Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2015

Aku itu perempuan

Aku itu perempuan. Aku, kamu, dan mereka adalah perempuan. Aku hidup dari rahim perempuan. Pernah aku menemu perempuan dengan mata sayu namun juga dengan semangat menggebu mengobrol soal rahim. Juga pernah bertemu dengan nenek-nenek renta yang sedang berupaya segala upaya untuk menghilangkan betapa daging bisa tumbuh dimana-mana. Atau perempuan yang lalu dengan kepayang ia hampir putus asa merengkuh lelaki kecilnya. Atau perempuan yang nampak garis tegas di wajahnya sebab ia sudah berubah menjadi harimau yang siap menerkam. Dan perempuan yang setiap kerdip matanya senantiasa penuh rapalan doa-doa juga wajah yang usang sebab ia lupa untuk sekadar mengaca atau melumuri kerut-kerut di wajahnya itu dengan dempul. Mungkin, suatu saat nanti jika ia menatap kaca, ia akan kaget bahwa ia telah menjelma menjadi nenek lampir yang mempunyai hati laksana Siti Hajar. Atau justru ia tak akan pernah kaget, sebab baginya cermin adalah penjagalan-penjagalan akan kejujuran. Ah. Atau. Dan.

Aku itu perempuan. Aku bisa ngilu sengilu dahsyatnya. Tertikam. Lalu nadi-nadi yang terhunus satu per satu. Perkara perempuan. Entah, sebab aku perempuan atau atas perjalanan perempuan. Mungkin juga terkesan berlebihan. Aku punya ruang antara yang memiliki keterhubungan khusus pada sesiapapun perempuan. Seperti pagi tadi, sesaat aku mengantar ibu ke pasar, aku bertatap sekilas pada perempuan kuru yang omongannya tak berima. Juga mesti mendekatkan telinga ke bibirnya untuk memahami ucapannya. Ah. Sejenak aku terdiam, menutup mata, lalu, mengirim mata dan tangan lewat ruang antara khusus. Aku kamu tak perlu untuk bercakap. Sebab, jalan ruang antara adalah jalan kesunyian dimana tak satu pun huruf mengudar. Bahkan aku kamu tak saling paham, tapi aku kamu merasa dan perlu menjaga. Juga aku kamu bukannya dalam titik yang satu, namun aku kamu berada pada garis lurus. Aku di ujung begitu kamu. Aku kamu barangkali tak akan pernah bisa bersapa (lagi). Inilah pilihan jalan dari beribu jalan yang bisa dilalui.

Aku itu perempuan. Dimana aku masih suka menjadi bocah ilang dimana-mana. Tentu, di jalan ruang antara yang ku bangun. Aku paham, memang tak mudah untuk membangun ruang yang begitu abstrak gung liwang liwung. Ini adalah penempuhan dari setiap penempuhan yang ada. Namun, keyakinanku bahwa ruang ini tak akan ku huni sendiri. Aku mau untuk merasakan ngilu lebih dalam lagi, untuk menempuh jalan-jalan keterhubungan dengan banyak dan banyak diri lain. Sehingga, dinding-dinding di ruang antara itu akan tertempel gambar, corat-coret, lalu masuk di lorong instalasi. Namun, barangkali justru tak satu pun dan tak ada stog. Entah. Namun, aku yakin.

Aku itu perempuan. Yang otaknya penuh dengan semut-semut. Mulutnya penuh dengan bisa. Hatinya yang rentan akan kengiluan-kengiluan. Mata yang teduh namun justru menikam. Senyum obralan untuk sesiapapun namun sedikit dan langka bagi diri.

Aku itu perempuan. Remas-remaslah palung jiwa terdalamku. Betotlah jantungku untuk pemenuhan tenagamu. Sebab, di jantunglah pembuluh darah ada. Ambillah hatiku dan lalu cacah-cacahlah untuk sarapanmu. Darah segar yang mengucur itu jadikanlah sebagai susu kesegaran dunia yang tiada tara. Lalu, kau masih bisa menyayat-nyayat empeduku untuk obat perkasamu. Juga pankreas yang kecil dan tersembunyi itu masaklah bersama mie godok. Namun, satu. Satu hal. Lebih baikkah kau lakukan itu, hanya pada itu perempuan. Satu. Aku. Dan pada perempuan-perempuan lain, jagalah serta pandangan dan batinnya.

Perempuan itu. Ia bak ulat sutra. Ia menggerogoti dedaunan untuk merangkai hifa-hifa tipis. Ia taut-menautkan yang kadang mesti berbalik arah dulu untuk menyambung dengan rapih. Ia tertindih. Kruget-krugetnya untuk mengolah benang tipis. Tipis. Namun, setelah menjadi selembar kain, yang ada hanya tawar-menawar harga. Pantas dan tidak pantas. Cocok dan tidak cocok. Cacat dan tidak cacat.

Bisakah dan bisakah? Perempuan itu dirumuskan selayaknya sesiapun yang pernah melahirkan kita dari rahimnya. Yang menjaga dan memberi tempat kenyamanan terdahsyat. Bukan dengan rapalan-rapalan atau kemewahan. Hanya, untuk menjaga matanya.

Aku itu perempuan. Jauh-jauhi itu perempuan. Sebab, dia itu siluman. Ia hadir dari ilustrasi dongeng rahasia gudang tua. Di saat ia merasa jenuh menjadi hanya sekadar gambar, ia berdoa pada Tuhan untuk benar dijadikan manusia dan lalu keluar dari buku dongeng tersebut. Satu-satunya dongeng yang menjaganya hingga kini. Ia pernah gusar, sebab kebingungan mencarinya dari tumpukan buku yang usang. Ia benar berpikir tak akan pernah bisa kembali. Namun, kini buku itu kembali walau dengan rupa compang-camping. Syukur. Suatu saat, ia akan kembali ke dalam gambar tersebut. Sebab, dunia manusia akan beralur sama seperti dongeng.

Aku itu perempuan. Beranikah, kamu menjadi Sam untuk menyeimbangkan dongeng ini? Sam hilang. Dan aku butuh Sam untuk ku ajak kembali dalam gambar. Aku kamu yang hidup lewat dongeng dan kembali pada dongeng.

