Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2015

Nikah

akuh, fitafit, dan win-win

Sebuah catatan untuk seorang yang lebih dari teman. Entah apa aku tidak tahu.

Hai Mbul, seharian ini pikiranku menari-nari. Aku macam mengulas peristiwa-peristiwa yang pernah kita lakukan. Aku mendapat kabar dari Fita, setelah lebaran kamu akan menikah. Ya, kita bertiga memang trio paren. Sedari sd hingga kuliah selalu bareng. Kecuali fita ketika smp masuk di smp yang beda. Namun, saat sma akhirnya bareng lagi.
Pagi tadi, aku dan fita macam merenungi masa-masa dulu. Lalu muncul banyak pertanyaan yang sebenarnya jawaban tersebut sudah kita ketahui masing-masing. “Eh, kita emang sudah dewasa ya?” “Yah, biasanya kita kemana-mana bertiga, kamu jangan ninggal aku (duluan) lagi ya?” “Kita bareng aja. Wkwkw” “Eh, padahal kita kan masih unyu-unyu ya. Masih anak-anak. Coba lihat dengan yang lainnya. Kita masih suka makan es krim bareng kalau galau. Kita juga gini-gini aja dari dulu. Dari penampilan, bertiga trio klowor. Dandan, juga gak bisa. Kecuali win, dia mulai belajar sebab jurusannya tata busana. Gitu aja, dia gak pernah dandan berlebihan. Kita bertiga sepakat menjunjung tinggi simple is elegant. Hahaha.” “Hah, Uwinnn…….”

Mbul, hal yang ku ingat darimu pokoknya aku baru tahu kalau pisang raja digoreng tanpa tepung di wajan yang minyaknya sedikit atau lebih enak lagi pake margarin itu rasanya mak nyoooss. Lebih-lebih ditumpahi susu coklat. Beuhhh. Dulu, kita sering masak dan rujakan bareng. Aku yang suka tanaman, minta bunga di rumahmu lalu ku tanam di rumah. Belakangan juga, ngegalau kita sering ditumpahkan di laut. Pas kita ke teluk awur, aku merasa asyik sendiri. Aku mencari kerang dari ujung ke ujung. Melakukan obrolan dengan kakek-kakek yang sedang memunguti sampah yang seabrek. Kau menungguiku ketika aku merasa kesal dan mengumpat-ngumpat di laut, sebab sampahnya begitu banyak. Airnya kotor sekali. Aku yang mencangking kresek gedhe, lalu berjalan menyusur bibir pantai untuk mengumpulkan kerang-kerang dan semacamnya yang menurutku unik. Dan kamu mengikutiku atau sesekali memarahiku. “Kamu itu gila. Jam 12 siang ini. Ke sini hanya untuk jadi pemulung sampah aja,” katanya. Aku hanya cengengesan dan menggodanya atau menyilakan di ke tepi saja kalau merasa enek sama aku. Ah, setelah itu aku merasa bersalah. Aku lupa kalau aku membawa teman. Biasanya kalau seperti itu, aku melakukan perjalanan sendiri. Dan bisa seperti orang ilang. Duh, maaf Mbul.

kami dan teman sma
Aku baru saja senang, kalau kamu dan fita sudah berani mengendarai motor di jalan raya. Dulu, kalau kita mau ke mana-mana mesti ngangkot. Karena kita bertiga, dan yang berani mengendarai motor cuma aku. Masak cenglu. Sementara kamu itu gembul. Atau aku akan mengajak bergantian atau mencari tebengan orang. Ah, baru saja kita menikmati pergi bertiga dengan kondisi yang lebih nyaman dari sebelumnya. Aku yang dulu paling rempong dan menjadi kompor, agar kalian memberanikan diri untuk mengendarai motor di jalan raya. Modal nekat aja pokoke. Kek aku. Sudah pernah kan, kalian tak boncengin dan tak toyor-toyorin atau kita yang ditoyor. Atau jangan-jangan kamu itu trauma tidak berani naik motor, gegara sering ketoyor kalau sama aku. Duh dek…… Ah,

Kamu itu lebih dari narasi yang ku paparkan, Mbul. Juga Fita. Betapa kita bertiga selalu bisa memposisikan untuk bersikap macam apa saat diantara kita ada problem. Eh, sepertinya aku baru sadar jika aku yang tak banyak cerita ya. Aku yang lebih sering menahan. Ah memang….

