Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2015

Masa Kanak yang Melampaui Ruang dan Waktu


Berjalan menyusur pasar seusai kebakaran menjadi kengiluan bagi diri. Dua kali (Pasar Mbabatan Ungaran & Pasar Johar), aku sekadar menengok, atau mencari informasi pasar tradisional yang terbakar. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa pasar tradisional yang sering terbakar? Mengapa tidak swalayan yang gedhe saja yang terbakar lalu ludes? Mengapa masyarakat kecil semakin menderita di negeri ini? Apakah negeri ini memang sudah tak sanggup lagi menjadi ibu pertiwi bagi masyarakat kecil? Apa sebab terbakarnya, korsleting? Ah, atau sengaja dibakar oleh oknum? Kamprett, negara ini! Lalu, seusai mengumpat, kutujukan pada siapa kekesalanku ini? Ah, aku hanya ingin mengumpat. Aku masih bersemangat untuk menyibak hal-hal kecil yang dapat kujamah.

Seusai puter-puter pasar, aku merasa lelah. Bukan lelah sebab aku berjalan dari ujung ke ujung. Itu hal yang biasa ku lakukan, jalan kaki. Namun, hati dan pikiranku merasa lelah. Aku memang tak percaya kalau pasar-pasar tradisional terbakar karena korsleting. Aku sangat yakin, jika itu dibakar.

Orang-orang mengapa semakin bejat dan kejam. Aku tak habis pikir. Ya, sebab aku capek, aku singgah ke tempat tinggal Gias. Seorang kawan yang ku kenal beberapa bulan belakangan. Ia tinggal di dalam pasar johar bersama keluarganya dan keluarga lain sedari kecil. Aku merasa beruntung punya kawan di sana, setidaknya bisa kujadikan sandaran (walau dalam kenyataannya aku tak benar-benar bersandar). Bersandar di sini kumaknai, aku hanya ingin mendengar cerita. Aku memposisikan diriku sebagai anak kecil yang ingin mendapat cerita atau dongeng. Aku adalah orang yang sering kehausan cerita. Aku ingin mendapat banyak cerita. Namun, terkadang aku juga tak kuat untuk mendengar cerita (lagi). Aku ingin bercerita pada diriku sendiri, itu pun justru menjadi hal sulit yang belum terpecahkan.

Gias usianya 20 tahun. Ia sudah punya bayi mungil yang usianya 8 bulan. Padahal terakhir aku ke sana, pas bayinya berusia 3 bulan. Sudah lama sekali berarti aku tak singgah di rumah kehidupannya. Ah, aku tak bertemu Gias. Ia ikut suaminya bekerja. Padahal aku ingin mencium dan mempuk-puk anaknya. Tapi, bertemulah aku dengan Wulan. Ia adalah kakak Gias. Wulan ternyata sudah menikah. Kini, ia hamil 3 bulan. Ia nampak cantik menggunakan daster putih selutut dengan bahan kain goni. Aku suka. Rambutnya dipocong. Ia tak menggunakan riasan. Kulitnya memang gelap (sepertiku), namun aku melihat wajahnya berseri. Sebab, senyum yang tiada lepas dari bibirnya. Ya, kegilaan kami kemarin adalah menertawakan hal-hal konyol sekaligus berarti.

“Mbak, minta duite to. Aku pek jajan es,” tuturnya seorang bocil laki-laki sembari merengek. “Minta ibukmu sana. Jajan kog terus. Aku ndak punya duit,” jelas Wulan dengan nada tinggi. Bocil itu adalah keponakan Gias. Ia memang sering jajan. Apalagi mereka tinggal di pasar, yang mana mau jajan apa saja ada.

Dari rengekan bocil itu, Wulan mungkin teringat tentang sebuah kenangan. Ya, kenangan masa kecilnya. Usianya kini 23 tahun. Ia mulai bercerita dengan sesekali menunjukkan kejengkelannya dan kami tertawa bersama. Dulu, ia begitu bersamangat untuk sekolah. “Pokoknya piye carane aku sekolah.” Suatu kebanggaan bagiku, ia seoranga anak jalanan yang menamatkan sma. Horeee… entah, sekolah itu seberapa berharganya, namun untuk kondisi Wulan aku mengacungi jempol. Jika, sekolah tidak penting dan dimanapun seorang bisa belajar, barangkali aku menangkap titik poin yang beda dengan jika itu ada pada kondisi mereka.