"Lebih baikkah kau lakukan itu, 
hanya pada itu perempuan. Satu. Aku. 
Dan pada perempuan-perempuan lain, 
jagalah serta pandangan dan batinnya."


Puisi-Esai, DM | 01072015

Rabu, 20 Mei 2015

Tresna


Berawal dari menulis di rubrik Teras Merput, aku terinspirasi untuk merenungkan apa yang pernah aku tulis. Ketika itu, aku menulis dengan sepintas. Sebab, mestinya yang nulis bukan aku. Namun, karena sudah harus dilayout, ya akhirnya aku nulis sembari diwaktui layouter.

 Tresna, aku ingin menariknya menjadi sebuah eksplanasi. Eksplanasi tentang aku dan organisasi yang pernah menghidupiku, BP2M. Kala masih mahasiswa aku ikut organisasi pers dari awal hingga kelulusanku bahkan akan tetap dalam jiwaku sampai kapanpun.
Ada banyak hal-hal yang memang tak terungkap antara aku dan bp2m. sekalipun eksplanasi kali ini hanya nampak seperti gunung es. Barangkali hanya 10% yang tertangkap oleh kata-kata. Aku ingin memaknainya dalam laku.

Jika ku pikir, mengapa dulu aku ikut bp2m tidak organisasi lainnya yang barangkali justru menjanjikan. Seperti koperasi yang akan diajarkan bagaimana cara berwirausaha dan mendapatkan uang. Seperti mahapala, aku mungkin sudah ke luar negeri untuk mengikuti 7summit. Atau teater, yang guyub dan keasyikannya bisa ku rasakan setiap saat. Bagaimana mengolah rasa dan ekspresi, sebab aku orang yang susah untuk meluapkan ekspresi?

Aku mengenal pers kampus, ketika aku tes snmptn yang kala itu bertempat di Undip Pleburan. Aku ditampung oleh salah satu kru Manunggal. Aku mendapat cerita darinya. Dia, adalah Mas Huda, PU Manunggal. “ku pikir, apa di Unnes ada macam gituan?” ah, keterima saja belum sudah mikir begituan. Juga mengobati luka kekecewaan sebab tak diterima lewat spmu juga belum kering. Lukaku masih menganga. Segala sesuatu tak bisa diukur dengan materil. Aku belajar itu, sangat. Dulu, ketika aku ingin kuliah aku telah melewati hal-hal yang huru-haru. Maka, sudah ku niatkan dalam diri untuk memulainya dengan sepenuh hati. Dan aku tidak menduga, jika langkahku mesti menapak di bp2m. Aku tipikel orang jika sudah memulai sesuatu, mesti dituntaskan. Benar, jika aku kuliah di bp2m. Aku ditempa di sana.

Apa yang membuatku perlu memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada kuliahku di jurusan kesehatan masyarakat?

Ini adalah jawaban sulit. Kali ini, aku baru sadar. Jika banyak orang-orang yang menanyakan itu lagi. Dulu, jika aku ditanya begitu, aku hanya cengengesan dan nylemong ‘suka.’ Sebab, aku memang benar suka. Kalau sekarang, sepertinya aku perlu mencari perenungan untuk menjawab itu. Ya, ku pikir, jawabanku sudah terjawab lewat segala hal yang sudah ku lakukan hampir 5 tahun ini. Waktu yang lama namun juga singkat. Jadi, perenunganku pun telah menemukan jawabannya. Bahwa, jawaban tak hanya berupa narasi kata, namun narasi laku yang sudah ku rajut. Dan kini, tinggal memaknainya. 

Memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada di jurusan adalah ibarat jodoh yang tak bisa dihindari. Betapa tidak, banyak orang mendamba untuk ahli di bidang yang sedang ia geluti. Bahkan keinginan untuk melanjutkan studi hingga titik tertinggi. Namun, jodohku adalah bp2m kala itu. Aku tak bisa menghindar. Sebab, itu soal pertautan jiwa dengan semesta. Pun, aku tak lantas tidak mendapat apapun di jurusanku. Aku dapat banyak hal. Dipertemukan dengan dosen alot. Aku mesti selalu berurusan dengannya di setiap makul. Juga pernah dimarah-marahi, katanya aku menyepelekan makulnya dan mementingkan organisasi. Haha. Dipertemukan dengan guru inspiratif, Bu Rus 65 tahun, yang selalu semangat. Dipertemukan dengan pembimbing yang begitu baiknya padaku. Dipertemukan dengan penguji yang sangat sentimental padaku. Dan dipertemukan dengan teman sangat baik, Tutik-Sasya. Aku semacam diopeni oleh mereka, diingatkan tentang tugas, tentang hal-hal yang berkaitan tentang jurusan. Terima kasih.


Apa aku tidak punya keinginan untuk memperdalam ilmu kesehatan masyarakat. Yang aku rasa kuliahku kemarin cuma main-main?

Selalu ada keinginan untuk memperdalam apa yang pernah kucemplungi. Pun, aku merasa diriku hambar saat ini. Aku yakin, aku akan mempelajarinya kembali. Aku akan mulai menyukai untuk nongkrong di rak baru di toko buku. Pada percabangan ilmu yang kuminati, kesehatan reproduksi. Ya, aku akan memperdalam lagi. Juga, pertemuanku saat menemui kasus ketika magang kala itu. Aku merasa tak fokus dan pikiranku kemana-mana. Pada hal-hal begitu, aku sangat menghukum diriku. Bahwa, aku tak dapat menyelesaikan dengan baik.  

Apa aku tak ingin membuktikan pada orang-orang yang pernah benar-benar memarahiku bahwa aku hanyalah orang yang bisanya menjelek-jelekkan sivitas, penghianat, padahal aku bisa begini darinya, katanya?