Ingat tidak, hari-hari menjelang aku dan kamu mau wisuda. Sungguh sangat santai sekali. Aku malah haha-hihi menikmati suasana bebas. Kita dandan sendiri, tepatnya kamu yang ngedandani aku. Dan aku sangat suka. Sebab kita pengagum minimalis. Aku yang jauh-jauh hari gusar, macam mana aku nanti didandani. Aku malu. Aku tidak ingin bertemu orang-orang pokoke. Selesai prosesi menjemukan itu aku ingin langsung cabut, tapi apa boleh buat. Kamu yang meyakinkanku, tenang bisa diatur. Kamu juga, yang menjahitkan jarikku. Dan merapikan kebayaku. Kamu telah mewujudkan impianku, Mbul. Pakaian yang ku kenakan itu semua milik mbah putriku. Yang entah, tetiba hari-hari gersang saat menyusun skripsi dia hadir di mimpiku. Mengenakan kebaya putih dan jarik coklat dengan motif kuno dan melempar senyum padaku. Ya kedua mbah putriku itu telah tiada selama aku menempuh kuliah di semarang. Ia yang sering bertanya, “Kamu itu sekolah opo to nduk-nduk rak rampung-rampung. Rak tau bali. Tapi kog tambah lemu. Wes kerjo?” ah, itu pertanyaan yang menyanyat hingga saat ini. Mbah… jembar kuburmu ya.
***

aku, sebab hasil karyamu. terimakasih.
Sebulan yang lalu, saat diri dalam kondisi yang tak stabil selalu aku habiskan ke toko buku. Hampir saban hari ke toko buku. Walau tak beli. Aku hanya ingin menciumi bau khas buku dan nglesot di bawah rak hingga menunggu diusir satpam. Dan entah kali itu, ingin sekali membaca intisari health. Lha dalah, temane tentang pernikahan dan memaknainya. Dan aku pengen sekali beli. Isinya renyah dan berisi pokoke. Ada yang bikin ketawa sendiri ada juga yang bikin ngilu. Ah, buku ini akan sampai di tanganmu, Mbul. Kamu yang lebih memerlukan segera. Setiap buku yang ku beli pasti punya cerita. Juga setiap buku yang kuberikan pada teman-teman juga punya cerita. Biasanya kalau aku akan memberikan buku, juga akan ada surat yang menyelip di dalamnya. Namun, beberapa juga tidak ada. Sebab, ku rasa sepertinya aku tak perlu berkata apapun. Dan Why, aku selalu tergerak untuk memberi seorang itu berupa buku? Itu macam, begitu saja. Sebenarnya, aku ingin meminjam lidah orang saja sih untuk mengatakan suatu hal. Aku tak ingin mulutku terlalu berbusa-busa. Barangkali, apa yang keluar dari mulutku juga tak berarti dan gedebus. Nah, lewat buku orang yang sebenarnya juga sudah aku maknai isinya, aku ingin menyampaikan. Ada jiwa yang terhubung dalam tulisan-tulisan tersebut.

Nikah. Aku berusaha untuk memaknainya dalam faseku. Maka, sering aku tidak untuk menjatuhkan diri dalam riuhnya perbincangan babagan tersebut. Saat di kerumunan, dan babagan itu menjadi topik perbincangan (catatan : curhat personal) aku akan menjadi juru dengar dan melempar senyum saja. Padahal kan kalau perempuan bahas itu pasti seru dan asyik ya? Heboh pokoknya? Pokoknya juga, senyum aja. Pertama, aku ingin mengakrabi faseku. Jadi, aku berusaha untuk tidak masuk dalam keriuhan. Apalagi sekarang, sedang gencar gerakan dengan tageline #Ayonikah. Eh, Kedua, kadang curhatan nikah akan meninggikan diri pada bayangan-bayangan simbolis yang wah. Dan sebab aku mengimani hal yang simplis, aku berusaha mlipir untuk memaknai yang sebenarnya dalam diri. Seperti, saat hadir di pesta pernikahan aku selalu senang. Senang itu kutunjukkan dengan menghadiri atau menitip salam jika ada kepentingan dan tak bisa hadir. Saat hadir, aku selalu mengamati wajah mempelai dan  orang-orang yang datang. Sumringah dan nampak bahagia. Nyess rasanya. Di saat itu pula, aku akan mengambil sudut yang nyaman bagiku dan sejenak nyawang sesiapapun yang hadir. Diam dan memberi senyum pada pemandangan. 

