Sabtu, 20 Februari 2016

Lima Buah Kue Kernas


Saya sedang menumbuk cabai, bawang, kunyit. Sementara mamak mulai menata kayu-kayu kering di tungku masak. Pawon kalau kata orang jawa. Masyarakat pian hampir semua masak dengan kayu bakar. Juga menggunakan kompor minyak tanah, namun terbatas jatah minyaknya. Setiap kepala keluarga dapat jatah minyak tanah 8 liter dengan harga 30 ribu setiap bulannya. Sementara mamak-mamak biasanya ke hutan untuk mencari kayu bakar. 

Para mamak yang ke hutan untuk mencari kayu bakar atau daun-daunan untuk dimasak menggunakan tunjung. Tunjang yakni sebuah anyaman bambu yang berbentuk balok dengan digendong dan sobekan tali sarung yang diikatkan di kepala. Mamak ini, biasanya memakai baju dan celana lengan panjang. Kadang ada yang bersepatu juga. Oh iya, kepala para mamak ini diikat kain ala-ala orang melayu agar saat menggendong beban tidak berat dan sakit kepala. 

Mamak-mamak berangkat sekitar pukul 7 pagi. Sementara pulang di jam yang tak tentu. Mamak tak pernah membiarkan tunjang kosong. Apapun yang ada dan bisa dimanfaatkan akan mamak ambil. Di desa kami, hampir tiap hari makan ikan laut segar. Namun, jangan harap jika saat musim angin kencang dan badai, bisa sampai satu bulan tak makan ikan. Sungguh, sayur dan telur di sini adalah makanan kemewahan bagi kami. Selain harganya yang bisa 3 kali lipat dari harga di Jawa, barangnya pun tak ada setiap hari. “Orang melayu malas untuk bercocok tanam, Mbak. Lebih suka membeli,” tutur bapak hostfam. Pemasok sayur terbesar dari daerah Batubi. Sementara batubi adalah daerah transmigran yang kebanyakan orang Jawa yang ada. Orang Jawa di sini terkenal ulet, tak mau diem dan terus memutar otak untuk bekerja. Itu pun yang bilang orang-orang sini. Sayur Batubi lalu dijual ke kota kecamatan Bunguran Barat dengan jarak tempuh naik pompong satu setengah jam. Sementara desaku dengan desa batubi mesti menempuh jalan darat sekitar 2 jam.

Di desa Pian Tengah ada nama kue khas daerah sini. Atau kue khas Natuna. Kue tersebut dibuat dari ikan tongkol. Para penduduk sini, kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Berangkat malam hari dengan menggunakan pompong untuk ke laut lepas, dan pulang dini hari. Pagi-pagi sekali pukul 05.30, mamak-mamak sudah melakukan tawar menawar untuk membeli hasil tangkapan nelayan. Ikan yang didapat lebih sering tongkol. Satu ikan tongkol dihargai dari 5-15 ribu. Mamak saya bisa membawa pulang 2-3 ekor ikan. Hamper tiap hari, kami makan ikan. Entah yang dikuah, diasap, disantan, disambal goreng caabe rawit, disambel goreng cabe kering, dicampur sayur-mayur keladi dan macamnya yang katanya sayur, digoreng kering, dan mungkin akan beraneka macam lagi selama setahun ke depan. Untuk membuat kernas, tongkol yang sudah direbus lalu dihancurkan halus. Tulang dan daging dipisahkan. Dan yang digunakan hanya dagingnya saja. Setelah daging siap, lalu dicampur dengan butiran sagu yang sudah dikukus. Campuran sagu dan daging tongkol halus dibuat bulatan-bulatan kecil. Setelah digoreng setengah kering. Makan kernas lebih nikmat dengan dicocol sambal pedas manis. Betapa makanan seharga seribu itu yang sekali gigit habis, melewati jalan panjang dari tangan mamak-mamak dan bapaknya untuk mencari ke laut lepas. Sungguh!

Lupa tanggal. Haha.

Minggu, 07 Februari 2016

Penjual Jamu Mengejar Mimpi



“Ibu…. Saya bertemu lagi orang Jawa. Macam mane ceritanye?” tutur Ibu Suliyatun sembari menjabat tangan dan memeluk saya. Suara ibu Suli mengingatkan pada Yu Sri, seorang penjual jamu di desa saya. Suaranya halus, pelan, cemengkling.  

“Nak gini Bu..….” tiba-tiba Bu Suli menimpali. “Wah Bu, cerita perjalananku lan Mas Toyo ki abot.” Bu Suli saat ini mengajar di SD Pian Tengah. Dia mulai merantau ke Natuna dari Ngawi tahun 2000. Kala itu, ia dan Mas Toyo masih hangat-hangatnya pengantin baru. Ia mengatakan mencari kerja di desa susah. Namun, ia tak mau merantau ke kota besar. Walhasillah ia ke Natuna sebab diajak seorang teman dengan meninggalkan putra wayangnya pada nenek. Baru, saat putranya kelas 1 sekolah menengah pertama, ia memboyong putranya ke Natuna. 