Ya, aku memang dapat menyelesaikan studi ini berkat beasiswa. Pun aku mensyukurinya. Aku hampir tak ingat lagi berapa kali aku mendapat omelan-omelan macam itu selama kuliah. Pun itu tak lepas sebab aku membawa bp2m. Masa-masa itu, aku tak memang merasa tak punya ketakutan tentang apapun. Justru aku ingin memperlihatkan kegagahan. Aku mungkin nampak frontal, dan justru banyak orang beranggapan itu hal konyol. Namun, keyakinannku kala itu adalah mencintai. 

Betapa begitullah cara mencintaiku. Aku mencintai dengan caraku. Laku cinta yang sebenarnya sulit, namun aku harus tetap yakin akan caraku. Juga, keinginan agar adik-adikku bisa mencintai dengan cara yang lebih dariku, sepertinya belum terwujud. Setiap orang menempuh perjalanannya masing-masing. Akan ku buktikan dalam perjalanan selanjutnya, bahwa aku pun punya rasa dan sanggup untuk mencintai, tentu dengan caraku sendiri.  

Apa aku begitu berbangga diri pernah singgah di bp2m dan cintaku akan bp2m adalah segalanya?

Pernah memang, aku merasa bangga, pernah tumbuh di sana. Di saat-saat aku harus menyelesaikan hal berat dengan sendiri dan ternyata mampu melewatinya, kadang membuatku bangga. Oh, aku bisa. Aku bisa mengukur diri. Namun, tak lain, hal macam itu hanyalah sepintas saja. Bahwa perjalanan selanjutnya menyimpan kejutan. Aku mengibaratkan perjalananku seperti goa yang tak tahu ujungnya. Aku ingin menelusur goa itu, untuk menemu cahaya. Sebab, goa adalah soal keheningan. Dan keheningan perlu dipecah. Bp2m telah membawaku di ujung pintu. Mengenalkanku lapis demi lapis kenampakan goa dari luar dan sedikit masuk di ambang ruang tamu. Aku belum menelusur ke ruang meditasi. Aku masih di muka. Maka, cinta macam apa yang patut ku banggakan? Tak ada. Aku menjalaninya dalam laku. Maka, aku berusaha sebiasa mungkin pada apapun. Mungkin itu yang menyebabkanku tak bisa ekspresif. Sebab, aku menekan impuls-impuls ekspresionis. Maka, sampai sekarang aku benar belum bisa memaknai cinta, selain memaknai laku apa yang pernah aku lakukan di bp2m atau pada orang-orang.

Apa aku benar-benar dihidupi bp2m?

Barangkali tidak. Bp2m hanyalah perantara, bahwa keberadaan Gusti dimana-mana. Aku juga memendam luka, bukan semata-mata, hidup penuh kebahagiaan. Namun, begitullah aku. Aku akan menyembuhkan luka-luka ku sendiri lewat cerita dan senyuman. Entah, tak terhitung, bahwa cerita dan senyuman menjadi obat ampuh bagiku. Juga, menulis adalah melakukan terapi pada diri sendiri. Luka, kenangan, menjadi hal yang perlu dilepaskan. Toh, aku tak pernah mengkalkulasikan itu. Jika aku merasa ‘senang’ dan semcam ruang-ruang jiwaku terisi, ku kira cukup. Dan tak perlu untuk melebih-lebihkan luka. Namun memang mencari obat tak hanya berhenti pada fisik yang nampak yahud saja, namun pencarian obat adalah pencarian diri.

Lalu, apa hubunganku dengan bp2m?

Aku memaknai bahwa hubunganku dengan bp2m seperti ‘ruang antara’. Aku dan dia, ‘ada’ melampaui ruang dan waktu. Aku diperhubungkan melalui jiwa dunia, kalau kata Coelho di Sang Alkemis. Aku tak pernah tahu, akan dipertemukan dengannya. Namun, aku pernah bersamanya secara fisik 4,5 tahun. Pun, untuk ke depan aku akan benar-benar hilang darinya. Tapi, jiwaku akan selalu bertaut dengan jiwanya. Bahwa setiap apapun yang diciptakan Gusti selalu mempunyai jiwa. Kadang, aku merasa ada hal di luar nalarku, dan mempertanyakannya berulang-ulang, dan semesta lah yang menggerakkan itu semua. Jika, aku merasa letih, aku hanya perlu untuk memejamkan mata dan menghirup napas yang panjang. Kemudian, aku mesti menapaki lagi. Begitu, mengapa jiwaku ditautkan pada jiwa senja, sebab aku paham bahwa senja hadir begitu cepat. Namun, untuk bisa menatapnya dengan tegak aku perlu menguatkan diri. Padahal, telah menunggu di sepanjang hari.

Senja selalu mengingatkan akan perjalanan yang panjang. Aku dan bp2m tak perlu menjelaskan apapun. Tentang apa yang ku rasa dan apa yang bp2m rasa. Pun, menuntut akan luka-lukaku. Aku sudah melepaskannya. Aku akan senantiasa merekam senyum. Tak pernah berhenti dan lelah. Aku dan bp2m adalah sebuah proses perjalanan. Jiwaku sudah terpaut pada jiwanya. Entah jiwanya? Aku cukup senang, bp2m akan selalu dihidupi jiwa-jiwa manusia. Maka, hari-hari belakang aku menguatkan diri untuk tidak hadir atau mengurangi intensitas sebab ada kerapuhan dalam diri untuk sekadar menyapa atau menatap. Aku benar tak sanggup. Barangkali ini yang dianamakan kerinduan. Aku tak ingin membayar rindu seperti Eka Kurniawan harus dibayar lunass. Aku memilih untuk tak membayar rindu lewat apapun. Aku benar-benar tak ingin.


Apa hal yang membuatku hidup, sebab kawan dan manusia-manusia lain yang terhubung dengan bp2m?

Ini juga jawaban sulit. Ya, aku mendapat teman dari berbagai perspektif di bp2m. Juga, tak hanya sekadar teman, namun secara personal aku tertarik mempelajari personal-personal. Sulit bagiku untuk mendeskripsikan kawan di bp2m. Sebenarnya, pendeskripsianku dengan bp2m di atas, juga tak lepas dari pertautan jiwa antar kawan. Ya, kawan berproses. Itu semua adalah pandangan subjektifku. Ada ruang-ruang penghubung yang digerakkan semesta.