Tempat kehidupan Wulan sejak lahir adalah pasar dan jalanan. Tempat bermain yang asyik bagi adalah lahan parkiran, gang-gang sempit antar penjual, dan depan toilet sewaktu mengantri mandi. Ia mengaku menikmati masa-masa kecil tersebut, namun bukan berarti mudah untuk yakin akan menjalaninya ke depan. Lebih-lebih jika anaknya lahir.
Dulu pada 2009, ia adalah penggagas forum anaknya yayasan setara semarang. Yayasan yang saat itu fokus untuk menangani anak jalanan. Ia aktif. Ia juga sebagai koordonator anak jalanan komplek pasar johar. Setiap minggu pasti kumpul dengan anjal lainnya untuk cerita dan bersenang-senang. Para pendamping yayasan setara hadir untuk mendengar cerita mereka dan merumuskan keresahan tersebut.

Sejak sekolah dasar, ia belajar mandiri untuk sekadar memenuhi keperluannya sendiri. Memang keperluannya tidak neko-neko. Yang penting bisa makan dan uang sekolah terbayar. Ketika ia kelas 3 sd, ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah (pasar). Baru, ketika ia smp ibunya kembali. Sejak sd hingga sma, ia mendapat beasiswa untuk sekolah. Namun, bukan berarti mendapat beasiswa menjadi hal yang menyenangkan dan cukup tinggal belajar saja. Ia mendapat beasiswa namun juga harus aktif untuk berkegiatan.
Ya, beasiswa yang ia terima tak bisa memenuhi kebutuhan untuk makan. Maka, sejak sekolah dasar tersebut ia ngamen dari bis ke bis. Dari toko ke toko. Dari gang ke gang. Dari mendapat senyuman hingga kemarahan.

Tulisan ini ditunda beberapa saat. Sebab ada rapat dengan pak pram, pemredku yang super duper semangat. Aku terharu pokoknya sama dia. Aku juga kuliah privat dengannya. Biasa, rapat redaksi sering berujung kuliah privat. Ia pasti bercerita banyak hal ketika tema sudah kelar. Seperti ini tadi, kami membicarakan tentang pemikiran tokoh Indonesia, tentang keperempuanan, tentang kartini, dewi sartika, ki hajar dewantara hingga pancasilais yang terbit di merput bulan depan. Yeiii. Katanya, “Selagi muda, menulislah. Agar kau senantiasa muda hingga di usia tuamu.”

Hal yang menjadi kegeliaannya yakni, sewaktu kelas 5 menuju kelas 6, ia mengenal orang jepang yang baik hati. Di sebuah warung makan, ia mengamen. Di sana pula ada orang jepang yang sedang makan. Orang jepang lalu mengajaknya bercerita. Ia bercerita tentang apa yang ia alami. Kemudian, orang jepang tersebut bersedia membiayai sekolahnya selama setahun. Orang jepang tersebut juga berkunjung ke sdnya, berkenalan dengan guru dan teman-temannya. Juga yang menggembirakan, ia ternyata mendapat bonus untuk makan setiap hari di warung tersebut. Dan yang membiayai orang jepang. “Wah, enak pas kuwi. Aku isoh mangan sepuasnya. Haha,” ceritanya.

Begitu hingga dia smp dan sma, ia aktif untuk mencari beasiswa. Siapa pun yang mau membantu ia bersekolah. Sebab, jika ia tidak berangkat sekolah ia akan sedih dan menangis. Padaku ia bercerita, kurang lebih ada sepuluh lebih lembaga atau perorangan yang membantu membiayai sekolahnya. Juga, ia bekerja untuk mandiri. “Aku kalau gak kerja itu gak bisa. Sudah dari kecil kerja. Tapi, saiki aku gak kerja karena hamil. Gak boleh bojo. Hehe.”

