Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2016

Berlayar ke Sedanau


Pak Tukidi, Bapak angkatku

Pernahkah anda merasakan bahwa kematian itu berasa dekat? 

Siang tadi, saya berlayar dari pulau sedanau ke desa Pian Tengah. Pulau sedanau ini adalah kota kecamatan. Yang mana, di pulau ini ada pasar yang lumayan besar buat kami orang-orang desa. Hampir tiap rumah berjualan. Dari toko sembako, kosmetik, makanan, elektronik, pancing, peralatan sekolah, hingga pelelangan ikan. Namun, jangan bayangkan macam pasar swalayan gedhe. Pasar ini, macam pasar tradisional kita di jawa. Namun, sungguhlah pasar ini menjadi kemewahan buat kami di desa. 

Saya ke sedanau untuk berkunjung ke uptd, kantor kecamatan, koramil, puskesmas, dan polsek. Sebab, Indonesia mengajar baru tahun pertama di Natuna, jadi kami bertugas babat alas. Berkunjung kemanapun dan mengulang-ngulang ‘what is Indonesia Mengajar?”. Entah dalam kondisi malas berbicara, mual-mual, kepanasan, harus tetap mampu memperkenalkan maksud kedatangan kami. Ada yang merespon baik, ada juga yang mengawali dengan kata ‘maaf’. Kalau sudah mengucap kata tersebut, untuk selanjutnya harus siap tetap melebarkan senyum walau hati kecut. Macam, “maaf gaji anda berapa? Gedhe dong? Jaminan pegawai ya? Lha itu kan pendirinya uda jadi Menteri, jaminan dong? Dapet dari pemda berapa?”

Biasanya kalau begitu, saya menunggu semua asumsinya keluar, baru membuka pertanyaan. “Kira, kalau yayasan itu negeri apa non-negeri?” dan lainnya. Namun, ada yang membuat hati ini merekah. Ada gadis muda pegawai perpustakaan kecamatan yang antusias menyambut saya yang mengenakan rompi Indonesia mengajar. “Ih, Mbak Dewi dari Indonesia Mengajar. Gimana-gimana ceritaya Mbak, saya sudah lho baca bukunya jilid 1-4 (Hah, emang ada 4? Setahuku…. Krik krik dalam hati.) lucu-lucu ya, ada yang bla bla bla. Mbak, bukunya ya dari pengajar muda ini.”

Saking seringnya bertemu orang dan mengenalkan Indonesia Mengajar, entah karena nglothok di luar kepala atau bingungnya, harus mencari tikungan-tikungan yang beda untuk tiap lawan bicara. Kadang berasa krik krik, menggebu-gebu karena lawan asyik, datar biasa saja. Hal yang masih membuatku butuh managemen adalah soal harapan perubahan. Padahal, saya sebisa mungkin tak bermaksud mengubah katakanlah kebiasaan lama dengan hal baru. Namun, saya ingin memancing tiap-tiap elemen berpikir soal kebiasaan-kebiasaan tersebut dan mereka yang menilai sendiri. Juga mereka yang menemukan kesadaran-kesadaran baru untuk memperbaikinya. 

Siang tadi, merasa dekat dengan kematian dan pasrah. Saya naik pompong (ada yang mengatakan ketinting). Sebuah perahu kecil yang muat maksimal lima orang. Saat ini di Natuna sedang musim utara, yang mana ombak dan anginnya gedhe. Sejak malam harinya saya menginap di salah satu rumah guru, rumah yang saya tempati beratap esbes dan dinding kayunya ingin melayang-layang. Rumah-rumah panggung yang berdiri di atas pinggiran laut. Bangun-bangun, hidung saya juga mulai berlendir. Karena saya berencana cuma dua hari saja di sedanau, berarti hari ini juga harus balik ke Pian Tengah. Saya dan mamak sudah janjian, bahwa mamak akan belanja ke sedanau dan saya numpang pompong ke Pian. Setelah menghubungi beberapa orang Pian dan tak ada respon, ketar-ketir bagaimana pulangnya tak ada pompong. Mamak mengabari tak jadi belanja karena tak ada pompong yang jalan. Akhirnya ada kabar kalau ada pompong yang jalan ke sedanau, jadi bisa numpang. Maklum, jika nyarter pompong mesti mengeluarkan uang dua ratus ribu. Hhmm, lumayan juga buat saya ini. 

Saya dijemput bapak. Orang-orang rumah ternyata mengkhawatirkanku. Kalau dalam kondisi seperti ini, aku sebenarnya memilih disakiti dan dijahati orang-orang saja daripada begini. Darah berasa berhenti ketika bapak tiba-tiba datang ke rumah Bu Suli. Padahal, Bapak sedang tak enak badan beberapa hari ini. Bapak usianya sudah 65an tahun. Ia juga sering masuk angin. Duh. Mata berkaca-kaca ketika dari jauh melihat baju garis-garis bapak. Yakinkah, bahwa banyak orang baik di luar sana? Jika kebaikan dibalas dengan kebaikan, aku bukan lah orang baik. Tapi, begitu banyak orang baik yang selalu saja hadir di hidupku. Bayangan ini yang sering kali membuat jiwaku berasa lepas juga sekaligus kuat. 

Perjalanan menuju Pian Tengah dari Sedanau satu jam naik pompong. Namun, bagiku seperti seharian. Apalagi daerah teman-teman lain yang lebih lebih lagi? Pemandangannya bagus. Satu-satunya langit yang bersih dan cerah yang pernah saya lihat tiap hari entah siang dan malam adalah di Natuna ini. Saya terheran-heran. Di tiap malam, saya bisa menghubungkan antar bintang menjadi sebuah lukisan indah. Mungkin ini juga tergantung suasana hati. Jadi sesuka-sukaku untuk menebak gambar tersebut. Ada gambar telapak tangan, wajah dengan bibir tersenyum, mata yang berbinar, burung, dll. Begitu juga ketika siang hari, oooo… cantiknya langit Natuna. 

Saya duduk di rumah-rumahan pompong. Sementara siswaku kelas lima anak dari pemilik pompong sesekali membantu ayahnya mengarahkan laju pompong. Namun, karena aku khawatir ku minta duduk saja di dekatku. Bapak duduk di ujung pompong dengan berpegangan di sebuah kayu. Bajunya ditumpas oleh angin ke kanan-kiri, depan-belakang. Sementara pengemudi pompong basah kuyup semua karena hantaman ombak yang masuk ke pompong. Selama di pompong, mulut ini selalu komat-kamit hingga maklap tertidur entah berapa menit. Air mulai masuk ke dalam. Sementara pompong terombang-ambing ke kanan-kiri. Tas ku peluk erat, karena ada laptop. Setengah gelo, kenapa dulu tidak beli dry bag. Sebab, laptop fasilitas kantor, jadi merasa was-was jika kenapa-kenapa. Syukurlah, masih bisa dibuat ngetik catatan ini. Mesin mulai mengeluarkan asap dari besi yang panas terhantam air laut. Banjir sudahlah dalam pompong. Mesin mulai dipelankan, dan pengemudi mengeluarkan air sedikit demi sedikit. Aku kian mual. Kepala pusing. Telinga tak mendengar apa-apa. Penyesalan datang, kenapa aku tak membawa pelampung. Sudahlah yang terjadi terjadi lah. 

Ketika mulai nampak rerimbunan pohon bakau, hati sedikit tenang. Namun, angin tak kunjung juga hadir pelan. Ingin sekali terbang langsung ke darat. Aku memang takut dengan air dengan jumlah banyak. Apalagi ditambah angin. Maka, sudah bertahun-tahun lamanya belajar renang tak bisa-bisa hingga kini. Karena aku belum bisa berdamai dengan diri dan mengatasi ketakutan. Aku sadar, aku tak perlu berani. Hanya saja perlu mengatasi ketakutan. Ya, mengatasi ketakutan dengan memupuk harapan. 

Malam pergantian tahun 2016 ini, beberapa orang desa pergi ke kota kabupaten untuk menyaksikan kembang api. Jarak tempuh desaku dengan kabupaten 72 kilo. Orang-orang rela menempuh jarak tersebut untuk berkerumun dan melihat kembang api yang mungkin hanya setahun sekali. Sementara, malam ini di desa listrik mati karena uang subsidi minyak belum cair. Aku memilih menepi dari kerumunan dan melewati pergantian malam ini dengan menulis catatan kecil ini sembari menunggu ditelpon kawan. Tapi PHP! Di sini hanya bisa pakai kartu telkomsel. Sementara membeli pulsa adalah perjuangan. Kadang aku merasa sepi nyit-nyit dan ingin diberi tahu informasi di luar sana. Haha. 