Ketiga, diam-diam aku berdoa. Begini, Gusti bahwa perjalanan memang membutuhkan partner hidup, hadirkan kami dalam wujud kita. Pertemukanlah kami dalam fase kami, seakrab-akrabnya kami memahami fase diri. Limpahilah kewelasasihan-Mu dalam tumbuhnya kami memahami diri dan diantara untuk menuju-Mu.

aku dan gembul di pantai kartini. Ke pantai yang
salah kostum karena dikerjani. Duh, akhire
berguna to dadi model-(madul). Ha
Beda, ketika aku mesti mengurai tentang pernikahan yang ada di Indonesia. Maksudnya dari sisi kesehatan, perkembangan psikis, batasan umur. Aku akan berbicara lantang soal itu. Betapa gobloknya MK, ketika menolak batasan usia menikah dari 16 tahun menjadi 18 tahun bagi perempuan. Juga pada laki-laki. Bayangkan, kategori anak adalah mereka yang usianya di bawah 18 tahun. Usia 16 tahun adalah usia anak yang mestinya masih mempunyai hak perlindungan. Bagaimana mungkin, ia bisa mengurus manusia lain untuk dilindungi haknya, sementara haknya terampas. Ditambah pula, negara ini baru melegalkan warganya yakni berupa kartu identitas penduduk di usia 17 tahun. Kalau alasannya hanya karena agama, agama macam apa yang berpikir cupet dan tak membuka ruang diskursus dengan pikiran yang jernih? Barangkali, ada orang yang berpikir bahwa manusia gur menerima ayat dan patuh. Mengkajinya bahkan mempunyai pikiran lain hukumnya haram. Haram, Mbahmu! Lebih haram mana, menelantarkan jutaan manusia setiap tahunnya menuju kegelapan berumah tangga. Lha wong rumah tangga mesti dilandasi agama. Kalau orang yang beragama berpikir macam itu, sungguh nista ia menaruh agamanya sebagai kambinghitam. Hanya gegara takut dosa mengkaji kekinian yang disandingkan dengan ayat Gusti.   

Aku pernah tinggal selama satu minggu di Bogor. Tepatnya di daerah Megamendung. Di sana ada yang namanya kampung Arab. Dan betapa pernikahan hanya dijadikan komoditas dan pemenuh nafsu belaka. Setelah itu, anak-anak lah yang menjadi korban orang-orang dewasa. Anak-anak lucu, berperawakan tinggi gagah, hidung mancung, dan mata khas arab menjadi korban. Orang dewasa memang sering mempunyai laku biadab pada anak-anak. Betapa generasi ini akan semakin sakit, jika hal macam itu diteruskan. Juga, di daerah tempat yang aku tinggali saat Magang. Tepatnya di Desa Cening Kendal. Anak-anak yang lulus sd banyak yang menikah. Dan imbasnya, angka kematian ibu dan bayi tinggi, juga janda-janda muda. Parahnya lagi, HIV/AIDS menjadi penyakit yang akrab. Duh, rasanya tercabik-cabik!

Aku sangat paham dan sepakat, jika bangunan yang besar dimulai dari pondasi yang kecil. Ya, dimulai dari bangunan terkecil keluarga, anak-anak akan tumbuh mendewasa dan membangun imaji mereka. Membangun rumah tangga menjadi jalannya.

DM | 24012015 23:53


Selasa, 05 Mei 2015

Surat untuk Semesta


Semesta, mungkin aku memang belum mengenalmu dalam. Tapi, aku akan terus menempuh perjalanan menujumu melalui perjalanan diri. Berawal dari obrolan sore tadi bersama Ibun, aku semakin yakin bahwa pencarianku adalah pencarian menuju yang hakiki, ya menuju semesta.