Kalau kata temanku, bp2m bukanlah epilog. Kami masih melintas di tanda-tanda semesta. Perjalanan ini hanyalah perjalanan untuk memaknai tresna juga mencari kedirian hingga menuju Gusti.

Dewi Maghfi | Merput | 20 Mei 2015


Rabu, 13 Mei 2015

Jilbab


Perkenalan dengan jilbab, kala aku sekolah sore. Sekolah sore di tempatku yakni belajar ilmu-ilmu agama seperti fiqih, nahwu, saraf, akidah akhlak, tarikh, tafsir quran, tauhid, dll. Dari situ aku memahami ada pakaian maen dan pakaian sekolah termasuk di dalamnya ‘busana muslim’. Mengenakan pakaian panjang hingga menutupi ujung jari, kaki, dan penutup kepala (jilbab). Ku kira itu hanya sebuah seragam saja, cuma kami dibebaskan dengan berbagai motif dan warna. Berlanjut hingga aku sekolah di madrasah tsanawiyah dan ‘weling’ dari guru untuk tidak melepas jilbab kala melanjutkan di sekolah menengah. Sampai situ, bagiku menggunakan busana macam itu adalah hanya seragam. Toh, di rumah aku mengenakan atau tidak tak masalah.

Lain halnya jika pakaian yang aku gunakan atau kakak misalnya ketat, ada yang marah tak selesai-selesai berhari-hari, bertahun-tahun, dan selamanya. Untung, aku tidak suka pakaian yang ketat-ketat, kecuali kalau tubuhku kian membesar dan belum ada ganti yang baru. Pakai aja. Aku lebih suka yang gombrong-gombrong. Sebab, jika sumuk ada banyak jendela yang memberi kesejukan. Semriwing. He-he

Juga bagiku dulu, memakai rok adalah satu langkah membuat ribet diri sendiri. Harus cinceng-cinceng, jalannya tak bisa cepat, aku merasa dibatasi dalam berjalan. Aku tak pernah benar-benar punya rok selain yang ku anggap seragam. Dulu.

Entah mengapa sebelum kuliah, diriku merasa terkotak-kotak. Dari hal terkecil misal pakaian, aku harus memilah-milih mana pakaian main, sekolah, ngaji, pergi jauh, dan rekreasi. Apalagi, masalah waktu, jam sekian hingga jam sekian bahkan dalam seminggu mau ngapain aja detail di luar kepala. Ceroboh sedikit saja, bisa jadi aku akan berangkat sekolah dengan baju kotor atau tak setrikaan. Sedari kelas 4 sd aku mencuci dan menyetrika baju sendiri.

Pagi tadi ada yang bercerita padaku tentang jilbab. Ia dipanggil untuk tes wawancara di sebuah taman kanak-kanak. Ia tak memakai jilbab. Cerita berlanjut ketika ia ditanya, “Jika diterima, apakah anda sanggup untuk menggunakan jilbab?” ia menjawab sanggup. Namun, apa yang ada dalam rumusannya berbeda dengan direktur TK. Pewawancara melanjutkan pertanyaan, “Yang saya maksud menggunakan jilbab adalah menggunakannya dalam sehari-hari, tidak hanya saat mengajar.” Wouww… ia lantas kaget. “Saya akan berdiskusi dulu dengan keluarga,” jawabnya.

Ya, menyoal menggunakan jilbab atau tidak adalah persoalan pendek sekaligus panjang. Bagiku misalnya, memakai jilbab adalah persoalan pendek. Sedari kecil, aku sekolah di sekolah yang aturannya memang seperti itu, mau tidak mau, aku harus menggunakan jilbab. Bukan hanya hitungan hari, namun tahun berganti tahun. Kebiasaan macam itu tentu tak masalah bagiku, jika sampai hari ini aku mengenakan jilbab jika sedang di luar. Lain halnya dengan temanku tadi.

Aku yakin, hari ini ia sedang menghadapi persoalan panjang dan tak sekadar menyanggupi dengan jawaban ‘iya/tidak’. Ia butuh dialog dua arah dengan keluarga, dan bertemu tatap muka agar ia bisa merasakan bagaimana gesture lawan bicaranya sekaligus kedalaman matanya. Makanya, konyol sekali jika ada pertanyaan dengan jawaban hanya ‘iya/tidak’. Mungkin bisa ditolerir untuk pertanyaan-pertanyaan lugas, lalu bagaimana dengan pertanyaan perjalanan?  

Ia tumbuh dalam keluarga dengan 2 prinsip. Bapaknya penganut islam dan ibuknya Kristen. Sedari kecil, ia diarahkan oleh bapaknya untuk memeluk islam. Diminta untuk ke masjid, ngaji, salat, dll. Bahkan, jika ia ingin ke gereja menemani ibuknya di hari minggu, telapak tangan ayahnya bisa melayang ke tubuhnya. Ia mengaku, betapa miris melihat ibunya yang saban minggu pagi berangkat ke gereja sendiri tak ada keluarga yang menemani. Atau di luar minggu jika ibunya sedang dirundung kesedihan, ia akan lari ke gereja. Sendiri. Beda dengan bapaknya, setiap kali ke masjid, kedua anaknya mesti ikut.
Betapa pun, di dalam satu atap keluarga, pemimpin rumah mempunyai kecenderungan menguasai diantara lainnya, ayah. Seringkali ayah merasa dirinya adalah pemimpin dan mesti harus dituruti segala sabda-sabdanya. Ia jarang mengakomodir seperti apa suara-suara anggota yang lain. Sabda ayah, kadang menjadi takdir keluarga. Mau tida mau harus diterima dengan legowo. Nah, hal macam itu tanpa disadari dialami berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar entah ibu atau anak-anak mereka. Entah apa yang ada di pikiran ayah? Sehingga ia mengkultuskan dirinya bak nabi. 