Ia juga prihatin pada anak-anak di sekitarnya, jarang sekali yang mau melanjutkan sekolah. Mereka cenderung bersenang-senang dengan dirinya. Bekerja untuk kenikmatan sesaat. Padahal dulu, ia melakukan apapun untuk sekolah. Ia memang tak muluk-muluk menginginkan banyak hal dari sekolah. Dapat bersekolah saja, cukup. Namun, aku menangkap bahwa ia adalah seorang yang cerdas. Dari bicaranya, pemilihan alasan untuk berargumen, aku melihat ia mapan dalam berpikir. Sehingga, ia pun berusaha untuk menjalani kehidupannya atas olah pikir.

Ya, sejak ia aktif di forum anak dulu, ia telah dikirim ke banyak kota untuk menjadi peserta atau fasilitator tentang anak. Maka, tak heran, pengetahuan yang ia punyai luas. Ia pernah ke Medan, Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Surakarta, dan beberapa daerah lain. Ia kadang merasa kecewa, mengapa keponakan dan anak-anak kecil di lingkungannya jarang sekali bersekolah. Padahal saat ini sekolah gratis. Seusia Wulan, yang berhasil menamatkan sekolah hingga sma di lingkungannya hanya dia seorang. Bahkan adik kandungnya tidak tamat smp. Ia kadang secara spontas memarahi anak-anak yang tak mau sekolah. 

“Aku mumet ngrasakke bocah saiki. Aku biyen tak rewangi sampek ngono, lha cah saiki malah nyepelekke. Mbuh nang, nduk…. Haha,” tutupnya. Kami berpisah dengan saling melempar senyuman. Entah, aku kira dengan senyuman itu aku dan ia saling memberi keyakinan pada ketidakyakinan itu sendiri. Tanpa eksplanasi apapun. kami hanya saling bercerita. “Anakmu akan menjadi anak hebat, Lan,” bisikku sembari menepuk pundaknya.

Dewi Maghfi | 23 Mei 2015


Rabu, 13 Mei 2015

Kejarlah Mimpi, Meski Lewat Kejar Paket


Mimpi… bermimpilah….kejar….kejarlah….

Rambutnya hitam panjang. Saat bertemu, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Agaknya, ia juga malu-malu. Ia lah Dwi Lestari murid kelas X Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Semarang. SKB merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan. Orang tuanya, kini berjualan di pasar.
            
SKB Kota Semarang berdiri pada 2001. Salah satu dasar didirikannya SKB Kota Semarang adalah dampak krisis multi dimensi, yang berdampak pada kondisi perekonomian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kelas bawah. SKB kota Semarang ini mempunyai visi menjadi lembaga pelayanan, pendampingan, dan percontohan pendidikan luar sekolah dan pemuda serta pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat gemar belajar, berkarya, dan berswadaya mandiri.

Dwi begitu panggilan akrabnya. Ia sejak sekolah menengah pertama ikut kejar paket B. ia mengatakan tidak dapat membayar biaya di sekolah umum. Padahal keinginannya untuk melanjutkan di sekolah umum sangat kuat, “Bagaimana lagi orang tua tidak mempunyai biaya. Dulu saya sempat mendaftar di smp. Namun, karena biayanya mahal tidak jadi,” tutur perempuan dengan lima saudara ini.

Selain mengikuti pelajaran selayaknya di sekolah umum, Dwi di SKB ini juga belajar berwirausaha. Ia bersama dua rekannya juga menjadi karyawan kantin di sekolah tersebut. Ia belajar mengelola uang agar mendapat keuntungan untuk modal usaha. Selain itu, ia juga mengikuti ekstrakulikuler membatik. Terbukti, seragam yang ia kenakan pun hasil dari membatik sendiri. “Daripada membeli seragam untuk jaga kantin, mending kami membuatnya sendiri. He-he,” tambah perempuan kelahiran September 1999.
            