31 Desember 2015 | 11:05 PM

Senin, 12 Oktober 2015

Melepas Kengerian


Beberapa hari lagi, aku akan bergabung dengan kawan-kawan calon pengajar Muda Indonesia Mengajar. Entah atas apa, aku mengambil keputusan ini. Namun, ada perasaan yang berbeda dari beberapa keputusan yang pernah aku ambil. Jika sebelum-belumnya, ada rasa yang ‘harus dan kudu’, kali ini aku ingin sekadar hadir melewati prosesnya dan sudah. Tanpa mau mikir ribet. Jika kata orang mungkin, ‘mengikuti hati’, tapi lha wong aku sudah tak punya hati! Aku memilih membuang hatiku ke tong sampah pada jam 1 dini hari. Dan 5 menit kemudian, Pak Abadi mengambilnya lalu melempar ke bak sampah. Ya, sejak itu aku benar melepas hatiku. Baru kali inilah, aku patah hati. Sakit memang. Maka, agar aku tak patah hati (lagi) di kemudian hari, aku membetot hatiku dengan catut kecil. Toh, tanpa hati aku yakin akan masih bisa tersenyum.

Patah hati dengan apa yang menyertaiku dan juga keputusan yang pernah ku ambil. Hingga membuat membersalahi diri. Sebenarnya, toh aku bisa tak berpikir dalem soal ini. Tapi, cobaan pada diriku, ku sadari memang terus menerus membersalahi diri dari dulu. Aku ngeri dengan diriku sendiri. Pada semut-semut yang ada di kepala ini. Walau sebenarnya tak semua bermula dari diriku. Namun, lebih banyak aku ‘meresapi’ apa-apa di sekitarku. Aku benar patah hati. Ini kondisi buruk yang pernah ada dalam diri.

Dalam kondisi kepatahhatian ini, kakiku diajak untuk menempuh serangkaian proses seleksi IM. Memang, IM sempat ada di kerangka pikirku di awal kuliah. Aku meliat brosur IM di UKM. Setelahnya ku baca dan browsing di websitenya. Mulai kian tertarik. Hingga brosur itu ku temple di kos pertamaku (al-baa’its). Kos yang masih terbuat dari papan kayu. Kamarku itu yang sudah bergonta-ganti penghuni (sebab aku pindah kos), masih memampang brosur itu. Walau di sana-sini sudah tertempel banyak hal kesukaan penghuninya, namun brosur itu masih ada. Akhir-akhir kuliah, saat hatiku mulai patah aku baru nggeh saat berkunjung ke kos itu. Ada senyum kecil yang menyungging. Semacam aku diingatkan kembali. Oh Tuhan…. Saat ini, kosku itu sudah diruntuhkan. Dan dibangun baru dengan model kos kekinian. Perih!

Mengikuti IM hanya dengan satu motivasi, mengembalikan senyuman seperti kala sd dulu. Terlepas dari tugas berat yang diemban, aku ingin menggunakan intuisiku. Mengembalikan keceriaan saat masih mengenakan seragam putih-merah. Dimana, aku bisa naik-turun sungai saat musim kemarau, bermain-main di sawah belakang sekolah, jajan minuman limun, bermain kasti, jalan-jalan ke rel kereta yang sudah tak fungsi.

Teringat seorang kawan yang memandang sesuatu dengan pesimistik dan aku selalu menolaknya. Bukan karena aku memandang sesuatu secara ideal, tapi dalam kondisiku aku hanya ingin menjaga ikhtiar. Walau sering gagal. Dan sekarang aku paham bahwa pemistik itu, kumaknai saat ini dengan patah hati. Atas kengerian patah hati itu, lagi lagi aku membersalahi diri. Bagi siapapun, aku memang jahat. Dan menebus dosa bukan perkara mudah soal maaf. Akan ku biarkan diri menebus sedalam-dalamnya, sebahagia-bahagianya, dan seduka-dukanya.

 Dan ku tegakkan langkah ini dengan niat ingsun. Walau sesekali, ibuk masih sering menatapku dengan tatapan dalam. Entah apa yang ada di pikirannya, ia hanya masih ngeri soal jarak. Bagiku, bukan soal jarak lagi Buk, tapi kekuatan ‘rasa’. Bukan soal pula manisnya kata, namun doa. Soal ibuk yang tak pernah mengatakan apapun, namun selalu menghadapi. Ya, menghadapi kengerian. Kami yang dalam diam, namun saling menjaga. Akhirnya, selamat buat kita semua, calon pengajar muda.


Rumah, DM, | 12 Oktober 2015

Sing Sabar Ya Bos…

Nenek moyangku orang peluat, gemar arungi luas samudra…

Tentu pernah menyanyikan lagu ciptaan Ibu Soed tersebut bukan. Atau minimal tahu syairnya. Nenek moyang kita seorang pelaut.
Pak Ju dan Pak Ron adalah punggawa di kelompok lingkungan camar
Saya berkesempatan mendengarkan cerita nelayan Tambak Lorok, Tanjung Mas, Semarang Utara, Sabtu-Minggu (3/4). Berbincang dengan mereka layaknya berhadapan dengan seorang akademisi. Mereka berani menuturkan pendapat, menceritakan pengalamannya, siap dikritik, dan perbincangan kami berlangsung hingga larut malam. Mereka lulusan sekolah dasar bahkan ada yang tidak lulus. Saya pun sedikit menyangsikan ada akademisi yang mau seperti ini. Walau sebagian banyak yang menjihadkan intelektualnya untuk masyarakat. Nelayan tambak lorok ini mempunyai selera humor tinggi. Tak seperti seorang akademisi yang cenderung kaku. He he.

Pak Yeyen namanya, seorang nelayan yang juga sebagai ketua kelompok nelayan di rukun tetangganya mengatakan hidup individual nelayan kian kembang kempis. Apalagi menghidupi kelompok nelayan dengan berbagai kegiatan. Mestinya, dibentuknya organisasi kelompok nelayan agar bisa saling berbincang dan minimal dapat meningkatkan perekonomian anggota. Tapi? Pak Yeyen seorang yang sedang bersemangat mengelola organisasi. Sejak 2012, memang desa tersebut menjadi mitra dari sebuah kampus dan BUMN. Nelayan di sana akrab dengan bahasa-bahasa yang digunakan akademisi. “Saya dulu melihat acara debat atau berita di tv sangat jengkel. Tapi sekarang diajak diskusi dari pagi hingga pagi lagi siap. Tentu harus ada kopi. He he,” tuturnya.

Nelayan tersebut juga meresahkan peraturan menteri Susi Pudjiastuti yang hanya membuat peraturan tapi tidak memberikan solusi. Misalnya, nelayan dilarang miyang (melaut mencari ikan) dengan menggukan alat-alat yang tidak ramah lingkungan seperti pukat. Sebab, alat tersebut dapat merusak ekosistem dan menangkap semua jenis ikan hingga ikan-ikan kecil. Nelayan diharap dapat menggunakan alat ramah lingkungan seperti jaring. Mereka memberikan hitung-hitungan, jika menggunakan jaring, miyang tak bisa dilakukan sendiri di laut lepas. Dalam satu perahu minimal 3 orang. Sekali miyang, nelayan bisa dapat 190 ribu hingga 250 ribu. Hasil tersebut mesti dikurangi biaya solar yang sekali jalan bisa mencapai minimal 10 liter. Kemudian dibagi 3 nelayan, lebih-lebih jika perahu rusak. Tenaga nelayan yang makin menurun di saat usia kian bertambah dan kebutuhan sehari-hari yang kian mendesak. “Tidak dapat apa-apa, Mbak,” tuturnya.

Makanya mereka mengambil langkah praktis yakni miyang dengan menggunakan alat semacam pukat. Sebab, bisa dilakukan sendiri dan tenaga tidak terkuras. “Saya mau taat menuruti peraturan menteri, tapi ya harus ada solusi.” Nah, apalagi menghidupi organisasi dengan kondisi seperti itu. Walau ketua semangat, tapi anggota acuh. Diajak untuk bergerak bersama tidak bisa. Jika obrolan kami menemui kebuntuan, selalu ada celethukan “sing sabar ya bos” dengan disertai gelak tawa.

Artis Tambak Lorok. ha ha...
Beban nelayan tidak hanya pada sampai di situ saja. Di tambak lorok, selalu ada rob yang datang hingga empat kali dalam setahun. Permukaan laut lebih tinggi dari tanah yang ditinggali nelayan. Membuka pintu rumah belakang mereka langsung terhampar laut luas. Padahal sebelum rob masih ada jarak 1 kilometer untuk menuju pantai. Otomatis, rumah-rumah warga kian ambles dan mesti dilakukan peninggian. Bagi yang tidak sanggup melakukan peninggian rumah, mereka hidup dalam ruangan yang jarak lantai dan atapnya begitu dekat. Melewati pintu saja mesti membungkuk untuk berhasil masuk.