Aku suka menulis surat terutama surat yang ku tulis langsung dengan menggoreskan tinta di kertas. Entah, panggilan menulis surat adalah panggilan terdalam dalam diri. Sebenarnya aku itu tidak terlalu pede bicara di depan umum. Namun, berawal dari tuntutan aku yakini, aku harus memberanikan diri. Maka, kembali menulis surat mengulang masa di mana bolpoin dan kertas adalah temanku sedari kecil hingga kembali kepada semesta.

Banyak hal-hal yang perlu ku urai dalam diri. Tentang kedirian dan kepulangan. Dua hal itu yang saat ini menjadi misiku dalam menempuh perjalanan. Entah, perjalanan macam apa, aku akan menempuh perjalanan yang masih panjang. Kedirian adalah soal aku memandang diriku sebagai manusia. Sebenarnya apa itu tugas manusia? Apakah makhluk ciptaan Tuhan yang lain juga meresahkan hal yang sama? Sebagai Khalifah? Khalifah untuk siapa? Melakukan yang terbaik? Terbaik macam apa yang mesti harus dilakukan?

Hal-hal macam itu bahkan sudah ku pertanyakan sedari kecil. Sepertinya, aku lahir langsung mendewasa. Bahkan, masa kecilku aku sering meresapi masalah-masalah orang dewasa yang bagiku mengerikan. Aku ingat betul, aku pernah mengurung diri di kamar dengan tiga buah pisau yang sudah ku asah ku taruh di dalam tas. Entah, untuk apa. Tapi aku teringat momen itu.

Semesta, aku tahu, hal-hal macam itu tak lebih hanyalah sebuah perjalanan hidup. Kunci manusia adalah ruh. Ruh itu suci. Ia dihadirkan dari tempat yang mulia. Maka, manusia mesti berusaha memulangkannya dalam kondisi yang serupa. Namun, kadang aku pun terlena, bahwa pemberian itu adalah kepunyaanku sepenuhnya. Sehingga aku kadang terbutakan pada hal-hal macam begitu.

Pada hal-hal yang melekat dalam diri, memang mesti dilepaskan. Bahwa perjalanan manusia adalah perjalanan yang sangat pribadi untuk menuju Tuhannya. Bahwa, tentang materil, partner hidup, anak, teman, pekerjaan, hanyalah sebuah rute untuk menuju-Nya. Seringkali sederet kepemilikan itu benar bukanlah kepemilikan manusia. Ia hanya dititipi oleh Tuhannya.

Bahwa setiap diri mesti belajar untuk menguasai perasaan dan pikirannya sendiri. Rasa marah terhadap orang lain misalnya, yang kita tumpahkan secara berlebihan berarti diri belum mampu untuk menguasai diri. Atau rasa senang terhadap orang lain, sehingga menyerahkan segala hidup matinya pada orang lain juga ia sedang dikuasai oleh selain dirinya, dan itu sungguh kekejian dalam memperlakukan diri sendiri.

Ada ruang dimana kita mesti mengetahui hak dan kewajiban diri. Kewajiban kita adalah merawat jiwa dengan menempuh lini-lini yang kadang berliku. Dan hak kita adalah menjaga diri dari penguasaan liyan. Sebab, pada pola hubungan kedua hal tersebut seringkali menyatu. Maka, mengurainya adalah bagian dari perjalanan.

Partner Hidup
Semesta, perjalanan ini memang membutuhkan energi, pikiran, keikhlasan yang begitu mendalam. Ajarilah aku, sedikit demi sedikit. Aku tentu tak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh seorang partner untuk menempuh perjalanan ini. Aku tak pernah membayangkan hal yang lebih. Pun hal yang muluk. Selama ini, jika aku tak membincangkannya dalam ruang keramaian, sebab ini perjalanan yang sunyi, perjalanan spiritualitas, perjalanan untuk menempuh diri. Perjalanan yang tak pernah bisa ditebak. Hanya aku yang bisa merasakannya. Katakanlah bahwa partner hidup itu akan diikat dalam sebuah pernikahan barangkali bisa dibenarkan. Pernikahan tak lebih sebab manusia hidup sosial, sehingga ada nilai yang perlu dilaksanakan. Selebihnya, bahwa aku sangat meyakini penyatuan jiwa dan perasaan antar pasangan manusia adalah penyatuan semesta. Mereka disatukan untuk menempuh perjalanan suci menuju-Nya.

