low vision, tunanetra yang masih bisa melihat dengan pandangan samar-samar. “Saya dulu pas muda seperti njenengan itu, ganteng dan gagah lho. Haha,” banyolannya di sela-sela obrolan.

Mengurungkan Mimpi
Lelaki kelahiran 15 Mei 1982 ini sejak kecil bercita-cita menjadi karyawan bank. Kala kecil, saat ia diajak orang tua melakukan transaksi di bank, ia begitu sigap untuk bilang “saya ikut.” Bermula dari situ lah, ia memperhatikan setiap lini ruangan. Ya, seorang yang nampak ganteng nan cantik, wangi, berpakaian rapi, ramah, dan pintar. Itu semua sudah dimiliki anak kecil tersebut. Di saat anak-anak seusianya masih umbelen meler, ia sudah bisa membersihkannya sendiri. Ia, seorang yang mencintai kebersihan. Namun, satu yang membuatnya ketar-ketir, ia penyandang tunanetra low vision. Berkat dorongan orang tua, ia tak patah semangat sama sekali. Berada di lingkungan yang dominon mendukung membuat Indra terus berkarya dan berkarya.
            
Tak tanggung-tanggung, ia menyelesaikan kuliah sarjananya hingga dua kali. Ia tercatat sebagai lulusan sarjana fakultas ekonomi Universitas Soegijopranoto (Unika) dan sarjana pendidikan IKIP Veteran. Saat ini, ia berencana melanjutkan master pendidikan. “Saya inginnya Unnes. Agar saya tetap bisa memantau MI LB ini dan tetap kuliah. Doakan saja,” tuturnya lagi lagi dibumbui dengan banyolan. “Doakan saja, semoga juga dalam waktu dekat bisa menikah. Ya kalau punya teman bisa dikenalkan. Hehe,” lanjutnya.

Perjalanan Indra ternyata berkata lain, Indra justru merintis sekolah yang waktu itu dilakukannya dengan susah payah. Sempat sekolah tersebut ingin ditutup juga, sebab ia ingin menjadi guru di sekolah lain yang gajinya lebih menjanjikan. Pilihan yang dihadap-hadapkan Indra agaknya memang sulit. Namun, begitullah perjalanan manusia adalah perjalanan spiritulitas menuju Tuhan-Nya. Manusia, Indra, hanya berpegang pada keyakinan dan ikhtiar. Akhirnya, selamat Indra memasuki usia 33 tahun yang penuh makna….
Dewi Maghfi

Selasa, 28 April 2015

Bangsal Psikiatri itu… Oh… Ah…


Senin, bagi sebagian orang menjadi hari yang melelahkan. Ia mesti kembali melakukan rutinitasnya, setelah minggu menjadi hari untuk sekadar bermalas-malasan atau hari ha ha-hi hi. Bagi pegawai pemerintah, ia harus datang lebih pagi untuk mengikuti upacara atau apel. Bagi pekerja swasta ia kembali membuat maping job selama satu minggu. Bagi siswa akan berkata “Ah, senin adalah hari patroli. Ah, senin akan mendengar ceramah kenegaraan.” Senin, biasanya menjadi jadwal tetap materi PKN (dan itu membosankan, sebab gitu-gitu aja), pun dalam setiap ujian, pkn selalu dibagi di hari senin. Entah? Mungkin, karena pkn ada muatan nasionalismenya jadi harus dinomorsatukan. He he
            
Rumah sakit umum daerah RA Kartini Jepara, senin (26/4) juga tak luput sibuknya. Duduk bersebelahan dengan ibu bermuka sayup dan ngantuk-ngantuk (datang ke rumah sakit jam 5 pagi!), atau lelaki paruh baya yang Nampak menerawang sangat dalam tembus hingga sepuluh lapisan, diam termangu, atau ibu yang sedang ngempongi anaknya daripada nangis jerit-jerit, atau mbah kakung yang sedang menggenggam tangan mbah uti (syahdu tenan), atau teriakan-teriakan yang melengking merdunya. “Wes to, senin kuwi wes koyo pasar. Wong berobat seperti beli sayur dan krupuk ning pasar. Tinggal sayur bedah, sayur kandungan, sayur syaraf, sasyur gigi, sayur psikiatri….” cerita dari ibu di seberang kursi.
            