Ia tak lantas patah semangat untuk tetap melanjutkan sekolah lagi. Setelah lulus kejar paket C ini, ia berencana melanjutkan ke perguruan tinggi. Menjadi Guru adalah keinginannya sedari dulu. “Saya ingin menjadi guru. Mendidik anak adalah kebanggaan tersendiri. Sama-sama menyemangati untuk mewujudkan mimpi,” terangnya. 

SKB didirikan dengan tujuan menuntaskan buta aksara dengan priorotas usia 10-44 tahun, menunjang suksesnya wajib belajar pendidikan dasar melalui kejar paket A, kejar paket B setara SMP, kejar paket C setara SMA, memberikan pelayanan pendidikan yang berorientasi pada ketrampilan bagi masyarakat yang tidak bersekolah dan bekerja, memberikan layanan pendidikan anak usia dini, dan meningkatkan wawasan dan sikap pemuda agar memiliki ketangguhan dalam menghadapi tantangan global.

Jauh panggang dari api, begitullah gambaran SKB ini. Banyaknya misi yang mesti dilakukan tidak sebanding dengan kemampuan yang dimiliki. Kemampuan dari segi pembiayaan yang memadai, gedung dan fasilitas yang baik, serta pengembangan usaha yang maksimal. Suryana Kepala Sub Bagian Tata Usaha mengatakan tidak memperoleh sokongan pendanaan yang cukup untuk memaksimalkan SKB tersebut. Seperti contoh, usaha pembibitan lele yang beberapa tahun belakang tidak berjalan lagi sebab tidak ada biaya. Padahal mempunyai prospek yang bagus. Juga, usaha dari pimpinan SKB untuk mengurai masalah minimnya dana agar kegiatan tetap berjalan masih tidak maksimal.

Gedung SKB tersebut bekas sekolah dasar Impres Sumurjurang 02 yang dibangun pada 1977. Walau mendapat kucuran dana untuk membangun 2 gedung dan rehab atap, tetap saja gedung-gedung yang lain nampak usang dan tak terawat. Rumput-rumput yang tinggi serta seringnya terendam banjir jika musim penghujan. 
Dewi Maghfi

Dari Anak Jalanan hingga Ketua Yayasan


Perjalanan kehidupan setiap orang beraneka macam. Seperti apa pun, ada. Maka, pilihan untuk mensyukurinya dan bangkit adalah jauh lebih bijak dari sekadar meratapi.

Tinggi badannya sekitar 160 cm. Lengan kirinya bertato. Ia lah Ayub Waluyo yang saat ini menjadi ketua Yayasan Emas Indonesia (YEI). Yayasan emas Indonesia adalah yayasan yang menampung anak-anak jalanan di kota semarang. Saat ini, YEI menapung 124 anak jalanan dan beberapa orang gila.
               
YEI awal mulanya ide dari anak-anak muda dan juga mahasiswa pada 2001. Anak-anak muda tersebut memiliki visi untuk memulai pergerakan yang berdampak langsung pada lingkungan sekitar serta kota yang mereka tinggali. Kala itu, dikomandoi oleh Samuel Repi yang sekarang menjadi Pembina YEI. Mereka mulai bergerak mendatangi anak-anak jalanan di kota semarang terutama di daerah pasar johar dan jembatan berok. Anak-anak tersebut merupakan anak dari pengemis, pemulung, serta orang miskin yang mulai meninggalkan bangku sekolah menjadi anak-anak yang turun ke jalan untuk membantu mencari nafkah keluarga.

Baru pada tahun 2003, lembaga sosial tersebut mengukuhkan nama menjadi Adulam Ministry. Baru pada 2010 berubah menjadi Yayasan Emas Indonesia yang telah memiliki izin operasional dari Dinas Sosial Jawa Tengah. Setelah beberapa kali berganti kepengurusan, pada 2012 terpilihlah Ayub menjadi ketua yayasan.