Ada beberapa kemungkinan yang mendasarinya, 1. Ia memang tidak mempunyai pengetahuan untuk menahkodai kapal dan tidak ingin mencari tahu. Sehingga menggunakan cara ‘biasanya’. Padahal hal tersebut biasa untuk siapa dan apakah masih relevan dengan saat ini? 2. Ia kepalang malu, jika mesti tunduk pada perempuan (suami-suami takut istri). Padahal makna tunduk itu pun atas konstruksi kesalahkaprahan dalam masyarakat. Tunduk diartikan bertekuk lutut. Mestinya tunduk diartikan sebagai alat kontrol. 3. Ia mempunyai pengetahuan untuk menahkodai kapal, namun kondisi terlalu kompleks dari rumusannya. Ia hanya butuh untuk berikhtiar lebih lama sedikit. Namun, biasanya banyak yang menyerah.

Betapa pun, di dalam rumah suara perempuan adalah suara kesekian yang jarang didengarkan. Apalagi kalau membuat sabda, kualat katanya. Perempuan seringkali berusaha menjaga kondisi agar tak oleng. Walau ia mesti nampak manut, ngikut, diam, dan baik-baik saja. Padahal, jika bisa ia sudah berteriak sekencang-kencangnya. Namun, perempuan adalah makhluk yang sangat realistis. Ia sanggup untuk memendam kedalaman-kedalaman rasa yang koyak, demi sebuah keyakinan. Dan bapak adalah kaum perasa tingkat dewa. Ia lebih mudah tersinggung dan melibatkan rasa untuk mengadili hal-hal yang salah dan benar. Ah, bapak, belajar lah untuk membaca semesta dan melakukannya dalam laku perjalanan diri adalah jauh lebih baik dari sekadar mempertaruhkan kemaluan.

Betapa pun, hal-hal yang dilakukan berawal dari mindset. Hal pertama yang tidak bisa diganggugugat adalah sama-sama menyadari bahwa merumuskan persepsi (mindset) antar bapak-ibu adalah penting. Kemudian hal-hal yang harus dihadapi, hadapilah. Di sana akan tercipta saling menghargai satu sama lain. Bahwa pasangan tak lain adalah sama seperti diri yakni manusia. Laku manusia adalah laku panjang untuk menemu dirinya dengan Gustinya. Bukan pembatasan atas nama pasangan. Dan lain-lainnya mesti harus dilepaskan dengan bantuan pasangan tersebut. Jika begitu, kepemilikan atas diri bisa diminimalisir. Bapak-ibu adalah dua manusia yang mengalami perjalanan panjang untuk sama-sama memaknai ciptaan Tuhan, Semesta. Keduanya, butuh untuk saling menguatkan dan memberi pelukan satu sama lain. Juga, untuk membantu mewujudkan keyakinan-keyakinan (beda dengan agama!) personal. Aku paham, bahwa cara untuk bertahan hidup di dunia ini adalah dengan menguasai diri bukan orang lain, pasangan, anak, keluarga, teman, dll.

Dalam ruang privat, jilbab adalah perjalanan panjang. Perjalanan kultur keluarga yang akan dibawa sejak bayek hingga matek, perjalanan penemuan diri, dan perjalanan spiritualitas. Tidak semata, jilbab syar’i, jilboobs, muslimah, non muslimah, baik, tidak baik. Namun, tidak lantas menyepelekan untuk tidak ingin mencari pemaknaan. Beda dalam ruang publik, menyoal fenomena jilbab sebagai trend setter, mode, style dan sengaja digerakkan oleh kepentingan golongan untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya mesti dibuka diskursus panjang untuk melucutinya, bukan soal tabu!

Aku, perempuan, carilah pemaknaan dalam laku diri. Tegakkan diri sebagai manusia seutuhnya di hadapan Gusti (walau akan dalam proses terus mencari hingga meninggal) bukan sekadar jenis kelamin. Rengkuhlah setiap pasangan yang dihadirkan Gusti. Terus teruslah berikhtiar tiada henti. Memang kadang lelah, capek, namun begitullah seninya hidup. Melambaikan tangan sejenak jika tak kuat, kadang  juga oleng, terjatuh dalam kedalaman yang tiada terukur, begitu tak masalah. Bahwa masih ada satu harapan yakni ‘keyakinan’. Rumuskan dalam perjalanan laku diri masing-masing. Akhirnya selamat menempuh perjalanan baru, laki dan puan.
Dewi Maghfi | 13/5/15


Selasa, 28 April 2015

Bangsal Psikiatri itu… Oh… Ah…


Senin, bagi sebagian orang menjadi hari yang melelahkan. Ia mesti kembali melakukan rutinitasnya, setelah minggu menjadi hari untuk sekadar bermalas-malasan atau hari ha ha-hi hi. Bagi pegawai pemerintah, ia harus datang lebih pagi untuk mengikuti upacara atau apel. Bagi pekerja swasta ia kembali membuat maping job selama satu minggu. Bagi siswa akan berkata “Ah, senin adalah hari patroli. Ah, senin akan mendengar ceramah kenegaraan.” Senin, biasanya menjadi jadwal tetap materi PKN (dan itu membosankan, sebab gitu-gitu aja), pun dalam setiap ujian, pkn selalu dibagi di hari senin. Entah? Mungkin, karena pkn ada muatan nasionalismenya jadi harus dinomorsatukan. He he
            
Rumah sakit umum daerah RA Kartini Jepara, senin (26/4) juga tak luput sibuknya. Duduk bersebelahan dengan ibu bermuka sayup dan ngantuk-ngantuk (datang ke rumah sakit jam 5 pagi!), atau lelaki paruh baya yang Nampak menerawang sangat dalam tembus hingga sepuluh lapisan, diam termangu, atau ibu yang sedang ngempongi anaknya daripada nangis jerit-jerit, atau mbah kakung yang sedang menggenggam tangan mbah uti (syahdu tenan), atau teriakan-teriakan yang melengking merdunya. “Wes to, senin kuwi wes koyo pasar. Wong berobat seperti beli sayur dan krupuk ning pasar. Tinggal sayur bedah, sayur kandungan, sayur syaraf, sasyur gigi, sayur psikiatri….” cerita dari ibu di seberang kursi.
            