Jika hidup menawarkan banyak pilihan-pilihan, bagi nelayan Tambak Lorok tak ada pilihan selain miyang dan tetap bertahan di daerah tersebut. Walau kadang, saat tidur pulas akibat terlalu capek miyang, harus terbangun karena sudah kemambang di atas air. Ya apalagi kalau bukan akibat rob. Masyarakat pinggiran kota semarang semakin terdesak oleh reklamasi hingar-bingar pembangunan hotel dan gedung-gedung bertingkat di sana-sini. Walhasil sedikit demi sedikit semakin tergusur keberadaannya. Suasa hening, mata kami mulai sayup, kami semua diam sembari menyruput kopi. “Sing sabar ya boss,” celethukan satu diantaranya. “Walau bagaimana kondisinya yang penting masih bisa ngguyu,” lanjutnya. Ha ha…


Dewi Maghfi, calon Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar

Jumat, 02 Oktober 2015

Pulau yang Sunyi

Gambar diambil dari telusurindonesia.com
Di hadapanku ada seorang yang baru datang kira sepuluh menit yang lalu. Sebelumnya aku dengan seorang teman membincangkan topik ‘selamat’. Ah, entah sebab apa kupingku macam ngeri mendengar kata itu. Kami pernah ngobrol pada suatu malam yang tak begitu panjang, namun berkualitas. Aku yang tertarik memahami orang, sejak itu ketertarikanku kian meningkat untuk memperhatikan siapa pun. sebab, dari situ aku paham diri. Hampir, aku memahami banyak hal dari luar diri. Aku mengaca di sekeliling. Entah, ini suatu hal baik/tidak baik, yang tidak mengakui kedirian atau tidak menjadi diri sendiri sungguh lah aku tak tahu. Bagiku tak masalah dinilai ‘tak menjadi diri sendiri’ atau apalah. Sebab, aku menemu diriku pada diri yang lain. Bagiku terlalu susah dan sakit untuk melulu memahami diri sendiri pada diri ini. Aku hanya ingin bertemu banyak orang dan menampung ‘sampah-sampah’ nya. Toh, rasanya pas sekali sewaktu aku membuat permainan haha-hihi ketika up-grading bp2m 2015, ‘aku adalah tong sampah’ tulisnya di selembar kertas merah muda. Permainan itu menulis tentang apapun yang dipikirkan, dimasukkan kotak, lalu mengambilnya secara acak. Tak ada interpretasi. Dibaca, didengarkan, selesai.  

Rasa-rasanya pas saja. Semesta ini bergerak atas kehendak-Nya. Belakangan memang aku lebih menjalani perjalanan ini dengan intuisi saja. Aku itu seorang yang bebal. Seorang yang sakit namun berlagak sehat. Seperti jembatan kayu gantung yang nampak naas, tapi anak-anak yang memakai seragam sd masih menggelayutinya (fokus media, selalu pada anak-anak yang berani/terpaksa menyebrang demi cita-cita. Tapi, bagaimana orang berpikir untuk meneliti jenis kayunya yang bertahan puluhan tahun? Berapa tahun kayu tersebut ditanam? penyebrang generasi pertama mempergunakan untuk penyambung perut atau peningkat gubug? Sayang, yang di sana hanya berpikir “kasih anggaran untuk dibuat jembatan beton yang jika bernasib baik akan awet pula.”

Apalah kata-kata yang pantas untukku. Tapi, aku akan tetap mendengar. Aku sadari aku sebenarnya bukan seorang yang berani bicara. Cuma aku berlatih untuk berbicara secara berani sebab suatu kondisi yang mendesak ‘sendi-sendi’ keberanian itu. Aku resapi, aku ngeri dengan diri sendiri. Berapa orang yang pernah sakit hati dengan mulut ini, berapa orang yang melihat mata ini saja tidak berani, berapa kali tangan ini menggebrak meja, berapa kali mulut ini mengumpat, siapa saja yang langkahnya luluh-lantah sebab atas mulut ini, dan berapa kali keinginan untuk menonjok tapi berujung derai air mata. Ah….
Orang di depanku sekarang terbaring. Kami tidak melakukan obrolan sepatah kata pun. Aku memang seperti ini, tak bisa mengawali obrolan di kala melihat muka lawan yang sengeri itu. Aku punya anggapan bahwa, bicara bukan hanya lewat kata. Aku memahami kegelisahannya, dan cukup. Masing-masing butuh ruang penjernihan pikiran. Ia memilih tidur dan aku masih ngetik. Pembaca pasti akan terkecoh dengan pertanyaan ‘who’ bukannya ‘why’. Sebab, menyintas jalan memang praktis dan mudah. Yakni menjawab siapa yang hanya sepotong, daripada memahami mengapa yang membutuhkan narasi. 

Ada seorang kawan yang mengirimkan tulisan tentang pulau di seberang pulau yang sunyi tanpa kehidupan manusia. Saat ini aku terbawa dalam tulisan tersebut. Aku sedang di pulau yang sunyi, pulau bp2m. Sering sekali, menikmati pulau ini sendiri, dulu. Sayang, lagi lagi aku tak berani berlayar jauh. Atau memang tak mampu. Sebab, aku hanya punya perahu kertas. Satu-satunya kerajinan kertas yang bisa ku buat, ‘perahu-perahuan’. Gampang, sederhana, dan bayanganku hanyalah seorang gadis kecil yang sedang memegangi perahu kertas tersebut di pinggir laut menunggu senja. Ia hanya akan mengirimkan senyum kecilnya tanpa pernah ingin menghanyutkan perahunya. Naas, Aylan Kurdi ditemukan tak bernyawa di bibir laut! Bagaimana tidak, pandangan gadis kecil tersebut teraduk-aduk! Ah…

Lukisan Dewi Candraningrum Pemred Jurnal Perempuan
Bisa dikatakan aku memang terdampar di pulau yang sunyi ini. Apa-apa yang tak pernah mampir secuil pun di benak ini sebelumnya. Semua benar-benar baru dan tak bisa dihindari. Tentang terdampar, selalu menghadapkan pada yang nikmat dan lara. Betapa bersyukurnya, bahwa kenikmatan tak butuh (si)apapun hadir dan tergenggam. Namun, jika ‘fuad’ (lebih dalam dari qalbu dalam bukunya A. Chodjim Membangun Surga) merasa sunyi dan benar harus berpulang pada yang hakikat (semoga jika apa yang saya rasakan benar). Memahami perjalanan selalu menawan dan unik. Juga ingatan kengerian di tikungan.

Sementara lara, bahwa aku kembali di pulau ini dan mungkin bisa saja yang terakhir. Kelaraan bukan benar-benar hadir dari luar diri. Sampai saat ini, belum ada lara yang selara-laranya hadir dari pulau sunyi ini. Hanya, lara itu datang dari dalam diri. Dulu, sesekali menusuki dan menyanyat. Belakangan hadir dua kali lipat bahkan dilumuri garam. Lara itu datang dari dalam diri. Ini yang membuat susah untuk mencari penyembuh. Maka, seringkali diri ini membentangkan jurang, jarak, dan jangkauan agar sedikit mengobati secara sadar dan otomatis. Saya paham bahwa, jika maksud baik akan tersampai serupa walau harus melewati yang melelahkan. Pulau sunyi ini telah mengajariku banyak hal. Walau ia benda mati, toh mampu menggerakkan diri untuk berlelah-lelah yang menyenangkan.

Mungkin, aku saja yang hanya mengharu-biru? Atau yang lain juga? Atau malah tidak ngeh? Atau justru menyayat-nyayat? Sesungguhnya jika ingin berjujur pada diri, aku memang mengharu-biru yang objektif. Jadi, nikmat dan lara memang menyatu. Jika ada pertanyaan pada si(apa) aku cinta? “Hanya satu selain bagian dari jiwaku (ibuk), yakni pulau yang sunyi ini.” Betapa, aku benar merasakan cinta (jika benar ini ‘isqh’ seperti yang dikatakan Rumi). Tentu standar cinta satu dengan yang lainnya beda. Dan standarku mungkin ‘gitu-gitu’ aja. Jika ada yang bilang bahwa jatuh cinta itu hanya orang yang jatuh cinta saja yang mampu merasakannya. Aku pun mengamini, ‘hanya aku yang bisa merasakan ini dan membuatku gilak’. Apa aku bodoh cinta yang bukan pada sesosok makhluk, manusia misalnnya?