Ayub dulunya adalah anak jalanan. Ia keluar dari rumah saat usianya 14 tahun. Sebab faktor ekonomi, keluarga, dan lingkungan ia nekad untuk turun ke jalan. Baru pada 2009 ia bergabung di YEI. Satu tahun di YEI, ia berusaha menyesuaikan diri dengan program-program yang diusung YEI. Ia mengaku tidak mudah melakukan penyesuaian diri dari yang awalnya bisa melakukan apa saja di jalanan menjadi terstuktur. “Proses untuk menyesuaikannya yang sulit,” tuturnya.

Selepas satu tahun digembleng di YEI, ia dikirim ke Palembang selama 1 tahun untuk mengikuti training pembentukan karakter. Di sana, ia mesti memahami kembali arti menjalani kehidupan. Ia mengikuti tahap demi tahap. Hingga akhirnya, ia merasa betah tinggal di Palembang dan sempat tidak ingin kembali ke semarang. “saya berpikir ulang, ternyata saya dibutuhkan di semarang untuk adek-adek di jalanan. Akhirnya mau deh kembali dan menyusun strategi di YEI,” tambahnya. Keinginan ia untuk menetap di Palembang bukan tanpa alasan. Ia berencana mendirikan semacam komunitas yang pergerakannya di wilayah anak-anak jalanan. Di Palembang, ia juga memiliki keresahan yang sama tentang anak jalanan. Ditambah lagi, ia mempunyai partner dari kawan-kawan alumni training pembentukan karakter. “Maklum, masih hangat-hangatnya dan semangat masih menggebu selepas mengikuti training. He-he,” lanjutnya.


Memberdayakan Potensi
Keinginan YEI untuk mandiri tanpa donatur sedikit demi sedikit disiasati. YEI mempunyai usaha jual es batu, cuci motor, dan sebuah angkringan. Pengelola usaha tersebut adalah anak-anak jalanan yang menjadi binaannya. Kevin misalnya seorang anak jalanan yang dipercaya menjadi ketua pengelola cucian motor membawahi beberapa temannya. Namun, terhitung mulai minggu pertama bulan Mei ini, Kevin keluar dari YEI dan bekerja di sebuah restauran ternama. “Anak-anak yang di sini memang masih keluar masuk. Ada yang tidak betah atau ingin mencari penghasilan di luar. Saya terus mencari siasat untuk tetap merangkul mereka. Saya juga harus bisa mengambil hatinya,” terang Ayub.
                
Angkringan yang dijalankan teman-teman di YEI cukup menjanjikan. Mereka memasak sendiri dan menjagai angkringan tersebut secara bergantian. Di bantaran sungai Jalan Onta Raya, angkringan beserta Rumah perlindungan sosial anak (RPSA) YEI berdiri. Sementara kantor yayasannya terletak sekitar setengah kilo dari RPSA tersebut.
                
YEI ke depan juga berusaha untuk membuat badan usaha yakni CV untuk mewadahi usaha-usaha yang akan dikelolanya. Ia berharap ada pihak yang berbaik hati memberikan pelatihan kerja pada anak-anak di YEI. “Anak-anak jalanan itu survive, mereka tidak perlu untuk dikasihani, cukup difasilitasi,” tegasnya. Akhirnya, Ayub selamat untuk hidup yang baru…. 
Dewi Maghfi


Indra, Tetaplah Menjadi Lilin Bagi Anak Spesial….


Membangun mimpi setinggi-tingginya adalah modal gratis setiap manusia. Begitu juga Indra. Namun, memahami kondisi setelah melakukan ikhtiar panjang jauh lebih bijak atas sejuta mimpi. Ia lah Indra, sang penerang bagi anak-anak spesial.

Sebuah plang bertulis MI LB YKTM Budi Asih Semarang menggerakkan saya untuk menelusurinya. Plang tersebut terletak persis di samping taman kanak-kanak di Jalan Dewi Sartika. Di situ pula saya bertanya pada seorang ibu, walhasil ia menunjukkan sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu mobil.

Lelaki dengan perawakan tinggi, kulit putih, menyambut saya dengan mengulurkan tangan. “Maaf mbak sedang berantakan, tunggu sebentar kami beresi dulu. Lembar jawaban untuk anak ujian sekolah tertinggal,” kata Kepala Sekolah Indra Ariwibowo yang nampak panik dan keringetan sembari menyilakan.