Ya, sabtu-minggu rumah sakit libur. Dan kebanyakan obat pasien telah habis. Orang-orang akan kembali menebusnya di senin. Sejak kartu sehat mudah didapat, entah Jamkesmas, jamkesmasda, kartu sehat daerah, bpjs, dan tetek bengek kartu sakti lainnya rumah sakit tidak menjadi rumah yang mengerikan bagi sebagian orang. Dulu, orang banyak yang kehilangan nyawanya sebab sakit parah tak bisa berobat. Sekarang, sakit batuk-pilek, orang berbondong-bondong berobat sebab gratis. Ah, sebagian orang tentu bersyukur dengan adanya kemudahan kartu sakti tersebut sebab ada secuil harapan kembali untuk merajut hidup. Sementara, orang lupa melakukan pencegahan demi dianggap keren. Bilamana makan di tempat-tempat yang dianggap wah, KVC, MC Donat, Hokya-Hokya Bento, dan sebagainya, lalu upload, keren ndaa… Padahal, sejatinya itu hanyalah kenikmatan sesaat duhai kaum manusia, #halah. Kau tahu, betapa melimpahnya hasil sayur-mayur petani Wonosobo, semangka, melon orang demak, padinya orang sragen, ayamnya tetangga desaku he.., dan jadilah rumah makan sederhana.
            
Kali itu, aku sengaja mengunjungi bangsal psikiatri. Di kursi tunggu, di lantai 2 itu, suasana berbeda dengan di lantai 1. Suasana hening, tak ada tawar-menawar cerita. Namun, sesekali kau akan mendengar teriakan histeris dan begitu hilang seketika, muncul kembali. Di bangsal Psikiatri ini, terdapat sebuah tulisan di papan pengumuman. “Pasien harus datang, keluarga tidak dilayani jika hanya meminta obat.”

Lima banjar kursi penuh, ditambah satu lajur kursi di poli sebelah juga penuh. Juga beberapa orang bergeletakan di lantai. Aku berdiri sembari memandang kiri-kanan. Ingin segera duduk di samping pasien-pasien yang sedang diam termangu, tapi…. jangan dulu. Amati suasana, pandangi satu per satu. Ada mbah putri yang dari mulutnya nampak ndremimil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya layaknya orang yang sedang berdzikir. Ada pula seorang yang mencuri-curi pandanganku dan lalu tersenyum sendiri tersipu malu. Ah, Ada juga yang lemas tak berdaya tiduran di kursi. Juga ada yang diam, serius dengan pandangan yang kosong. Nah, itu…
            
Aku mendekatinya, seorang yang mengenakan jaket biru dengan kupluk jaket yang ditutupkan di kepalanya dengan resleting penuh hingga bawah dagu. Ia menunduk dan sedakep. Ku curi-curi pandangan untuk melihat mukanya, tak nampak sedikit pun. Tunggu dulu…. Diam kira-kira 15 menit. Kursi yang ku duduki, ku sisakan setangah agar ada jeda antara aku dan dia. Juga telapak kaki yang kupersiapkan untuk lari sekencangnya. Haha.
            
“Hei….” ajakku untuk berinteraktif. Tak ada jawaban. “Hei, hei…..” hening. “Hello, aku Dewi, siapa namanu? Aku ingin ngobrol lho dengan kamu. Kamu kog diem terus, padahal aku mau cerita. Mau dengerin ceritaku nggak? Namamu siapa?” Aku merasa ketar-ketir, jug-jug, aku akan dicekik sebab aku mendadak menjadi seorang yang cerewet, bawel dan mengobral senyum di sampingnya. Duh,
            
“Azmi….Ulul Azmi,” tuturnya seraya menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Aha… seneng bukan main. Akhirnya. Aku yang kegirangan itu, terus melontarkan pertanyaan seperti bercerita dengan kawan lama yang tidak bertemu. Walau aku hati-hati dalam bertanya, namun aku sebiasa mungkin. Ia, nampak mengambil jeda untuk berpikir di setiap jawaban-jawabannya.
            
“Nama yang bagus, Mi. Ada lima Nabi yang dijuluki Ulul Azmi sebab ia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Begitu juga kamu. Kamu luar biasa,” lanjutku. Diam…dan memberi senyum padaku. Duh nyes-nyes rasane, kog aku begitu gembira dan sedih dalam sekali waktu.
            
Ia berasal dari daerah terjauh, terpencil, dan ter ter di Jepara, Keling nama daerahnya. Ia sudah 2 tahun berobat jalan di rsud kartini. 1 tahun di awal, ia diantar keluarga untuk berobat. Namun, 1 tahun belakangan ia datang sendiri. “Saya mungkin durhaka pada orang tua, makanya saya begini,” tuturnya. “Kog bisa?” “Ya, saya dulunya sering marah-marah. Saya bisa banting semua barang-barang dan mecahin kaca. Tapi sekarang sudah tidak. Eh masih, tapi jarang.” Bahasa Indonesia nya lumayan lancar dan rapi dalam menyusun kosa-katanya.
            
Ini berawal dari sebuah cerita pertemanan. Dulu, seusai menamatkan di madrasah aliyah, ia diterima kuliah di salah satu universitas di Yaman fakultas Syariah. Hanya 2 orang dari sekolahnya yang diterima. Tibalah di Yaman, hubungan pertemanan ternyata tak selamanya menyenangkan. Suatu hari, ia merasa gonduk pada temennya itu. Walhasil semua folder foto keluarganya di laptop, ia hapus. Temannya tersebut, katakanlah Abe, sangat marah. Ia terus mencari pelakunya namun tak kunjung ada yang mengaku. Dua semester saja, Azmi mengikuti kuliah. Setelahnya ia pulang ke Indonesia. Ia tidak bisa mengikuti pelajaran di sana, ia tidak pandai bahasa arab. Jadi, saat ujian tiba ia pasti menyontek, begitu juga tak merubah IP-nya menjadi bagus. Juga, keluarganya yang tak sanggup membiayai keperluan sehari-harinya, sebab beasiswa hanya untuk materi perkuliahan dan makan 2 kali sehari. Selebihnya sendiri. Ia tak kuat, akhirnya melambaikan tangan. Duh duh piye-piye meneh tanah air Indonesia luweh kepenak je…


Azmi, kini 25 tahun, 2 tahun silam sebelum terkena gangguan jiwa, ia sempat bekerja selama 2 tahun. Bekerja ngangkut kayu-kayu balok di tetangga rumah. Ia anak pertama dari empat bersaudara. Marahnya kerap kali meluap-luap jika adeknya yang paling kecil nangis. Kesehariannya selama 2 tahun ini, ia nyapu ngepel jika mau atau berdiam diri. Ia tak punya cita-cita muluk kecuali bisa berhenti dari obat.