Lagi, lagi, bahwa aku sadar penyatuan itu pun bukan segalanya. Aku yang sanggup menguasai diriku, dan ia yang sanggup menguasai dirinya. Tentu, bagiku hubungan penyatuan itu adalah tolong-menolong agar aku bisa sampai pada-Nya dan ia sampai pada-Nya. Bahwa ia yang menjadi pemimpin dalam perjalanan ini, aku pun tak menolaknya. Dalam perjalanan mana, yang tak membutuhkan pemimpin untuk menahkodai? Justru akan keos. Selebihnya adalah hal-hal yang perlu dilepaskan.

Itu yang menjadi pertanyaan panjangku, dan setidaknya dalam perjalanan ini aku menemukan jawaban itu walau sedikit. Dan barangkali esok aku akan menemukan jawaban itu lagi dan seterusnya. Aku akan menempatkan diri bagai teko.
Menyoal cinta, konstruksi yang dibangun dalam pikiran masing-masing, sebab antar satu dan lainnya sungguh beda jalannya, aku memahaminya. Atau mungkin banyak orang yang merasa bahwa cinta adalah segalanya, mungkin begitu benar bila ia mampu berbuat seimbang untuk tidak hanya pada lawan jenis saja namun pada kehidupannya. Bagiku, cinta mengemban makna yang begitu padat. Aku masih belum tahu. Namun, aku bisa merumuskan cinta dalam pandanganku sendiri. Bahwa cinta tak lebih hanyalah bumbu manis dalam kehidupan. Begitu banyak orang yang dipersatukan cinta, ada. Lalu tak saling mencintai lagi, ada. Juga, ada yang dipersatukan sebab hal lain. Cinta bisa saja mempercepat  jalan menuju Tuhan-Nya atau sebaliknya. Maka, ketidakberanianku membincang cinta dalam keriuhan, sebab aku ingin hanya aku yang merasakannya. Sehingga aku tak bisa memaknai secara laku pribadi.

Sebab, jalan ke’ada’anku tidak seperti konstruksi cinta atas pemaknaan umum liyan, maka aku memaknai jalan cinta begitu sangat privat. Pun, aku sangat merasakan betul bagaimana kekuatan orang yang saling mencintai. Juga tidak.

Cintaku, aku tahu kau hadir persis seperti jalanku. Pada kesunyian dan kelirihan. Aku akan memaknai cinta selayaknya jalan cinta yang dihadirkan semesta untuk aku dan kau. Aku tak perlu untuk meyakinimu saat ini dengan berlebih, sebab aku tak tahu pergerakan semesta. Yang ku tahu saat ini, bahwa aku adalah manusia yang sedang mencari jalan kemanusiaan. Begitu pula, kau cintaku adalah manusia. Yang perlu tumbuh utuh selayaknya manusia dihadirkan di bumi.

Dengan aku memahami diri sebagai manusia aku berarti memahamimu. Tanpa perlu mencari-cari kesamaan atau menolak ketidaksamaan. Tanpa perlu mengkhawatirkan bagaimana jalanmu sekarang dan esok, tanpa perlu tahu kau memaknai cinta seperti apa, tanpa perlu menebak-nebak kabarmu, tanpa perlu tahu bagaimana perasaanmu, tanpa perlu tahu kau sehat atau tidak, tanpa perlu tahu kau memikirkan hal yang sama sepertiku, tanpa perlu tahu tanpa perlu tahu. Yang ku tahu hanya kau manusia begitu juga aku. Aku hanya bisa terus berdoa, tanpa bisa merupa. Aku hanya meyakini pergerakan batin, jiwa, perasaan, pikiran ini sebagai laku pergerakan semesta. Aku hanya perlu fokus pada langkah keakuan sebagai manusia yang tentu menghadirkan manusia-manusia lain dalam diri. Semesta adalah magnet, dayanya yang akan menarik di sekelilingnya untuk disatukan. Lepas lepas lepas lepas lepas lepas lepas lah…..
DM | 2 Mei 2015


Rabu, 08 Oktober 2014

Aufklarung

"Kenapa kau tak memberi kabar?" ujarnya dengan nada tinggi. 
"Bla bla bla...." sebelum ia selesai bicara, aku tertegun dan tersedu. Aku jelaskan dengan nada lirih dan santai. Ia, akhirnya mengikuti nada yang seirama denganku. Pun sudah tak terdengar suara yang meluap-luap. 