Madrasah Ibtidaiyah Luar biasa ini, Senin (4/5) sedang menyelenggarakan ujian sekolah dengan diikuti 3 siswa, 1 tunanetra dan 2 tunanetra low vision. Suasana ujian jauh seperti ujian di sekolah pada umumnya yang nampak ketat dan penuh pengawasan. Alvin ramadhan misalnya, menjawab ujian dengan dibacakan soal oleh gurunya. Satu per satu siswa didampingi guru dalam mengerjakan ujian. Jika ada soal yang kurang jelas, Alvin meminta untuk dibacakan ulang. Tak ada suasana tegang, anak-anak nampak gembira mengerjakannya. Mindset mereka, tidak penting untuk lulus atau tidak lulus. Lebih pada mereka mengerjakan sesuai kemampuan dan mereka yakin setelah ujian masih ada hal-hal yang masih akan terus dilakukan. “Mbak, saya itu kembar lho. Saudara saya di jauh sana. Dia normal, saya kangen ingin bertemu,” cerita Alvin dengan sumringah ketika jam istirahat. Ketiga dari mereka berebut bercerita, saya menjadi pendengar. 

Saat ini, murid siswa MI LB di Budi Asih sejumlah 37 siswa. Sekolah ini berdiri pada 2009 yang bertempat di Semarang Timur dekat Pasar Langgar. Kala itu, jumlah siswanya hanya 5 orang. Gedung terbuat dari tripleks yang disekat-sekat di tiap kelasnya. “Kalau ngajar, kami serasa balapan suara. Haha-haha,” tutur Indra. Daerah yang rawan rob tersebut menghambat proses belajar mengajar. Setiap rob, guru harus menguras kelas dulu agar air surut. Baru, pada 2011 SLB tersebut pindah di Jalan Dewi Sartika Sampangan atas bantuan pemerintah. Muasal pembangunan gedung tersebut sebab ada beberapa siswa yang beprestasi, sehingga dihadiahi gedung baru.

Sedari MI LB Budi Asih ini dibangun, Indra tak pernah meminta-minta pada donatur. Ia lebih ingin menunjukkan pada khalayak bahwa siswa-siswanya beprestasi. Dalam berbagai kesempatan, ia mencoba memperkenalkan siswanya dengan bakat yang dimiliki misalnya, menyanyi, tausiah, qiraah, memainkan alat musik, dll.

Prestasi Siswa
Siswa yang mengalami disabilitas tersebut berprestasi bahkan ke tingkat provinsi kategori menyanyi dan MTQ yang diselenggarakan Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Dinas Provinsi Jawa Tengah . Ia lah Alfin Ramadhan yang menjadi juara I lomba MTQ 2014 antar siswa sekolah luar biasa tingkat provinsi. Muhamad Subhan juga tak kalah berprestasi. Ia menjadi juara I loma menyanyi 2014 antar siswa sekolah luar biasa tingkat provinsi.
            
Prestasi Muhammad Subhan lainnya adalah juara II lomba memainkan alat musik (instrumental) tingkat provinsi Jawa Tengah tahun 2013, Juara III menyanyi lagu nasionalisme tingkat provinsi Jateng tahun 2013, Juara I lomba tilawah putra tingkat SD tahun 2013. Sementara prestasi Alfian Ramadhan adalah juara I lomba menyanyi putra tingkat Jateng tahun 2012, juara III lomba menyanyi tingkat Jateng tahun 2014, juara II lomba menyanyi lagu nasionalisme tahun 2013, juara II lomba azan tingkat SD tahun 2013.
            
Desember 2014, MI LB Budi Asih diganjar penghargaan dari Menteri Agama sebagai juara I Madrasah Luar Biasa dalam rangka Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke 69. “Saya sendiri heran, kog bisa MI LB Budi Asih yang menjadi juara, apalagi kepala sekolanya masih muda. Hehe,” guyonan Indra. Indra adalah lelaki periang. Dari awal perbincangan hingga selesai, ia terus menampakkan keceriaan dengan ngelucu. Ia juga penyandang tunanetra low vision, tunanetra yang masih bisa melihat dengan pandangan samar-samar. “Saya dulu pas muda seperti njenengan itu, ganteng dan gagah lho. Haha,” banyolannya di sela-sela obrolan.