Skizofrenia atau Bipolar
Di dalam terminologi ilmu kesehatan jiwa, di sana akan dikenal adanya 2 penyakit yang paling sering dibahas dalam ilmu psikiatri (ilmu kesehatan jiwa). Kedua penyakit itu adalah skizofrenia dan bipolar. Azmi sepertinya menderita bipolar.

Skizofrenia merupakan gangguan waham atau delusi dan halusinasi, sedangkan bipolar adalah gangguan suasana perasaan atau gangguan mood dari kondisi panik ke depresif, atau dari suasana yang sangat gembira menuju suasana yang depresif (sedih). Ciri ciri penderita skizofrenia adalah mereka sering mengalami delusi (sebuah keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan) dan halusinasi. Delusi atau waham adalah suatu gangguan isi pikiran, sebuah keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan, biasanya diwarnai oleh latar belakang kebudayaan. Sedangkan halusinasi adalah suatu persepsi sensorik yang salah tanpa adanya rangsangan dari luar yang sebenarnya. Mungkin terjadi karena gangguan emosi atau stres (reaksi histerik, deprivasi sensorik) atau psikosa fungsional.  

skizofrenia adalah suatu psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses berpikir serta disharmoni (perpecahan, keretakan) antara proses berpikir, afek / emosi, kemauan dan psikomotor disertai dengan distorsi kenyataan. Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yaitu “Scheizen” yang berarti pecah, dan “Phren” yang berarti jiwa. Artinya penderita skizofrenia tidak dapat membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Skizofrenia ditandai oleh adanya gejala gejala primer dan sekunder. Adapun gejala gejala primer antara lain gangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan, dan gejala “autistik”. Sedangkan gejala-gejala sekunder dapat berupa adanya waham, halusinasi, gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain.

Sedangkan bipolar adalah gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren (sering kambuh) serta dapat berlangsung seumur hidup. Sementara gejala skizofrenia terdiri dari gejala positif (delusi atau waham, halusinasi, kekacauan alam pikir, gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, dll.) dan gejala negatif (alam perasaannya tumpul dan datar, menarik diri dari lingkungan, kontak emosional yang kurang, sukar diajak bicara, dan pendiam, pasif, apatis, sulit dalam berpikir abstrak, pola pikir stereotipe, tidak ada dorongan kehendak, keinginan, tidak mau berupaya dan kehilangan kemauan). Sementara gejala bipolar adalah perubahan mood secara ekstrem dari manik (keadaan mood yang meninggi) ke depresi (keadaan mood yang menurun).

          “Azmi, jika lah kau sembuh nanti apa yang ingin kamu lakukan?” tak ada jawaban.
“Apa kamu ingin menikah?”
“Mungkin, jika sudah tidak begini.”
 “Mi, apa kamu sedang berhalusinasi tentang cerita-ceritamu?
“Tidak, aku sadar kog.”
“Yakin?”
“Yakin,” tutupnya sembari tersenyum. Azmi, adalah satu di antara semua manusia yang mempunyai resiko gangguan jiwa. Azmi, yang datang rutin setiap bulan untuk melakukan terapi menjadi bukti keberaniannya menjalani hidup. Hidup memang begitu, namun yang begitu-begitu cobalah dilepaskan sembari belajar ikhlas. Selamat Azmi, selamat dengan hidup yang selalu baru.  

Sabtu, 04 Oktober 2014

Tadarus Cinta untuk Munir


Ini ruang pertemuan. Cat dinding yang nampak usang, begitu debu-debu yang nampak mengotori jendela-jendela. Di Gedung notariat Undip, Pleburan, Safuddin Hafiz menyulapnya menjadi galeri. Puluhan lukisannya ia padu padankan di tembok tersebut. Ia menamai “tribute to Munir”. Sebuah pameran tunggal untuk melawan lupa atas kematian Munir 10 tahun silam.

Pentas budaya, diskusi, dan aksi damai tersebut berlangsung 7-11 September. Ia yang sebelumnya melakukan pameran tunggal dengan karya yang sama di rumah seni Lokananta Solo. Ia sempat ditolak ketika mengajukan proposal pameran di Galeri Bentara Solo. Telisik demi telisik, Bentara Solo tidak berani memamerkan karyanya sebab berhubungan dengan Munir. Maka, ketika kawan-kawan yang mengatasnamakan Koalisi Semarang untuk Munir menerima dengan tangan terbuka, Uddin panggilan akrabnya, begitu bahagia.
            
“Tadarus tak hanya mengeja lewat mulut dan melafalkannya,” tutur Uddin sembari menghirup asap rokok yang tak lepas dari tangannya sejak awal perbincangan. Tadarus adalah kekuatan jiwa, energi, dan niat untuk tetap menjaganya. Tadarus menjadi sikap melawan lupa akan segala hal. “Ini adalah sikap, komitmen sekaligus dedikasi seni dan kebudayaan, yang sejatinya diciptakan untuk mengabdi pada pemikiran dan nilai kemanusiaan. Sebagaimana Cak Munir mengabdi pada pemikiran untuk melawan lupa dan perjuangan penegakan hak asasi manusia. Bagaimana dengan kita?”
            