Saat ini, pemahamanku cinta ya ‘nikmat dan lara’ itu. Jadi, fokusku memang pada yang ‘nikmat dan lara’. Dan pulau sunyi ini adalah penghubung, ruang antara. Boleh jadi, aku tidak berada pada titik yang sama, namun aku-ia bisa meresapi yang nikmat dan lara tersebut. Apa aku perlu menanyakan apa ia meresapi hal yang sama? Tentu tidak! Sekali lagi kata hanyalah lumuran garam pada sayatan. Saat ini saja, ia telah bisa membuatku untuk duduk, diam, tenang dalam mengetik, senyum kecil, sesekali mengumpat, ruang yang kacau balau (paling males liat kek gini! Bagiku barang harus tertata rapi), tumpah ruah linangan air yang berjam-jam (membayangkan aja susah! Tapi kog bisa? Setelahnya bahkan berlanjut berjam-jam lagi).

Foto diambil dari indonesiamengajar.org
Hanya pada pulau sunyi ini, aku yakin membicarakan cinta. Belum pernah sekali pun benar memahami cinta selain ini. Aku gila? Memang! Aku lebay? Anak sekarang menyebutnya iya! Perjalanan memang lucu dan tak bisa ditebak, bisa jadi pengakuan ini akan runtuh beberapa waktu ke depan saat dihadapkan pada hal baru. Namun, aku ingin jujur (hal yang susah ku selesaikan pada diri) aku cinta! Pada jiwa-jiwa yang satu akan paham dan meresap bagaimana gaungnya. Bagaimana ngilunya. Dan keinginanya untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju yang hakikat. Inilah kenikmatlaraanku! Jawaban atas banyak hal yang mampir pada diri! Semoga, semoga tidak berlebihan dan belajar dalam takaran yang pas!


Dewi Maghfi | 03 Oktober 2015 | 01:05

Kamis, 17 September 2015

Membaca Ruang Spiritualitas NH. Dini


Judul        : Dari Ngaliyan ke Sendowo
Penulis     : NH. Dini
Tebal       : 268 Halaman
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama

Membicarakan ruang spiritualitas masing-masing orang begitu beragam dan berbeda jalannya. Tidak ada yang lebih bagus atau buruk. Lebih tinggi atau rendah. Yang ada hanyalah masing-masing orang senantiasa merenungi ruang spiritualitasnya. Dan pada akhirnya, masing-masing mengamalkannya dalam laku keseharian.

Membaca novel Nurhayati Sri Hardini atau lebih akrab dikenal NH. Dini yang berjudul Dari Ngaliyan ke Sendowo setidaknya ada hal yang bisa direnungi oleh pembaca. Jika sastra bersentuhan dengan jiwa dan kepekaan manusia, maka menyiapkan ruang kontemplasi sehabis membaca adalah hal yang tak bisa terhindarkan. Setelah membaca novel ini, saya menemukan berkali-kali NH. Dini menyebut berulang-ulang ‘spiritualitas’ lalu menyebutkan nama. Entah kawannya, guru, kemenakannya, dll.

Novel ini menceritakan NH. Dini dari perjalanan ruang yang bernama Ngaliyan di Semarang dan Sendowo di Jogjakarta. Nah, di antara jeda ruang tersebut, ia kadang menukik ke ingatan di  masa silam bersama Yves Coffin (mantan suami yang seorang diplomat prancis) dan kedua anaknya, narasi sikap saat menerima writer’s award, keterhubungan ia dengan ibunya, dan orang-orang di sekelilingnya.

Beberapa contoh NH. Dini menyebut berulang orang-orang yang baginya mempunyai jasa dalam laku spiritualitasnya semisal,
“….novel La Peste karangan Albert Camus, seorang pengarang Prancis penerima hadiah Nobel tahun 1957 diminta oleh penerbit itu. Terjemahan itu dulu adalah ‘pesanan’ UNESCO lewat perantaraan Yayasan Obor Indonesia di bawah pimpinan Abang Spiritualku Mochtar Lubis.” (hal: 120)
“….kemudian Ramadhan sekeluarga kembali ke Tanah Air. Sahabat-sahabatku itu tidak mengirimiku surat lagi, melainkan kadang-kadang memanggilku lewat telepon genggam hadiah dari Nanis, anak mbakyu spiritualku Retno Hadian.” (hal: 135)
“….Pagi itu, adik spiritualku Nobuko datang. Aku sangat gembira bertemu lagi dengan dia. Wajahnya selalu cerah. Dalam hati, aku benar-benar menganggap dia sebagai himoto-cang-ku.” (hal: 174)
“….Siang itu seperti di waktu-waktu lain ketika aku menonton kabuki…… Pikiranku melayang kepada Ngesti Pandawa, kelompok pertunjukan wayang wong di kota kelahiranku. Masing-masing memiliki kekayaan spiritual yang sepadan, namun kemewahan dan kemodernan sarana mereka seperti bumi dan langit…… Kebahagiaan itu tersaput oleh keharuan kenangan kepada bapak spiritualku Kusni Tjokrominoto….”(Hal: 177)

Saya menangkap bahwa dalam apapun yang dikerjakan NH. Dini entah kebahagiaan, kesedihan, kesulitan, kebaikan orang lain orang perlu untuk mengingat kediriannya. Bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Tuhan menghadirkan banyak manusia untuk saling tolong-menolong. Nah, itu yang diyakini NH. Dini sebagai ruang spiritualitas. Bahwa asupan spiritualitas tidak hanya dapat disuplai lewat ritual keagamaan. Namun, apapun yang dilakukan dalam keadaan sehari-hari mesti dimaknai sebagai laku spiritual.
Semisal sikap NH. Dini untuk memperlakukan air dengan hemat dan secukupnya. Ia rela berbagi dengan tanaman-tanaman hiasnya agar sama-sama tumbuh. Juga ia sangat memperhatikan kucing peliharaannya yang bernama Ipus. Ketika Ipus tidak pulang ke rumah maka ia cari ke mana-mana. Ketika Ipus sakit, ia membawa ke dokter hewan. Padahal saat bersamaan, ia juga mesti menghadapi operasi batu empedu dengan uang yang pas-pasan bahkan kurang. Ia rela berbagi kesembuhan dengan Ipus. NH. Dini memperhatikan dari tindakan-tindakan kecil yang ia lakukan sehari-hari.

Dalam perjalanan hidupnya ia berusaha memasrahkan segala sesuatunya pada Gusti. Seperti kutipan “Jika diiringi dengan ketulusan. Gusti Allah pasti Maha Mengerti semua doa yang diucapkan dalam bahasa apa pun.” Juga keterhubungan ia dengan Ibunya yang sangat kuat. Di banyak sub bagian novel ia sering mengatakan mendapat tuntunan dari ibunya berupa ucapan untuk menghadapi rintangan apapun. “…Bersyukur, Ndhuk, bersyukur! Bisikan Ibu terdengar berulang kali di libuk batinku.” Atau “…Dilakoni wae, Ndhuk! Suara ibuku yang berbisik mantap di hati.”

Novel ini juga menceritakan menginjak awal masa yang disebut manusia lanjut, Dini mengalami tambahan kesulitan dalam menyikapi kehidupan. Yang pertama adalah seringnya mengalami gangguan kesehatan, sedangkan hal kedua ialah sekarnya mendapatkan tenaga guna memabntu mengurus rumah tangga serta Pondok Baca. Kebiasaan masa lalu, di mana kaum wanita berdatangan dari desa ke kota untuk bekerja sebagai pembantu atau pamong balita, telah berubah. Mereka memilih menjadi karyawati di berbagai pabrik yang bertumbuhan di sepanjang jalan-jalan besar pinggiran kota.

NH. Dini seorang yang menjihadkan dirinya untuk menulis. Di usia senjanya kini ia masih tetap menulis dan menerima undangan berbagi ilmu di perguruan-perguruan tinggi, komunitas, kelompok diskusi, dll. Sejumlah seri cerita kenangannya telah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Sejak tahun 2013, NH. Dini bermukim di Wisma Harapan Indah Banyumanik Semarang. Novel yang menceritakan perjalanan hidup ini berulang menceritakan hal yang sama. Sebagai pembaca kadang sudah menemukan narasi di bagian awal novel namun juga akan menemuinya di tengah atau belakang. Walau begitu, novel ini menarik untuk dibaca. Setiap perjalanan adalah melihat dengan mata yang baru. Juga mencari yang ‘hakikat’ dari diri.

Dewi Maghfi


Aylan Kurdi



Baru-baru ini dunia maya digegerkan ketika ditemukan seorang bocah (3 tahun) tak bernyawa di pantai dekat kota wisata Bodrum, Turki. Ia adalah Aylan Kurdi. Bersama orang tua dan ribuan orang lainnya ia meninggalkan negeri mereka yang dihancurkan oleh kebiadaban kelompok bersenjata Negeri Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Mereka membunuh siapa pun yang dianggap bukan bagian dari mereka.