Mengurungkan Mimpi
Lelaki kelahiran 15 Mei 1982 ini sejak kecil bercita-cita menjadi karyawan bank. Kala kecil, saat ia diajak orang tua melakukan transaksi di bank, ia begitu sigap untuk bilang “saya ikut.” Bermula dari situ lah, ia memperhatikan setiap lini ruangan. Ya, seorang yang nampak ganteng nan cantik, wangi, berpakaian rapi, ramah, dan pintar. Itu semua sudah dimiliki anak kecil tersebut. Di saat anak-anak seusianya masih umbelen meler, ia sudah bisa membersihkannya sendiri. Ia, seorang yang mencintai kebersihan. Namun, satu yang membuatnya ketar-ketir, ia penyandang tunanetra low vision. Berkat dorongan orang tua, ia tak patah semangat sama sekali. Berada di lingkungan yang dominon mendukung membuat Indra terus berkarya dan berkarya.
            
Tak tanggung-tanggung, ia menyelesaikan kuliah sarjananya hingga dua kali. Ia tercatat sebagai lulusan sarjana fakultas ekonomi Universitas Soegijopranoto (Unika) dan sarjana pendidikan IKIP Veteran. Saat ini, ia berencana melanjutkan master pendidikan. “Saya inginnya Unnes. Agar saya tetap bisa memantau MI LB ini dan tetap kuliah. Doakan saja,” tuturnya lagi lagi dibumbui dengan banyolan. “Doakan saja, semoga juga dalam waktu dekat bisa menikah. Ya kalau punya teman bisa dikenalkan. Hehe,” lanjutnya.

Perjalanan Indra ternyata berkata lain, Indra justru merintis sekolah yang waktu itu dilakukannya dengan susah payah. Sempat sekolah tersebut ingin ditutup juga, sebab ia ingin menjadi guru di sekolah lain yang gajinya lebih menjanjikan. Pilihan yang dihadap-hadapkan Indra agaknya memang sulit. Namun, begitullah perjalanan manusia adalah perjalanan spiritulitas menuju Tuhan-Nya. Manusia, Indra, hanya berpegang pada keyakinan dan ikhtiar. Akhirnya, selamat Indra memasuki usia 33 tahun yang penuh makna….
Dewi Maghfi

Minggu, 17 Agustus 2014

Cerita Malam Kemerdekaan


Malam tadi, kami yang tergabung kawan-kawan ukm melakukan sebuah perenungan kecil. Para penggagas menamakan malam apresiasi mimbar nasionalisme. Mereka, Najib dari ukm kopma, Rouf dari ukm pramuka, dan Niam dari ukm ksr. Mendengar namanya saja, sebenarnya merinding. Iya gak sih? Kog songgone abot begitu? Malam seperti itu di tahun-tahun sebelumnya, selama empat tahun saya di sana, belum pernah ada. Jujur saja, sejak sore saya sedikit pesimis bahwa acara tersebut dapat dihadiri banyak kawan-kawan ukm dan terselenggara dengan baik.

Kami, kawan-kawan ukm biasanya disibukkan jauh-jauh hari dengan adanya persiapan upacara di universitas. Kawan Marching Band jauh-jauh hari mempersiapkan mayoret dan tabuhan yang yahud. Kawan Menwa, pramuka, ksr, pecinta alam pun telah siap dengan amunisinya. Kawan paduan suara pula mempersiapkan diri dengan tidak memakan goreng-gorengan demi menghasilkan suara merdu. Begitu, dandanan dan kostum yang terbaik. Benar, di subuh tadi, gedung ukm yang biasanya sepi tak ada aktivitas (sebab manusianya masih pada molor), nampak ramai. Dari bilik pintu, aku coba telusuri suara itu. Ya, mbakyu-mabkyu sedang memoles wajah, melukiskan potlot di alis, dan gincu merah muda di bibirnya. Begitu, kangmas-kangmas sambil di depan kaca menyibakkan rambut sembari mengolesi minyak. Pernik-pernik, seperti sabuk, topi, peluit, sepatu tak lupa ia lekatkan di tubuh dan sesekali maju-mundur di depan cermin. Mereka akan tampil di lapangan upacara untuk mempertunjukkan yang terbaik. Begitu, kawan ukm lain yang tak mengambil jatah biasanya akan lanjut meneruskan mimpi-mimpinya.