Lanjutnya, “Saya memilih melalui jalan ini. Saya akan tetap meyakini bahwa ini adalah jalanku.” Pria kelahiran 6 Agustus 1970 ini menjadikan referensi-referensi terkait Munir sebagai dasar pemikirannya. Munir telah menegakkan Hak Asasi Manusia di negeri ini. Apapun kata orang tentang dirinya, Munir telah membuktikan bahwa perjuangan menegakkan HAM adalah sesuatu yang mulia, meski penuh bahaya. Di masa-masa mencekam rejim Orde Baru berkuasa, saat kebebsan dipasung dan segala aktivitas yang berseberangan dengan Negara diawasi secara ketat, ia bersikap : tak kenal takut menyuarakan kelompok masyarakat serta rakyat yang mengalami penindasan dan ketidakadilan.
            
Uddin menjadikan setiap karyanya sebagai ibadah. Maka tak ada keresahan padanya ketika ia harus mengeluarkan 10 juta untuk proses pembuatannya. Terlebih tak ada satu pun sponsor yang mendukungnya. Baginya, belajar untuk ikhlas adalah hal terindah. “Jika ada masyarakat senang melihat karya saya, itu lah hal yang menggembirakan. Tak meminta lebih,” tuturnya. Benar, beberpa karyanya yang sedang dipamerkan tersebut telah ditawar seorang advokat dari Jogjakarta. Ia pun tak mematok harga. Ia lebih memilih untuk bertanya pada siapapun yang tertarik pada karyanya dan ingin memilikinya, “Jenengan, gadah arto berapa?” Ia akan ikhlas pada siapa pun yang menawar dengan kemampuan masing-masing.
            
Salah satu lukisan Munir yang dipamerkan, ada rajutan kata-kata Suciwati, istri Munir yang begini bunyinya, “Keberanian itu mudah, selama kita mau. Mari menjadi berani untuk kebenaran dan keadilan.” Suciwati dan anak-anaknya tak akan pernah melupakan sosok legendaris dalam keluarga kecil mereka. Melalui langkah-langkah kecil, Suciwati dan dua orang anaknya akan terus menghidupi Munir. Munir tidak mati. Ia hanya pergi ke alam yang beda. Di sini, dunia, ruhnya akan hidup untuk selamanya. Selama para manusia masih mau menadarus dunia dengan penuh cinta dan segala seluk beluknya.

Uddin mengaku akrab pula dengan Wiji Thukul. Seorang aktivis yang menyuarakan gagasannya melalui puisi. Namun, nasib malangnya tak jauh beda dengan Munir. Entah, kini Thukul ke mana? Orang tak sibuk menanti kehadiran fisiknya. Namun dengan karya yang ditorehkannya, orang menganggap Thukul benar-benar masih. Sebab, puisinya benar-benar ‘hidup’. 

Minggu, 17 Agustus 2014

Cerita Malam Kemerdekaan


Malam tadi, kami yang tergabung kawan-kawan ukm melakukan sebuah perenungan kecil. Para penggagas menamakan malam apresiasi mimbar nasionalisme. Mereka, Najib dari ukm kopma, Rouf dari ukm pramuka, dan Niam dari ukm ksr. Mendengar namanya saja, sebenarnya merinding. Iya gak sih? Kog songgone abot begitu? Malam seperti itu di tahun-tahun sebelumnya, selama empat tahun saya di sana, belum pernah ada. Jujur saja, sejak sore saya sedikit pesimis bahwa acara tersebut dapat dihadiri banyak kawan-kawan ukm dan terselenggara dengan baik.

Kami, kawan-kawan ukm biasanya disibukkan jauh-jauh hari dengan adanya persiapan upacara di universitas. Kawan Marching Band jauh-jauh hari mempersiapkan mayoret dan tabuhan yang yahud. Kawan Menwa, pramuka, ksr, pecinta alam pun telah siap dengan amunisinya. Kawan paduan suara pula mempersiapkan diri dengan tidak memakan goreng-gorengan demi menghasilkan suara merdu. Begitu, dandanan dan kostum yang terbaik. Benar, di subuh tadi, gedung ukm yang biasanya sepi tak ada aktivitas (sebab manusianya masih pada molor), nampak ramai. Dari bilik pintu, aku coba telusuri suara itu. Ya, mbakyu-mabkyu sedang memoles wajah, melukiskan potlot di alis, dan gincu merah muda di bibirnya. Begitu, kangmas-kangmas sambil di depan kaca menyibakkan rambut sembari mengolesi minyak. Pernik-pernik, seperti sabuk, topi, peluit, sepatu tak lupa ia lekatkan di tubuh dan sesekali maju-mundur di depan cermin. Mereka akan tampil di lapangan upacara untuk mempertunjukkan yang terbaik. Begitu, kawan ukm lain yang tak mengambil jatah biasanya akan lanjut meneruskan mimpi-mimpinya.

Minggu, 13 April 2014

Pada Akhirnya Hanya Kicauan jangkrik

11:59 PM. Orang hanya bisa menikmati pertarungan malam dan pagi hanya di menit tertentu. Tentu, satu menit dari sekarang pagi akan menghampiri. 12:00 AM. Tak ada perbedaan yang kontras. Jika banyak yang beranggapan bahwa pagi nampak terang dan malam hanya lah diselimuti kegelapan dan kesunyian, tentu tidak tepat. Pagi dan malam hanyalah siklus. Dan itu hanya sebuah penanda. Toh, tadi di sebelum detik-detik pergantian malam dan pagi, jangkrik masih tetap berkicau. Tak ada yang beda.

Orang dulu belum mengenal jam sebagai penanda waktu. Mereka hanya berpatok pada tanda-tanda alam dan lingkungan. Ketika subuh misalnya, sebuah tanda ayam saling bersahut-sahutan. Maka, segala aktivitas lebih baik segera dimulai, jika tidak akan dipatok ayam, katanya. Begitu, tak ada setiap pekerjaan yang pantas atau tidak pantas dilakukan dipilah waktu. Hanya saja setiap pekerjaan dilakukan dengan memperkirakan keefektifan, keetisan, dan bahkan kelumprahan.