Hingga akhir tahun 2014, PBB mencatat konflik di Suriah, Libya, Afganistan, dan beberapa negara Afrika menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan 60 juta lainnya mengungsi. UNHR mencatat jumlah pengungsi di Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat 19 persen, di Asia 31 Persen, dan Eropa 51 persen seperti dilansir Kompas, Sabtu (13/9).

Aylan hanyalah satu dari korban anak yang jasadnya ditemukan secara mengenaskan. Masih banyak anak-anak lainnya yang mengalami nasib yang sama. Selayaknya bocah berusia 3 tahun yang mestinya menikmati masa-masa bermain untuk tumbuh kembang, ia melepas nyawanya dengan mengenaskan. Paru-paru seorang bocah yang belum sempurna kemasukan air bahkan mungkin berjam-jam atau berhari-hari. Betapa pedih matanya terkena air laut. Tubuh yang membiru sebab dinginnya air laut. Membayangkan bocah sekecil itu meregang nyawa di lautan lepas, membuat hati saya teraduk-aduk.

Orang-orang dewasa yang mengatasnamakan agama telah menabuh gong peperangan pada siapa saja. Orang-orang yang menjadi musuhnya adalah sesama orang dewasa. Tapi lihatlah, anak-anak yang menjadi imbasnya. Sedari kecil, anak dihadapkan pada kekerasan, perlakuan bejat, hingga kematian di tangan orang dewasa. Itu semua sebab laku biadab orang dewasa.

Anak merupakan masa depan. Anak mengandung hal-hal yang memesonakan. Rabindranath Tagore bersyair dalam Gitanyali tentang dimana anak-anak berkumpul, bermain, dan mencipta. “Di pantai dunia tiada terbatas,” kata Tagore. Di sana mereka mendirikan rumah-rumahan pasir dan bermain lakon kosong. Di sana mereka menganyam kapal-kapal dari dedaunan kering dan melayarkannya sambil tertawa ria. Di sana pula Aylan tertelungkup tak bernyawa!

Lalu mengapa mesti ada agama jika bukannya menuntun pada cahaya ilahi, tapi justru menghabisi dengan cara-cara yang keji? Benarkah pengatasnamaan agama oleh sebagian kelompok untuk meraih ridho ilahi? Lalu dengan cara apakah tingkat keimanan seseorang ternilai?

“Ah, itu bukan ajaran agama. Orangnya saja yang punya kepentingan,” terang Darman di sebelahku. “Apakah agama dan kepentingan mesti dipisahkan dalam bagian tersendiri? Setahu saya agama adalah pedoman kehidupan dan kepentingan adalah bagian dalam kehidupan? Sekalipun agama, ia baru hadir kemudian setelah Adam dan Hawa diciptakan, setelah manusia terseok-seok menjalani urip,  baru agama hadir untuk menyempurnakan? Bukankah jika kita ini benar manusia, mestinya mempunyai naluri kemanusiaan? Ah, Dar. Dunyo iki karepe piye ora mudeng….”

Mengakui agama satu yang benar memang berdampak pada fanatisme. Katakanlah islam sebagai agama yang benar. Namun, islam juga agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam ayat-ayat al-Quran memang nampak ada ayat-ayat yang paradoksal. Semisal, islam sebagai agama yang benar atau penyempurna. Namun ada ayat yang mengatakan agamaku agamaku, agamamu agamamu. Dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab dikatakan bahwa penafsiran tidak bersifat kaku dan berdiri sendiri. Selalu ada asbabun nuzulnya. Bisa dikatakan luwes untuk menyempurnakan jalan urip saat ini. Dalam arti, menafsir ayat-ayat Quran untuk menuntun hidup sezaman ini begitu penting. Al Quran sebagai penuntun hidup bukan untuk merusak naluri kemanusiaan. Aneh bukan jika seorang disebut manusia tapi mengingkari kemanusiaannya, Dar? Dan terjebaklah pada hal-hal yang berbau ekstrimisme. Biadabnya, hal macam itu kencang disuarakan mengatasnamakan agama!

Saya pernah membaca sebuah buku, ada seorang dokter yang awalnya menjadi relawan bagi pengungsi di Timur Tengah. Akhirnya ia menulis cerita tentang kebiadaban kelompok ekstrimisme. Di buku tersebut bahkan ia menulis “Agama saya bernama kemanusiaan.” Barangkali berangkat atas kekecewaan dan kepedihan yang mendalam ia mengibarkan bendera kemanusiaan. Apalah arti agama itu jika…. Namun, agama tetap suci. Agama menjadi penuntun urip dari dan menuju-Nya. Laku sekelompok orang lah yang telah melukai agama. Agama, keimanan, tak sesiapa pun yang bisa menilai. Saya yakin dalam diri tiap manusia ada ‘hakikat’ untuk kembali pada-Nya. Entah namanya ruh, jiwa, fuad, naluri, pikiran atau apalah. Tinggal tiap manusia menuntun yang hakikat itu dalam laku keseharian dengan sungguh-sungguh, bi jaddin istilah lainnya.

Sesungguhnya jika di Bumi ini hanyalah terminal menuju yang kekal, kita berarti tinggal menunggu kiamat datang. Dan kemunculan Djajallah yang ditakutkan. Tangannya adalah gergaji yang siap membelah tubuh siapa saja yang tak mengikutinya. Lalu melumurinya dengan garam. Bukankah Djajal tersebut sungguhlah diri kita sendiri, Dar?

Dewi Maghfi, manusia yang mencari makna kemanusiaan

Sabtu, 05 September 2015

Luka, Musa, dan Saga


Melangkah seperti bukan. Menatap seperti kosong. Berbicara justru menikam. Tujuh bulan ini berlalu dengan kehampaan. Hambar. Ada yang aneh pada sang diri. Aku  yang masa tingkat dasar. Aku  yang masa menengah. Aku  yang masa tinggi. Dan masa sesudahnya terus membulat ruwet. Membacanya semacam menuntut penyembuhan. Apa aku sedang terluka? Di titik mana luka tersebut? Aku tidak tahu di titik mana aku terluka. Yang pasti aku ingin menempuh jalan baru untuk sembuh.  

Membaca luka bukan semata sepenuhnya memasukkan sang diri. Bahkan, di situ lah kegagalanku untuk menemu sang diri. Tentang masa kanak yang melintas. Tentang tanah yang menjadi saksi ketercerabutan. Tentang ruang yang memabukkan. Tentang menjadi bebal atas ‘rasa’. Tentu semua hal yang mengkonstruksi diri. Dan sebab satu hal, narasi panjang nan berliku.

Luka yang mengukir memang perih. Katanya orang tua dahulu, “mandilah di laut Nak untuk menghilangkan segala penyakit.” Jika penyakit adalah luka. Apa laut sanggup untuk menampung luka-luka ini? Betapa jijiknya manusia yang sering menumpahkan segala lelah, kecewa, kemarahan pada laut. Kamu begitu kasian laut. Betapa mulianya dirimu menjadi pendengar yang baik. Dan sesekali marah. Aku ingin, aku ingin duduk mendengar ceritamu. Seberapa pun lukaku, aku akan kuat jika kau sapu pipiku dengan desir angin laut. Aku hanya ingin bercumbu denganmu. Malam ini, aku membayangkan kau sedang memelukku. Di remangnya sang malam, aku menatap kau begitu lekat, lekat, dan menahan agar kuat. Aku yang duduk di bibir laut, dengan lembut kau kecup lembut bibirku. Sekali saja. Berkali-kali kau menghempasku dengan sapuan ombak yang pecah. Aku masih duduk di sana, tak beranjak. Seluruh badanku kuyup, namun aku tak merasa kedinginan. Sebab, kau sedang memelukku walau sembari menusukkan sebilah pisau.

Bukan. Bukan sebab aku tak berdaya. Justru sangat bertenaga. Namun, sebagaimana ibu adalah laut, yang mana perempuan. Aku tak sanggup memandang dengan lantang. Ingin sebenarnya mengajari untuk melecutkan pecut, sekali lagi bukan soal tak berdaya. Ibu, laut, semakin keras kepala. Ia terus berjalan demi. Demi apapun di luar sang diri. Seperti Musa yang dengan seenaknya menyabetkan tongkat untuk membelah laut. Menginjak-injaknya. Musa memang hidup dengan nama besar. Maka ia memegang kuasa. Walau mungkin dengan niat yang baik, Musa telah sewenang mengiris laut. Musa telah memisahkan keutuhan diri laut. Memisahkan sang aliran kehidupan. Mengelompokkan yang baik dan tidak baik. Yang kanan dan kiri. Lalu yang terakhir yang tertumpas. Menyisakan aliran merah saga. Menganga.