Senin, 10 Maret 2014

Kebijakan, Salah Kaprah



            Sejak adanya kebijakan publikasi karya ilmiah untuk mahasiswa S1, S2, dan S3 sebagai syarat kelulusan menimbulkan pro kontra di kalangan sivitas akademika. Ada yang mendukung dan banyak pula yang menolak. 

            Tujuan adanya publikasi karya ilmiah tidak dipungkiri dari niat baik. Yang dimaksudkan bahwa budaya menulis di Indonesia masih sangat rendah dibanding negara-negara lain. Bukankah dengan adanya kebijakan tersebut justru semakin merajalelanya tindakan plagiarisme. Sudahkah kebijakan ini telah diperkuat dengan sistem? Atau jangan-jangan sekadar ketakutan-ketakutan yang berujung pada kuantitas. Tanpa mempedulikan kualitas. 

Kaburnya Esensi KKL



       Kuliah Kerja Lapangan merupakan kegiatan ilmiah yang berupa kajian materi perkuliahan. Dengan menggunakan pendekatan keilmuan terhadap objek di luar kelas terkait dengan jurusan dan program studi yang ditempuh. Namun, pengaplikasian Kuliah Kerja Lapangan pada Perguruan Tinggi berbanding terbalik. Kini, KKL hanya sebatas euforia. 

Paradigma Kuliah Kerja Lapangan (KKL) telah beralih menjadi wisata. Bukan lagi untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang berkenaan atas konsep, teori, pengetahuan yang diperoleh saat perkuliahan.

Hedonisme Perguruan Tinggi


         Perguruan tinggi, sebuah cita-cita yang diinginkan siswa ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atau pun kejuruan. kebingungan menentukan perguruan tinggi atau jurusan menjadi hal yang wajar.Kebanyakan siswa tergiurkan pada status perguruan tinggi. Hasrat itu pun yang terkadang membuat siswa berada pada titik jenuh. Ketika sudah mencoba berkali-kali mengikuti seleksi namun tak kunjung juga lolos. Iming-iming biaya murah dan keterikatan dengan pemerintah telah membutakan opsi lain. Padahal masih banyak perguruan tinggi yang menawarkan kualitas yang tidak jauh berbeda. 

Senin, 25 Februari 2013

Maya Pendidikan, Pendidikan Maya

Mengeja dengan pasti
Pendidikan masih menjadi primadona setiap warga. Pendidikan dirumuskan untuk memperbaiki kualitas manusia. Permasalahan negara yang kian pelik diharapkan dapat terselesaikan dengan menempuh proses dalam pendidikan. Proses berdiskusi, debat, menjalin jejaring, bertukar cakrawala merupakan hal yang penting untuk melucuti keruwetan perkembangan masalah. 

          Tentu benar, jika sebagian besar pemerintah di dunia mengambil langkah untuk memprioritaskan pendidikan. Termasuk Indonesia yang mengambil langkah untuk memberikan anggaran 20% dari APBN–mau tidak mau pendidikan memang membutuhkan dana yang besar. Sayang, pelaksanaan secara riil di lapangan yang memupuskan cita-cita luhur pendidikan Indonesia. Entah secara sistem dan substansi yang ingin diraih dalam pendidikan belum tercapai dengan baik. Ada beberapa kebijakan-kebijakan pendidikan yang dinilai tidak tepat. Dan bukan hasil perenungan yang dalam. Kebijakan yang masih dalam permukaan. Sehingga hasilnya pun tidak maksimal.