Ah, aku tahu kau mengkhawatirkanku. Tapi, aku belum siap untuk memberi kabar begitu adanya. Aku memilih diam, atau sesekali ku kirim kabar baik yang sebenarnya tak utuh kebaikannya. Jika kita sama saling mengkhawatirkan, mengadu lah pada Gusti. Cemaslah pada-Nya. Aku masih kuat untuk berjalan di koridor ini. Pada senja nanti tentu akan kulepas segala pilu redamnya. Ini caraku. Kau tak perlu khawatir. Aku selalu berdoa untuk kita semua agar tetap menjaga senyum. 
"Ya wis, hati-hati Nak. Berkirimlah kabar jika kau perlu mengirim senyum untuk kami." 
"Tentu."


Rabu, 01 Oktober 2014

Makna #3















Menyusur malam memang indah
Dalam remang, aku menemumu, Makna
Kau ingat bukan pertemuan yang mengharukan malam itu?
Tak terencanakan, tak terkonsep
Baik Aku Kau hadir begitu saja

Mataku tak sanggup bertemu matamu terlalu lama
Aku menatap sekilas
Lalu meleleh

Ya, aku sadar penuh pada suasana kalut itu
Begitu dalam keterpejamanku, aku paham kau pun meleleh
Kau tunjukkan mata berbinar setelah ku bisa menata diri
Kau bisiki aku
Kau berusaha untuk menutup lubang
Dan semua ini sudah ritmenya

Kau meneropong jantungku 
Pas persis di palung
Aku tak bisa berkutik
Kecuali kembali meleleh

Aku tak memandang bahwa Kau, Makna, sedang dirundung kesedihan
Lalu, ku iba padamu 
Ini suatu siklus
Begitu yang aku rasakan, kita, ia, dan mereka 
Aku kuat, aku bahagia, sebab aku menemu Makna, Kau
Begitu dengan Kau, kuat dan tangguh 

Bila kita harus kembali bertatap
Berdoalah dengan menyebut 99 nama baik Gusti
Seperti yang kita yakini

DM | 10/1/14

Minggu, 17 Agustus 2014

Cerita Malam Kemerdekaan


Malam tadi, kami yang tergabung kawan-kawan ukm melakukan sebuah perenungan kecil. Para penggagas menamakan malam apresiasi mimbar nasionalisme. Mereka, Najib dari ukm kopma, Rouf dari ukm pramuka, dan Niam dari ukm ksr. Mendengar namanya saja, sebenarnya merinding. Iya gak sih? Kog songgone abot begitu? Malam seperti itu di tahun-tahun sebelumnya, selama empat tahun saya di sana, belum pernah ada. Jujur saja, sejak sore saya sedikit pesimis bahwa acara tersebut dapat dihadiri banyak kawan-kawan ukm dan terselenggara dengan baik.

Kami, kawan-kawan ukm biasanya disibukkan jauh-jauh hari dengan adanya persiapan upacara di universitas. Kawan Marching Band jauh-jauh hari mempersiapkan mayoret dan tabuhan yang yahud. Kawan Menwa, pramuka, ksr, pecinta alam pun telah siap dengan amunisinya. Kawan paduan suara pula mempersiapkan diri dengan tidak memakan goreng-gorengan demi menghasilkan suara merdu. Begitu, dandanan dan kostum yang terbaik. Benar, di subuh tadi, gedung ukm yang biasanya sepi tak ada aktivitas (sebab manusianya masih pada molor), nampak ramai. Dari bilik pintu, aku coba telusuri suara itu. Ya, mbakyu-mabkyu sedang memoles wajah, melukiskan potlot di alis, dan gincu merah muda di bibirnya. Begitu, kangmas-kangmas sambil di depan kaca menyibakkan rambut sembari mengolesi minyak. Pernik-pernik, seperti sabuk, topi, peluit, sepatu tak lupa ia lekatkan di tubuh dan sesekali maju-mundur di depan cermin. Mereka akan tampil di lapangan upacara untuk mempertunjukkan yang terbaik. Begitu, kawan ukm lain yang tak mengambil jatah biasanya akan lanjut meneruskan mimpi-mimpinya.