Maka kemudian ada berbagai macam rupa ibu. Ibu yang kiri dan kanan. Ibu yang atas dan bawah. Ibu yang mengapit ketiak dan menyudutkan siku lancip. Ibu perhiasan dan ibu batu. Ibu yang terpisah dari keutuhannya. Kau tahu Bu, kamu tak benar salah. Sebab di luar memang sungguh kejam. Mereka merekonstruksi segalanya tentang ibu. Yang modern bahkan tradisionalis. Ibu adalah laut. Ia harus benar-benar tetap menjadi utuh walau pora-poranda. Ia bukan berjalan untuk menyiku lantas mengedepankan nafsu. Ia berjalan atas langkah spiritualisme. Dunia kejam, Bu. Maka kamu harus tetap tegar, walau sebenarnya remuk. Ibu, laut, tak bisakah mereka memandang dengan suci? Memandang sebagai makhluk yang mesti kembali pada haribaan-Nya?

Dewi Maghfi| 05 September 2015


Selasa, 25 Agustus 2015

Integritas Ada di Punggung Tangan Kita!


Konon, di Tiongkok kuno orang menginginkan rasa damai dari kelompok Barbar Utara. Itu sebabnya mereka membangun tembok besar. Tembok itu begitu tinggi dan tebal sehingga mereka sangat yakin tidak seorang pun bisa memanjatnya atau menghancurkannya. Sejak tembok itu dibangun dalam seratus tahun pertama, setidaknya Tiongkok telah diserang tiga kali oleh musuh-musuhnya, namun tidak ada satu pun yang berhasil masuk karena temboknya yang tinggi, tebal, dan kuat. Suatu ketika, musuh datang dan membisiki penjaga perbatasan dengan ‘janji-janji’. Saat ini orang lebih akrab dengan kata ‘suap’. Apa yang terjadi kemudian?

Musuh berhasil masuk. Orang Tiongkok berhasil membangun tembok batu yang kuat dan dapat diandalkan, tetapi gagal membangun integritas pada generasi berikutnya. Seandainya, penjaga pintu gerbang tembok itu memiliki integritas yang tinggi, ia tidak akan menerima suap yang akhirnya akan menghancurkan dirinya juga orang lain.

Integritas berasal dari bahasa Inggris integrity, yang berarti menyeluruh, lengkap atau segalanya. Kamus Oxford menghubungkan arti integritas dengan kepribadian seseorang yaitu jujur dan utuh. Paul J. Meyer menyatakan bahwa “integritas itu nyata dan terjangkau dan mencakup sifat seperti: bertanggung jawab, jujur, menepati kata-kata, dan setia. Atau dalam bahasa latin integer yang artinya utuh. Lawan dari integritas yakni hipokrit. Bahasa inggrisnya hypocrisy yang artinya bohong.

Dalam sebuah tulisan Andreas Harsono, ia menarasikan bagaimana kawan sesama jurnalis yakni Bill Kovach pencetus sepuluh elemen jurnalisme memegang teguh sikap independensi. Hemat saya, sikap independensi dan laku integritas adalah dua modal yang mesti dimiliki manusia sebagai pertanggungjawaban keilahian. Independensi lebih pada memperjuangkan sikap kebenaran dan integritas adalah laku mental yang menyertainya. Maka tak heran, jika integritas menuntut bukti, tindakan, dan pengamalan.

Ada seorang bertanya pada Kovach, Apakah Kovach berani bersikap independen terhadap orang-orang yang dicintainya? Bagaimana kalau anaknya sendiri yang melakukan kesalahan? Apakah Kovach akan meliput mereka sama dengan kalau meliput orang lain?  Kovach menanggapi serius ketika ditanya soal ini. Dia bersyukur karena kini sudah pensiun dan selama bekerja sebagai wartawan tak ada satu pun dari empat anaknya yang bikin perkara. ”Ada aturan dalam rumah tangga saya. Saya selalu bilang pada anak-anak. Kalian boleh melakukan apa saja tapi jangan sampai perbuatan itu masuk headline suratkabar. Kalau itu terjadi, saya akan meliput kalian sama dengan saya meliput orang lain,“ jawab Kovach. 

Ada cerita yang melibatkan seorang teman dekatnya, Homer Peas, yang diliput Kovach dan berujung dengan pahit. Peas adalah teman main football Kovach ketika mereka sama-sama duduk di sekolah menengah atas. Mereka juga pada waktu yang bersamaan masuk ke dinas militer pada 1951 ketika Perang Korea pecah. Kovach masuk ke Angkatan Laut dan Peas jadi paratrooper.  Ketika keluar dari dinas militer, Kovach kuliah dan lalu jadi wartawan. Peas masuk ke dunia politik dan jadi aktivis Partai Demokrat. Pada 1960, ketika Richard Nixon sedang bertanding melawan John F. Kennedy, untuk jadi presiden Amerika Serikat, Peas ikut bekerja memenangkan Kennedy. Peas membujuk veteran perang untuk memberikan suara mereka dengan imbalan sebotol whisky. Kovach saat itu menyelidiki tentang ”pembelian“ suara dan melihat Peas terlibat. 

Ia menelpon Peas dan memberitakan keterlibatan sahabatnya ini. Peas diperiksa polisi, diadili, dan terbukti bersalah. Hukumannya, Peas boleh memilih masuk penjara atau masuk dinas militer lagi. Peas memilih militer dan dikirim ke Vietnam. Pada 1966 Peas meninggal dalam sebuah pertempuran dekat Bien Dien Phu, Vietnam. Peas kehabisan peluru dan melawan gerilyawan Vietnam dengan bayonet. 

“Saya sering sedih dan marah karena secara langsung saya ikut menyebabkan kematian teman saya. Kalau saya tak menyebut nama Homer, dia jelas takkan berangkat ke Vietnam dan mati di sana. Tapi saya juga tahu bahwa keputusan untuk berbuat salah atau berbuat benar adalah keputusan Homer sendiri. Homer bisa menolak untuk ikut kejahatan yang membahayakan demokrasi kami. Tapi Homer memilih berbuat salah,” tutur Kovach.

Independensi dan Integritas BP2M
Organisasi pers mahasiswa, kata Nida Usanah harus mempunyai integritas. Integritas tersebut sangat penting dihayati anggota untuk kelangsungan sebuah organisasi. Wabil khusus Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M). Pers mahasiswa saat ini kian kehilangan arah. Saat orde baru, kekuatan pers mahasiswa nampak taringnya untuk menyorot pemerintahan Soeharto. Pelengseran Soeharto juga atas campur tangan aktivis pers mahasiswa. Lalu, apakah benar pers mahasiswa kian tak seksis?

Dalam sebuah kutipan, when you are looking at the characteristics on how to build your personal life, first comes integrity, second motivation, and last experience, di situ jelas tertera bahwa integritas adalah langkah pertama yang harus clear dalam tiap diri seseorang.
Melucuti integritas ada dua poin yang mesti dipahami. Pertama, integritas batin diri. Dan kedua, integritas organisasi kehidupan publik. Integritas batin diri bisa jadi beberapa orang sudah memilikinya sejak kecil. Berawal dari pola pengasuhan keluarga dan lingkungan sekitar. Dan integritas batin diri bisa diperoleh dari sebuah penegakan integritas organisasi. Organisasi punya peran besar dalam membentuk integritas diri juga mewujudkan goal besar yang dicita-citakan. Maka penting, membangun integritas organisasi sebagai keluarannya. Jika Tuhan mampu meyakinkan ciptaannya untuk menikmati surga, organisasi mesti mampu pula meyakinkan bagi awaknya akan integritas. Sebab, integritas bukan hanya sebuah usaha atas kejujuran, tanggungjawab, disiplin, dan sebagainya. Integritas pada akhirnya menghadirkan kenikmatan selayaknya surga. Nikmat bahwa orang yang berintegritas jauh bisa menikmati olah rasa, karsa, dan cipta. Kalau dalam bahasanya Ki Hajar Dewantara, asah, asih, asuh. Bukankah itu suatu kenikmatan yang sungguh luar biasa?  