Ya, sabtu-minggu rumah sakit libur. Dan kebanyakan obat pasien telah habis. Orang-orang akan kembali menebusnya di senin. Sejak kartu sehat mudah didapat, entah Jamkesmas, jamkesmasda, kartu sehat daerah, bpjs, dan tetek bengek kartu sakti lainnya rumah sakit tidak menjadi rumah yang mengerikan bagi sebagian orang. Dulu, orang banyak yang kehilangan nyawanya sebab sakit parah tak bisa berobat. Sekarang, sakit batuk-pilek, orang berbondong-bondong berobat sebab gratis. Ah, sebagian orang tentu bersyukur dengan adanya kemudahan kartu sakti tersebut sebab ada secuil harapan kembali untuk merajut hidup. Sementara, orang lupa melakukan pencegahan demi dianggap keren. Bilamana makan di tempat-tempat yang dianggap wah, KVC, MC Donat, Hokya-Hokya Bento, dan sebagainya, lalu upload, keren ndaa… Padahal, sejatinya itu hanyalah kenikmatan sesaat duhai kaum manusia, #halah. Kau tahu, betapa melimpahnya hasil sayur-mayur petani Wonosobo, semangka, melon orang demak, padinya orang sragen, ayamnya tetangga desaku he.., dan jadilah rumah makan sederhana.
            
Kali itu, aku sengaja mengunjungi bangsal psikiatri. Di kursi tunggu, di lantai 2 itu, suasana berbeda dengan di lantai 1. Suasana hening, tak ada tawar-menawar cerita. Namun, sesekali kau akan mendengar teriakan histeris dan begitu hilang seketika, muncul kembali. Di bangsal Psikiatri ini, terdapat sebuah tulisan di papan pengumuman. “Pasien harus datang, keluarga tidak dilayani jika hanya meminta obat.”

Lima banjar kursi penuh, ditambah satu lajur kursi di poli sebelah juga penuh. Juga beberapa orang bergeletakan di lantai. Aku berdiri sembari memandang kiri-kanan. Ingin segera duduk di samping pasien-pasien yang sedang diam termangu, tapi…. jangan dulu. Amati suasana, pandangi satu per satu. Ada mbah putri yang dari mulutnya nampak ndremimil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya layaknya orang yang sedang berdzikir. Ada pula seorang yang mencuri-curi pandanganku dan lalu tersenyum sendiri tersipu malu. Ah, Ada juga yang lemas tak berdaya tiduran di kursi. Juga ada yang diam, serius dengan pandangan yang kosong. Nah, itu…
            
Aku mendekatinya, seorang yang mengenakan jaket biru dengan kupluk jaket yang ditutupkan di kepalanya dengan resleting penuh hingga bawah dagu. Ia menunduk dan sedakep. Ku curi-curi pandangan untuk melihat mukanya, tak nampak sedikit pun. Tunggu dulu…. Diam kira-kira 15 menit. Kursi yang ku duduki, ku sisakan setangah agar ada jeda antara aku dan dia. Juga telapak kaki yang kupersiapkan untuk lari sekencangnya. Haha.
            
“Hei….” ajakku untuk berinteraktif. Tak ada jawaban. “Hei, hei…..” hening. “Hello, aku Dewi, siapa namanu? Aku ingin ngobrol lho dengan kamu. Kamu kog diem terus, padahal aku mau cerita. Mau dengerin ceritaku nggak? Namamu siapa?” Aku merasa ketar-ketir, jug-jug, aku akan dicekik sebab aku mendadak menjadi seorang yang cerewet, bawel dan mengobral senyum di sampingnya. Duh,
            
“Azmi….Ulul Azmi,” tuturnya seraya menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Aha… seneng bukan main. Akhirnya. Aku yang kegirangan itu, terus melontarkan pertanyaan seperti bercerita dengan kawan lama yang tidak bertemu. Walau aku hati-hati dalam bertanya, namun aku sebiasa mungkin. Ia, nampak mengambil jeda untuk berpikir di setiap jawaban-jawabannya.
            
“Nama yang bagus, Mi. Ada lima Nabi yang dijuluki Ulul Azmi sebab ia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Begitu juga kamu. Kamu luar biasa,” lanjutku. Diam…dan memberi senyum padaku. Duh nyes-nyes rasane, kog aku begitu gembira dan sedih dalam sekali waktu.
            
Ia berasal dari daerah terjauh, terpencil, dan ter ter di Jepara, Keling nama daerahnya. Ia sudah 2 tahun berobat jalan di rsud kartini. 1 tahun di awal, ia diantar keluarga untuk berobat. Namun, 1 tahun belakangan ia datang sendiri. “Saya mungkin durhaka pada orang tua, makanya saya begini,” tuturnya. “Kog bisa?” “Ya, saya dulunya sering marah-marah. Saya bisa banting semua barang-barang dan mecahin kaca. Tapi sekarang sudah tidak. Eh masih, tapi jarang.” Bahasa Indonesia nya lumayan lancar dan rapi dalam menyusun kosa-katanya.
            
Ini berawal dari sebuah cerita pertemanan. Dulu, seusai menamatkan di madrasah aliyah, ia diterima kuliah di salah satu universitas di Yaman fakultas Syariah. Hanya 2 orang dari sekolahnya yang diterima. Tibalah di Yaman, hubungan pertemanan ternyata tak selamanya menyenangkan. Suatu hari, ia merasa gonduk pada temennya itu. Walhasil semua folder foto keluarganya di laptop, ia hapus. Temannya tersebut, katakanlah Abe, sangat marah. Ia terus mencari pelakunya namun tak kunjung ada yang mengaku. Dua semester saja, Azmi mengikuti kuliah. Setelahnya ia pulang ke Indonesia. Ia tidak bisa mengikuti pelajaran di sana, ia tidak pandai bahasa arab. Jadi, saat ujian tiba ia pasti menyontek, begitu juga tak merubah IP-nya menjadi bagus. Juga, keluarganya yang tak sanggup membiayai keperluan sehari-harinya, sebab beasiswa hanya untuk materi perkuliahan dan makan 2 kali sehari. Selebihnya sendiri. Ia tak kuat, akhirnya melambaikan tangan. Duh duh piye-piye meneh tanah air Indonesia luweh kepenak je…


Azmi, kini 25 tahun, 2 tahun silam sebelum terkena gangguan jiwa, ia sempat bekerja selama 2 tahun. Bekerja ngangkut kayu-kayu balok di tetangga rumah. Ia anak pertama dari empat bersaudara. Marahnya kerap kali meluap-luap jika adeknya yang paling kecil nangis. Kesehariannya selama 2 tahun ini, ia nyapu ngepel jika mau atau berdiam diri. Ia tak punya cita-cita muluk kecuali bisa berhenti dari obat.

Skizofrenia atau Bipolar
Di dalam terminologi ilmu kesehatan jiwa, di sana akan dikenal adanya 2 penyakit yang paling sering dibahas dalam ilmu psikiatri (ilmu kesehatan jiwa). Kedua penyakit itu adalah skizofrenia dan bipolar. Azmi sepertinya menderita bipolar.

Skizofrenia merupakan gangguan waham atau delusi dan halusinasi, sedangkan bipolar adalah gangguan suasana perasaan atau gangguan mood dari kondisi panik ke depresif, atau dari suasana yang sangat gembira menuju suasana yang depresif (sedih). Ciri ciri penderita skizofrenia adalah mereka sering mengalami delusi (sebuah keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan) dan halusinasi. Delusi atau waham adalah suatu gangguan isi pikiran, sebuah keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan, biasanya diwarnai oleh latar belakang kebudayaan. Sedangkan halusinasi adalah suatu persepsi sensorik yang salah tanpa adanya rangsangan dari luar yang sebenarnya. Mungkin terjadi karena gangguan emosi atau stres (reaksi histerik, deprivasi sensorik) atau psikosa fungsional.  

skizofrenia adalah suatu psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses berpikir serta disharmoni (perpecahan, keretakan) antara proses berpikir, afek / emosi, kemauan dan psikomotor disertai dengan distorsi kenyataan. Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yaitu “Scheizen” yang berarti pecah, dan “Phren” yang berarti jiwa. Artinya penderita skizofrenia tidak dapat membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Skizofrenia ditandai oleh adanya gejala gejala primer dan sekunder. Adapun gejala gejala primer antara lain gangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan, dan gejala “autistik”. Sedangkan gejala-gejala sekunder dapat berupa adanya waham, halusinasi, gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain.

Sedangkan bipolar adalah gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren (sering kambuh) serta dapat berlangsung seumur hidup. Sementara gejala skizofrenia terdiri dari gejala positif (delusi atau waham, halusinasi, kekacauan alam pikir, gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, dll.) dan gejala negatif (alam perasaannya tumpul dan datar, menarik diri dari lingkungan, kontak emosional yang kurang, sukar diajak bicara, dan pendiam, pasif, apatis, sulit dalam berpikir abstrak, pola pikir stereotipe, tidak ada dorongan kehendak, keinginan, tidak mau berupaya dan kehilangan kemauan). Sementara gejala bipolar adalah perubahan mood secara ekstrem dari manik (keadaan mood yang meninggi) ke depresi (keadaan mood yang menurun).

          “Azmi, jika lah kau sembuh nanti apa yang ingin kamu lakukan?” tak ada jawaban.
“Apa kamu ingin menikah?”
“Mungkin, jika sudah tidak begini.”
 “Mi, apa kamu sedang berhalusinasi tentang cerita-ceritamu?
“Tidak, aku sadar kog.”
“Yakin?”
“Yakin,” tutupnya sembari tersenyum. Azmi, adalah satu di antara semua manusia yang mempunyai resiko gangguan jiwa. Azmi, yang datang rutin setiap bulan untuk melakukan terapi menjadi bukti keberaniannya menjalani hidup. Hidup memang begitu, namun yang begitu-begitu cobalah dilepaskan sembari belajar ikhlas. Selamat Azmi, selamat dengan hidup yang selalu baru.