Minggu, 03 Agustus 2014

Kawan




Jalan. Berjalan. Hidup ini berada pada peraduan perjalanan. Dulu, saya mengenyam bangku sekolah dasar. Kini, bangku perantauan. Pada perjalanan itu, tentu saya lewati bersama kawan. Banyak kawan-kawanku yang turut melewati perjalanan bersama namun sendiri. Dua diantaranya, kawanku Fita Fatimah dan Winarti Wulandari. Mereka kawan sedari sekolah dasar hingga kini di kampus yang sama dan beberapa sore ke depan.

Kakiku sedikit sakit digerakkan. Kutengok, ternyata ada ukiran lecet-lecet dan beberapa lebam. Tanpa sadar kami sudah nyungsep di tepian sawah dekat jalan menuju sekolah dasar. Kami tertawa lalu berdiri dan mengayuh kembali sepeda. Begitu, kenang saya pada peristiwa mengharukan sekaligus menggelikan kala itu. Kelas empat sekolah dasar, saya duduk satu bangku dengan fita begitu panggilan akrabnya. Entah, sering sekali buku pelajaran fita tertinggal di rumah. Ia yang selalu rangking satu dan saya yang menduduki rangking dua di sekolah sudah terkenal kepintarannya. Maksudnya kepintaran fita ya. Sebab seringnya belajar berpindah-pindah ruangan di rumah, barangkali bukunya menyebar. Alhasil, sampai terlupa dimasukkan tas. Maklum rumahnya gedhe.

Minggu, 20 Juli 2014

Jen



Jen

Jen, itu kah Kau?
Aku, aku, lidahku kelu

Aku bertemumu setahun silam
Di sini di ruang ini
Tentu, di kesunyian
Aku membatin Kau
Lalu Kau muncul

Jen, tentu aku tak menarik-narik kebetulan
Yang lalu kuamini sebagai Takdir
Atau peristiwa-peristiwa yang sangat kebetulan yang tak kebetulan

Jen, hadirnya Kau telah membuatku renyah
Setidaknya untuk berkelakar yang tanpa batas
Kau, rekanku
Rekan yang hadir dalam wujud apapun
Kau di sini (imaji)
Selamat datang dan mari berpetualang
DM | 7/20/2014

Minggu, 24 Maret 2013

Ersha, Memulai dari No(ve)l


Aku terbayang dengan Ersha. Sebuah nama yang baru saja ada di benakku pagi tadi. Ketika ku berimaji di kamar mandi. Ya, Ersha. Walau nama itu baru terlintas, aku sudah begitu mengenalmu. Kita sudah pernah bertemu bukan? Di teras sekolah, aku dan kamu. 

Ersha kau pasti sukses. Dengan khayalan-khayalan dan mimpi-mimpimu. Kala itu kau bercerita tentang kamu dan hobimu. Lima menit aku mengenalmu seakan sudah seperti kakak adek. Padahal aku dan kakakku tak selumer itu, dulu. Sekarang lengket. Kau membuka pertanyaan yang banyak. Kau memintaku untuk memberi tanggapan atas pertanyaanmu. Begitu hingga satu dua jam. 

Sabtu, 23 Maret 2013

Kuusap Lembut, Kasih Untuk Kamu dan Kalian

Kasihku, 

       Perjalanan ini begitu menyenangkan. Satu dua tangkai mawar saling mewarnai. Terkadang duri-duri lembutnya pun turut bisa kita rasakan. 

       Kasih, aku tahu dengan perjalanan ini. Jika berhenti saja dalam perenungan tak akan sampai aku dan kalian dalam rumah impian hati kamu. Tak akan sanggup memeluk jiwa dan ragamu. Impian dalam diri untuk terus meningkatkan kepekaan. 

       Selayaknya perjalanan ke papua. Kita ingin lebih mengenal saudara kita bukan? Memahami kondisi di sana seperti. Jika selama ini kalian hanya menjadi penonton atas keresahan saudara kita, sekarang kalian mendapatkan kesempatan untuk menengok langsung. Bahkan mempunyai kesempatan luar biasa untuk merealisasikan solusi atas keresahan kalian. Kalian tak hanya berkeluh kesah namun bertindak.