Bagaimana membangun integritas yang akan berdampak pada diri dan organisasi BP2M? Setidaknya, ada 5 hal yang bisa saya petakan.
1) Mempunyai tujuan di BP2M. Pers mahasiswa bertujuan untuk memberi pencerahan. Tentu tujuan awak di BP2M tak lain adalah untuk menjadi ‘cerah’. Cerah dari segi nalar, rasa, dan laku melalui diskusi, nonton film, menjalin silaturrahmi, dll. Teringat obrolan seorang wartawan dan politisi. Jika seorang politisi punya kekuasaan, ia menggunakan informasi untuk membuat orang mengikutinya. Namun, wartawan menggunakan informasinya untuk membantu orang guna mengambil sikap mereka sendiri. Tentu ini adalah tugas pencerahan bukan sekadar bujuk-rayu dan gombalan.
2) Posisi pemimpin dan penanggungjawab kegiatan punya beban moril untuk lebih ‘memahami’. Memahami tugasnya, awaknya, dan segala permasalahan yang muncul. Mereka tidak bisa beralasan sibuk atau tak paham. Sebab beban moril itu mencakup pertanggungjawaban yang luas, tidak hanya sekadar menjalankan tugas.
3) Awak atau anggota menetapkan target kemampuan diri. Tidak memposisikan untuk ‘dipahami’ lebih-lebih perasaan. Masing-masing diri saja belum tentu paham betul akan perasaannya, apalagi diminta untuk memahami perasaan orang lain. Kasus ini bisa menyebar luas seperti epidemi penyakit. Tidak nampak (abstrak), namun terus menyebar dan berjejaring. Hanya soal perasaan, ‘rasan-rasan’.
4) Memahami betul kenaikan jenjang di BP2M. Sama halnya fase hidup manusia, dari kanak, remaja, dewasa, tua, dan tiada. Di BP2M dari calon anggota harus paham jika akan naik jenjang menjadi anggota. Anggota akan menjadi pengurus. Pengurus akan menjadi demisioner. Dan akan menjadi alumni. Fase itu penting dipahami untuk kaderisasi.
5) Membangun intership yang kuat. Kedekatan antar awak perlu dibangun untuk mendiskusikan hal-hal penting, mendesak, dan strategis demi kelangsungan organisasi. Secara otomatis, kedekatan emosional akan terbangun. Bertemu untuk sekadar makan, malam mingguan, dan dekat secara personal. Kenapa jaringan NII bisa kuat dan rapi? Karena intership di antara mereka kuat. Agaknya, kita patut mencontoh untuk membangun BP2M.

BP2M punya integritas sebab awaknya punya ikhtiar untuk membangun. Atas tujuan mulia yakni sebagai laku kemanusiaan. Tiada lebih, pekerja pers akan tetap dikenang sebab laku kemanusiaannya. Dan laku kemanusiaan adalah seruan Tuhan sebagai hablumminannas. Dan akhirnya integritas bisa selalu kita pahami jika berikhtiar untuk memahami diri. Sebab, dalam surat An-Nisa tertulis siapa yang berusaha menemu diri, ia akan menemu Tuhan-Nya. Kalau dalam bukunya Jalaludin Rumi, lihatlah punggung tangan kananmu, maka kamu akan tahu jika Tuhan-Mu begitu dekat dengan engkau. Di situ lah integritas.

Dewi Maghfi, Ditulis Guna Diskusi Up-grading BP2M Unnes 2015, Josssss!



Rabu, 19 Agustus 2015

Abdih, Kau kah kini….


Hari pertama hadir di diskusi soal penguatan toleransi dan penangkalan terorisme dari instansi mentereng, aku masih meraba-raba. Skeptis dan pesimis, jujur. Pada sesi pertama pemaparan, kepala rasanya teraduk-aduk. Orang-orang ternama dari berbagai institusi memaparkan materi dengan angka-angka juga definisi-definisi gaya akademisi sekali! Pembicaraan lalu bergulir terus ke arah NII atau belakangan menjadi ISIS. Bagaimana latar belakang, motifnya, perjalanan pelaku, perekrutan jaringan internasional detail dipaparkan. Perut kian mual. Beginikah rupa dunia? Ngeri!

Walau katanya, radikalisme bukan hanya soal agama, toh negeri ini sudah terlabeli ‘negeri sarang teroris’. Dan itu dilakukan oleh beberapa pemeluk agama mayoritas di Indonesia. Cerita kawan-kawan yang pernah ke negeri orang juga tak lain pada bahasan tersebut.
“Are you from?”
“I am from Indonesia.”
“O, Indonesia is the terrorist land.”
Walau banyak yang mengagumi budaya negeri ini, juga mencibir sebagai sarang teroris.

Kabar haru datang dari Farha Ciciek sebagai pendamping kampung pluralisme di Ledokombo Jember dan aktivis islam damai Irfan Amalee. Satu hal yang tak banyak diminati orang yakni menjaga harapan. Dan kedua orang ini, mewujudkan harapan. Satu pilihan yang butuh peluh lebih, tenaga lebih, serta waktu lebih. Dan semua itu perlu pemahaman, hubungan antar manusia-Tuhan bukan hanya soal syariat, namun hakikat.

Abdih adalah seorang kawan bermain-main kecilku. Kami, kala kecil paling suka bermain-main menjadi guru. Mempraktikkan bagaimana mengajar siswa plus memarahi jika bandel. Maklum, kami masih menikmati dipukul guru pakai rotan kala tak lancar hafalan. Ah. Kami juga satu seperguruan ngaji tartil (baca al-quran dengan tajwid) sebelum masing-masing memilih kota perantauan. Aku ingat betul, kala itu bacaanku lebih fasih. Namun, kini ia bahkan lebih ‘ngeprel’ dalam membaca quran dengan tartil. Sadar betul, aku memang kian jarang membuka kitab suciku, Abd. Dyaar!
            
Abd, dari selentingan tetangga-tetangga, ada yang meresahkan perubahanmu. Kamu yang sekarang memakai busana lebih cingkrang, jenggot yang kian lebat nan panjang, juga bersalaman hanya dengan sesama jenismu, kecuali pengecualian. Hal macam itu, bukan menjadi soal bagiku. Maka, bertemu denganmu dan bercakap menjadi hal yang ku nanti. Dan, walau hanya beberapa jam aku tak ingin terjebak pada percakapan yang ndakik sehingga aku-kamu membenarkan sebenar-benarnya keyakinan masing. Aku tidak mau, Abd. Aku mencoba menyelipkan ingatan masa kecil dimana kita dulu tumbuh. Tentang ketakutan pada orang tua ketika bermain tak ‘eling wayah.’ Tapi, bukankah itu sungguh wajar di masa kanak? Begitullah, mungkin sebab kasih sayang orang tua yang berlebih. Padahal Rabindranath Tagore bersyair dalam Gitanyali tentang dimana anak-anak berkumpul, bermain. “Di pantai dunia tiada berbatas,” kata Tagore.
            
Kamu, dari ceritamu sedang menjalani proses untuk memahami islam yang kaffah. Juga, sering melakukan kajian islamis dengan kawan-kawan di salah satu gerakan yang banyak orang mengenalnya dengan gerakan radikal. Cita-cita memiliki negara dengan menegakkan syariat islam juga kau utarakan. Bahkan dunia. Kadang, ada titik dimana aku-kamu meluap-luap untuk memaparkan keyakinan masing. Juga, dimana aku-kamu mesti berpikir dan suasana menjadi senyap. Walau kita tidak pernah menyepakati bagaimana arah obrolan ini akan bermuara, kita saling paham dengan ketaksepemahaman bukan? Kita saling memosisikan menjadi kendi bocor. Bukan kendi yang tertutup. Dan dengan keyakinan kita masing-masing, air bocoran itu tetap kita tampung bukan dibiarkan tumpah ruah.
            
Gandhi telah tiada. Terlalu muluk bukan, jika Gandhi terus diseret ke sana ke mari menyoal perdamaian? Tanpa memahami dan memaknai laku perjalanannya dalam laku diri. Laku itu kelaku kanthi setiti. Sebab setiti itu ngati-ngati, bukan fanatik atau gegabah. Apalagi dengan menebarkan kebencian, kekejaman, membombardir, dan saling membunuh. Semua itu hanya merusak diri, benar merusak. Kalau dalam novel Aleph karya Paulo Coelho hal demikian dinamakan faal. Semacam tanda yang hadir dalam diri manusia tiap ia melakukan tindakan. Entah atas ketulusan hati atau menciderai liyan. Tanda itu hadir dan tidak banyak yang mau meluangkan waktu sejenak untuk berpikir di ujung hari yang lalu berganti di hari berikutnya. Itulah Abd, mengapa aku menjadi anak yang berjingkrak jika bertemu senja. Sebab, senja mengingatkan pada hal sebentar. Ya, tiap manusia akan kembali pada haribaan-Nya.

Dewi Maghfi, penikmat sunyi

Tuhan Ada Dimana-mana


            “Katanya Tuhan itu cuma satu. Tapi kog ada dimana-mana?”

Medio 2013, saya menjumpai bukunya qurais shihab yang berjudul Tuhan Ada Dimana-mana di Togamas. Seketika langsung menarik pandanganku. Membeli buku sebelum dibuka plastiknya, bagiku aneh. Aku akan meminta petugas membukakan plastiknya atau akan diam-diam ku buka sendiri. Kebiasaan ini yang pernah membuatku deg-degan di pintu utama Togamas karena barcode yang masih menempel di plastik yang ku kantongi. “Wah bagaimana ini, jika bel akan berbunyi seperti di perpustakaan Unnes?” Untunglah tidak.