Bu suli sebelum berangkat ke Natuna, ia telah mengikuti kursus membuat jamu dan kursus bahasa inggris. Ia memang berencana akan berjualan jamu di tanah perantauan. Agar jamu tak asal-asalan ia melakukan kursus. Sementara Mas Toyo berjualan penthol di sekolah-sekolah. Bu Suli mempunyai cita-cita menjadi sekretaris sejak sebelum menikah. Namun, akhirnya pada 2003 ia masuk universitas terbuka mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar. Baru pada 2007 ia lulus kuliah. Setelah llulus kuliah, ia pun tak langsung dapat melakukan wiyata di sekolah. Beberapa sekolah menolak karena, latar belakang Ibu Suli seorang penjual jamu. “Bagaimana ye Bu, macem mana kate orang nanti?” tutur seorang kepala sekolah pada Bu Suli. 

Janji Tuhan man jadda wa jadda, siapa yang berssungguh-sungguh pasti akan mendapat apa yang diimpikaan. Bu suli tak putus asa untuk mendaftar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Akhirnya pada 2008 ia mendapat panggilan mengajar bahasa inggris. Di luar waktu mengajar, ibu suli berjualan jamu. Bangun pukul 03.00 pagi untuk membuat penthol bersama suaminya. Pukul 07.00 suaminya sudah berangkat dengan mendorong gerobak. Sementara Bu Suli berangkat mengajar. Setiba di rumah pukul 12.30, Ibu Suli langsung membuat jamu untuk dijual. Pukul 14.30 hingga 20.00 ia berjualan keliling dengan menggunakan onthel. Sepulang menjual jamu, ia baru dapat bertemu kembali dengan suaminya. Rutinitas itu dilakukan bertahun-tahun lamanya. 

Pada 2014, ia diterima menjadi calon pegawai negeri setelah enam kali mengikuti tes. Ibu Suli selalu mengatakan kalau mencari uang hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan dan sehari-hari saja, ia lebih nyaman hidup di Ngawi. Namun, ia ingin masa depan anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik. Maka itu, ia memulai dari dirinya sendiri. Ia memulai dengan mencerdaskan diri dulu, walau dengan payah. “Mari berbuat untuk anak-anak kite, anak-anak Indonesia,” ujar Ibu Suli yang kemudian mengajak saya ke sebuah warung khas jajanan Natuna. Lempeng namanya, pulut yang dibubuhi ikan tongkol dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dibakar. Wau…. Betapa nikmatnya. 

Dewi Maghfi | 13 Januari 2016

Penjual Jamu Mengejar Mimpi



“Ibu…. Saya bertemu lagi orang Jawa. Macam mane ceritanye?” tutur Ibu Suliyatun sembari menjabat tangan dan memeluk saya. Suara ibu Suli mengingatkan pada Yu Sri, seorang penjual jamu di desa saya. Suaranya halus, pelan, cemengkling.  

“Nak gini Bu..….” tiba-tiba Bu Suli menimpali. “Wah Bu, cerita perjalananku lan Mas Toyo ki abot.” Bu Suli saat ini mengajar di SD Pian Tengah. Dia mulai merantau ke Natuna dari Ngawi tahun 2000. Kala itu, ia dan Mas Toyo masih hangat-hangatnya pengantin baru. Ia mengatakan mencari kerja di desa susah. Namun, ia tak mau merantau ke kota besar. Walhasillah ia ke Natuna sebab diajak seorang teman dengan meninggalkan putra wayangnya pada nenek. Baru, saat putranya kelas 1 sekolah menengah pertama, ia memboyong putranya ke Natuna. 

Bu suli sebelum berangkat ke Natuna, ia telah mengikuti kursus membuat jamu dan kursus bahasa inggris. Ia memang berencana akan berjualan jamu di tanah perantauan. Agar jamu tak asal-asalan ia melakukan kursus. Sementara Mas Toyo berjualan penthol di sekolah-sekolah. Bu Suli mempunyai cita-cita menjadi sekretaris sejak sebelum menikah. Namun, akhirnya pada 2003 ia masuk universitas terbuka mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar. Baru pada 2007 ia lulus kuliah. Setelah llulus kuliah, ia pun tak langsung dapat melakukan wiyata di sekolah. Beberapa sekolah menolak karena, latar belakang Ibu Suli seorang penjual jamu. “Bagaimana ye Bu, macem mana kate orang nanti?” tutur seorang kepala sekolah pada Bu Suli. 

Janji Tuhan man jadda wa jadda, siapa yang berssungguh-sungguh pasti akan mendapat apa yang diimpikaan. Bu suli tak putus asa untuk mendaftar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Akhirnya pada 2008 ia mendapat panggilan mengajar bahasa inggris. Di luar waktu mengajar, ibu suli berjualan jamu. Bangun pukul 03.00 pagi untuk membuat penthol bersama suaminya. Pukul 07.00 suaminya sudah berangkat dengan mendorong gerobak. