Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2015

Le…..

Kamu tahu bukan, aku-kamu tumbuh pada dolanan yang beda?
Di sawah, melompat,
Besusul, juga genangan air di bekas telapak kaki
Lalu, ada wader-wader kecil
Aku mulai kegirangan, Le

Pada kotak yang sama
Kamu, tumbuh pada dolanan yang menjejal almari
Macam remot dan tetek-bengek yang sulit ku pahami
Waktu itu, namun tidak ini hari
Le, aku-kamu di kotak yang sama
Namun, aku masih kesulitan meraba

Aku memang tak bisa membuat hal yang presisi
Macam tulisan ini yang entah puisi
Atau apa lah yang tak berima
Sehingga tak tahulah apa namanya

Pada perjalanan tak bisa memilih yang enak-mengenakkan
Sehingga tertawa-tertawa bukan bisa menjadi pilihan selama-lamanya
Apalagi kesana-kemari semau-mau kaki-kakimu
Sehingga kau menasbihkan diri menjadi bajing
Ia berjalan melompat-lompat
Kamu, Le,

Aku ini hari belajar pada catatan seorang kawan, Awe
Katanya, belajar bersepeda bukan soal menancap gas
Namun, soal menarik rem
Semua orang mampu mengarahkan jarum pada sekian Km/Jam
Namun, siapakah yang mau belajar menarik rem?
Tak banyak.
Dan aku-kamu memang musti bukan tumbuh pada kebanyakan
Namun, sesekali menepi lah dan menarik lah rem.

DM | 9 Mei 2015


Rabu, 01 Juli 2015

Aku itu perempuan

Aku itu perempuan. Aku, kamu, dan mereka adalah perempuan. Aku hidup dari rahim perempuan. Pernah aku menemu perempuan dengan mata sayu namun juga dengan semangat menggebu mengobrol soal rahim. Juga pernah bertemu dengan nenek-nenek renta yang sedang berupaya segala upaya untuk menghilangkan betapa daging bisa tumbuh dimana-mana. Atau perempuan yang lalu dengan kepayang ia hampir putus asa merengkuh lelaki kecilnya. Atau perempuan yang nampak garis tegas di wajahnya sebab ia sudah berubah menjadi harimau yang siap menerkam. Dan perempuan yang setiap kerdip matanya senantiasa penuh rapalan doa-doa juga wajah yang usang sebab ia lupa untuk sekadar mengaca atau melumuri kerut-kerut di wajahnya itu dengan dempul. Mungkin, suatu saat nanti jika ia menatap kaca, ia akan kaget bahwa ia telah menjelma menjadi nenek lampir yang mempunyai hati laksana Siti Hajar. Atau justru ia tak akan pernah kaget, sebab baginya cermin adalah penjagalan-penjagalan akan kejujuran. Ah. Atau. Dan.

Aku itu perempuan. Aku bisa ngilu sengilu dahsyatnya. Tertikam. Lalu nadi-nadi yang terhunus satu per satu. Perkara perempuan. Entah, sebab aku perempuan atau atas perjalanan perempuan. Mungkin juga terkesan berlebihan. Aku punya ruang antara yang memiliki keterhubungan khusus pada sesiapapun perempuan. Seperti pagi tadi, sesaat aku mengantar ibu ke pasar, aku bertatap sekilas pada perempuan kuru yang omongannya tak berima. Juga mesti mendekatkan telinga ke bibirnya untuk memahami ucapannya. Ah. Sejenak aku terdiam, menutup mata, lalu, mengirim mata dan tangan lewat ruang antara khusus. Aku kamu tak perlu untuk bercakap. Sebab, jalan ruang antara adalah jalan kesunyian dimana tak satu pun huruf mengudar. Bahkan aku kamu tak saling paham, tapi aku kamu merasa dan perlu menjaga. Juga aku kamu bukannya dalam titik yang satu, namun aku kamu berada pada garis lurus. Aku di ujung begitu kamu. Aku kamu barangkali tak akan pernah bisa bersapa (lagi). Inilah pilihan jalan dari beribu jalan yang bisa dilalui.

Aku itu perempuan. Dimana aku masih suka menjadi bocah ilang dimana-mana. Tentu, di jalan ruang antara yang ku bangun. Aku paham, memang tak mudah untuk membangun ruang yang begitu abstrak gung liwang liwung. Ini adalah penempuhan dari setiap penempuhan yang ada. Namun, keyakinanku bahwa ruang ini tak akan ku huni sendiri. Aku mau untuk merasakan ngilu lebih dalam lagi, untuk menempuh jalan-jalan keterhubungan dengan banyak dan banyak diri lain. Sehingga, dinding-dinding di ruang antara itu akan tertempel gambar, corat-coret, lalu masuk di lorong instalasi. Namun, barangkali justru tak satu pun dan tak ada stog. Entah. Namun, aku yakin.

Aku itu perempuan. Yang otaknya penuh dengan semut-semut. Mulutnya penuh dengan bisa. Hatinya yang rentan akan kengiluan-kengiluan. Mata yang teduh namun justru menikam. Senyum obralan untuk sesiapapun namun sedikit dan langka bagi diri.

Aku itu perempuan. Remas-remaslah palung jiwa terdalamku. Betotlah jantungku untuk pemenuhan tenagamu. Sebab, di jantunglah pembuluh darah ada. Ambillah hatiku dan lalu cacah-cacahlah untuk sarapanmu. Darah segar yang mengucur itu jadikanlah sebagai susu kesegaran dunia yang tiada tara. Lalu, kau masih bisa menyayat-nyayat empeduku untuk obat perkasamu. Juga pankreas yang kecil dan tersembunyi itu masaklah bersama mie godok. Namun, satu. Satu hal. Lebih baikkah kau lakukan itu, hanya pada itu perempuan. Satu. Aku. Dan pada perempuan-perempuan lain, jagalah serta pandangan dan batinnya.

Perempuan itu. Ia bak ulat sutra. Ia menggerogoti dedaunan untuk merangkai hifa-hifa tipis. Ia taut-menautkan yang kadang mesti berbalik arah dulu untuk menyambung dengan rapih. Ia tertindih. Kruget-krugetnya untuk mengolah benang tipis. Tipis. Namun, setelah menjadi selembar kain, yang ada hanya tawar-menawar harga. Pantas dan tidak pantas. Cocok dan tidak cocok. Cacat dan tidak cacat.

Bisakah dan bisakah? Perempuan itu dirumuskan selayaknya sesiapun yang pernah melahirkan kita dari rahimnya. Yang menjaga dan memberi tempat kenyamanan terdahsyat. Bukan dengan rapalan-rapalan atau kemewahan. Hanya, untuk menjaga matanya.

Aku itu perempuan. Jauh-jauhi itu perempuan. Sebab, dia itu siluman. Ia hadir dari ilustrasi dongeng rahasia gudang tua. Di saat ia merasa jenuh menjadi hanya sekadar gambar, ia berdoa pada Tuhan untuk benar dijadikan manusia dan lalu keluar dari buku dongeng tersebut. Satu-satunya dongeng yang menjaganya hingga kini. Ia pernah gusar, sebab kebingungan mencarinya dari tumpukan buku yang usang. Ia benar berpikir tak akan pernah bisa kembali. Namun, kini buku itu kembali walau dengan rupa compang-camping. Syukur. Suatu saat, ia akan kembali ke dalam gambar tersebut. Sebab, dunia manusia akan beralur sama seperti dongeng.

Aku itu perempuan. Beranikah, kamu menjadi Sam untuk menyeimbangkan dongeng ini? Sam hilang. Dan aku butuh Sam untuk ku ajak kembali dalam gambar. Aku kamu yang hidup lewat dongeng dan kembali pada dongeng.

"Lebih baikkah kau lakukan itu, 
hanya pada itu perempuan. Satu. Aku. 
Dan pada perempuan-perempuan lain, 
jagalah serta pandangan dan batinnya."


Puisi-Esai, DM | 01072015

Jumat, 19 Juni 2015

Benang Tipis

Ma
Sekelebat
Mencoba menangkap matamu
Kualihkan
Berbalik
Lalu, menahan haru

Ma
Andai jika andai…..
Aku urungkan!

Ma
Tiada sekadar, tiada tapi
Tiada kini, tiada denting garis menuju garis
Tiada tidak, tiada tanda dalam abjad
Tiada kata
Hanya uluman liur

Ma
Pada sekejap waktu
Saat mata bertatap dengan nurani
Aku mengulur benang tipis ke masa dimana
Kata-kata tiada lebih sebuah pesakitan
Lalu, bersandar pada benang tipis
Hanya mengungkit kemungkinan-kemungkinan
Aku
Tetap memilih kata
Kata yang bersimpuh bagi liyan

Ma
Sudah kuakhiri,
Bahkan kubenamkan,
Rumusan yang antah-berantah
Selama-lama kemarin

Ma
Benang tipis memang seringkali cepat pedhot
Namun, ini bukan sekadar lebih dari etimologi
Ini
Keterhubungan ruang antara

Akhirnya benang tipis
Berselamat ria-lah 


Soko

Soko adalah peyangga
Rumah, jika kuat mesti mempunyai soko
Kenapa tidak beton?
Sebab, soko adalah bagian dari jawa
Dan kami jawa

Soko, mestinya menjunjung dan berdiri rapat
Namun, siapa sangka banyak kemungkinan untuk menginjak
Juga meluluhlantahkan

Soko tak lebih hanyalah gelondongan kayu
Yang kemudian bisa dihuni ribuan rayap di dalamnya
Soko tak lebih hanyalah mulut-mulut yang membisu
Yang kemudian menjadi bebal untuk sekadar mendengar

Sekeras batu, sekejam tikungan, sedahsyat magma,
Muncrat dan lalu kemudian
Maka, aku
Betapa ngilunya
Dan, ku yakini

Kewelasasihanlah aku akan hidup

Minggu, 26 April 2015

Terima kasih hidup




















Jika hidup hanya mampir ngombe
Bagiku hidup adalah perjalanan senja
Ia hadir dengan semburat yang memukau
Orang-orang begitu mendamba kehadirannya
Namun, harus ikhlas melepasnya

Sebab ia hadir begitu cepat, mampat, dan menghilang bak kilat

“Senja, berdialog denganmu memang selalu berakhir haru. Seperti sore tadi, aku kembali mengingat bahwa perjalanan masih panjang. Tak elok jika aku menyerah. Itu bukan aku. Ya, aku tahu senja. Aku musti bersenang-senang untuk kembali mengingat perjalanan. Sebab, aku dan kamu akan melangkah untuk melayani orang-orang yang sedang mendamba cahaya. Walau kehadiranmu sebentar, kamu begitu berarti. Pun, semoga aku begitu.”


Bandengan | seorang yang akan memperbanyak piknik

Sabtu, 04 Oktober 2014

Sajadah Ibu


Sejak malam tadi
Suara-suara begitu bersahut-sahutan
Aku ngilu bu, di sini
Tentu, kau pun merasakannya

"Nak, berbaik-baiklah," bisikmu dalam tidurku semalam
"Nggih," jawabku mengenang jika engkau memanggil

Sajadah ini, walau kusam sebab warnanya sudah pudar,
Setiap jidatku menempel tentu selalu tertuju padamu, bu
Sajadah yang kau titipkan padaku di medio 2010
Sebentar lagi, ia akan berpindah arena 
Semoga bu, lingkaran doa kita semoga saling menguatkan

Ied | 10/5/2014