Kebiasaan memalukan di toko buku memang sering ku alami. Seperti jinjit-jinjit untuk mengambil buku di rak atas, dan ternyata ada seseorang yang memperhatikan. Kayak di sinetron gitu lah. Tetiba ada tangan lelaki dari belakang lalu menyodorkannya padaku. Haish, untung saja aku kagak suka nonton sinetron. Atau mau mengambil buku yang sama, namun tinggal satu. Diusir satpam gegara nglesot menamatkan suatu buku. Duh,
Buku tuhan ada dimana-mana itu berkesan bagiku. aku memang suka dengan pemikiran-pemikiran Quraish. Berawal dari acara tafsir Al-Misbah kala Ramadhan tiba di telepisi. Anehnya, aku beli buku itu dan malah kuberikan pada teman. Aku kadang memang seperti itu. Membaca sebentar, tapi lalu keinget banyak hal. Dan akhirnya muncullah pilihan, akan ke tangan siapakah buku ini selanjutnya?

Taraa, buku itu sampailah ke tangan temen. Namun, ada sedikit kesedihan bahwa buku itu masih rapi sebungkus-bungkusnya. Mungkin juga tidak dibuka sama sekali. Sedih rasanya. Oh iya, aku sadar bahwa minat terhadap topik buku tertentu kan tidak bisa dipaksakan. Setelahnya, setiap kali buku yang berarti bagiku berpindah tangan, aku relakan pada pembacanya akan seperti apa nasibnya. Entah dibaca atau tidak monggo. Aku hanya punya keyakinan bahwa buku itu setidaknya dapat menjadi teman. begitu juga aku, buku lah teman terbaikku saat ini.

Tepatnya 29 Juli 2015 kemarin, aku kembali menyapa Ki Kirno. Pelukis asal Temanggung. Ini tahun ketiga aku menjaga silaturrahmi. Obrolan kami dari pertemuan pertama hingga ketiga ini memang tak keluar dari tema perjalanan. Aku itu orang yang haus akan cerita. Dan bukan pencerita yang menarik dan baik. Bertemu Pak Kirno menjadi kesenanganku. Aku tidak membayangkan bahwa aku akan bertemu orang yang berbagai rupa dan laku. Sebab, dari kecil aku hidup dengan orang-orang yang serupa. Aku seorang muslim. Islam yang kami pahami islam yang saklek, lebih tepatnya orang tua, bapakku. Sejak kecil, sering sekali aku mendengar kosa-kata ekstrim. Misalnya, orang yang tidak salat itu kafir. Orang yang tak pernah ke masjid itu kafir.

Kehidupanku di rumah memang nampak agamis. Dari kecil aku harus ngaji ini dan itu, belajar tajwid, sekolah madrasah dengan hafalan ngeprel, maknani gandul kitab kuning, dan belajar qira’. Sebab, dulu cita-cita bapakku pokoknya anaknya ada yang pintar agama lebih-lebih hafal alquran. Dan akulah yang mesti menerima keinginan itu. Harus nganut.

Nah, saat kuliah aku melihat dunia yang beragam. Aku mesti hidup dengan orang muslim yang tidak menjalankan salat lima waktu, aku berteman dengan orang muslim dengan meyakini sepenuhnya syariat yang mengaturnya, aku bersahabat dengan seorang kristiani, aku bersahabat dengan seorang penganut islam garis keras, aku berkawan dengan seorang hindhu, aku sering mengikuti acara yang mesti menanggalkan apapun agamanya berasal.
Itu yang sering membolak-balik hati dan pikiranku. “Aku dididik dalam lingkungan islam, namun banyak perbuatan-perbuatan yang tak menunjukkan itu seorang muslim. Lebih tepatnya, islam yang berada di lingkunganku masih dalam ruang-ruang ritus. Belum mencapai hakikat hidup dalam keislaman. Mendidik dengan cinta damai, penuh kasih, kelembutan, dan memperlakukan sama perempuan dan laki-laki.

Pernah pada fase bahwa aku ingin istirahat melakukan ritus seperti salat lima waktu. Aku mengambil jeda untuk meresapi ke dalam diri. Tak lain memang sebab obrolan, pengalaman teman, dan bacaan. Aku memang tak membatasi bacaan. Apapun yang bagiku menarik akan ku baca. Nah, lama kelamaan aku pada titik kebuntuan. Aku benar-benar kalut dengan diriku. Apa membaca memang menambah pengetahuan? Apa kita mesti meyakini apapun yang kita baca? Motif apakah yang sengaja dilakukan penulis pada pembaca? Dengan membaca, pikiran kita sengaja digerakkan oleh penulis? Kalau ini memang. Jadi, kenapa orang yang membaca itu dijuluki dengan jendela pengetahuan sebab ilmu akan masuk. Dan diri yang semestinya punya filter atas itu. Tidak semua-mua kita benarkan dan yakini.

Tuhan itu bergerak pada hal-hal di luar batas kemampuan manusia. Pernah kah disadari bahwa, mengapa kita dihadapkan pada orang-orang yang serupa? Kita dipertemukan pada orang-orang baru yang sedang mencari hal yang sama denganmu? Intuisimu akan bergerak jika kamu berusaha menjadi orang yang berusaha melepaskan segala sesuatu hal? Kamu tidak bisa melihat satu kondisi dan hati nuranimu terketuk? Tuhan menyelamatkanmu dari marabahaya yang tak pernah terduga? Lalu, kamu mencoba meresapi jalur perjalanan yang dihadapkan pada masing-masing. Tentu satu dengan yang lainnya akan beda. Nah, di situ lah Tuhan-Mu.

Mungkin ini memang nampak sepele. Namun, tidak akan disadari jika kita tak pernah menelisiknya. Sama seperti saat kita menjalankan rutinitas sehari-hari namun tanpa pernah mau merenung dan menemukan makna dibaliknya. Aku pahami, dengan melakukan salat lima waktu aku menjadi rileks dan nyaman. Salat juga bisa sebagai meditasi. Mengapa salat ditekankan khusyu’, sebab khusyu’ adalah tentang kerelaan melepas hal-hal di luar diri.


Begitu saat bertemu dengan Pak Kirno, aku dan ia sepaham pada jalan keimanan yang ditempuh masing-masing. Bahwa perjalanan spiritualitas adalah jalan panjang. Jalan menuju diri. Bukan untuk membenarkan keimanan masing juga tidak mengamalkan keyakinan liyan tanpa tahu maknanya. Ini memang jalat berat. Sungguh berat. Pada akhirnya, kami butuh ruang untuk bercerita dan mendengar. Dan tetap Tuhan maha tahu dari niat baik tiap manusia. Sama ketika aku mulai gelisah, ku amati telapak tangan kananku dan rangkaian jari itu menunjukkan lafal Allah. Betapa kuasa-Nya, ia menuntun manusia untuk menyemai rahman dan rahim. Wallahu a’lam Bis Sawam. 

Minggu, 09 Agustus 2015

Le…..

Kamu tahu bukan, aku-kamu tumbuh pada dolanan yang beda?
Di sawah, melompat,
Besusul, juga genangan air di bekas telapak kaki
Lalu, ada wader-wader kecil
Aku mulai kegirangan, Le

Pada kotak yang sama
Kamu, tumbuh pada dolanan yang menjejal almari
Macam remot dan tetek-bengek yang sulit ku pahami
Waktu itu, namun tidak ini hari
Le, aku-kamu di kotak yang sama
Namun, aku masih kesulitan meraba

Aku memang tak bisa membuat hal yang presisi
Macam tulisan ini yang entah puisi
Atau apa lah yang tak berima
Sehingga tak tahulah apa namanya

Pada perjalanan tak bisa memilih yang enak-mengenakkan
Sehingga tertawa-tertawa bukan bisa menjadi pilihan selama-lamanya
Apalagi kesana-kemari semau-mau kaki-kakimu
Sehingga kau menasbihkan diri menjadi bajing
Ia berjalan melompat-lompat
Kamu, Le,

Aku ini hari belajar pada catatan seorang kawan, Awe
Katanya, belajar bersepeda bukan soal menancap gas
Namun, soal menarik rem
Semua orang mampu mengarahkan jarum pada sekian Km/Jam
Namun, siapakah yang mau belajar menarik rem?
Tak banyak.
Dan aku-kamu memang musti bukan tumbuh pada kebanyakan
Namun, sesekali menepi lah dan menarik lah rem.

DM | 9 Mei 2015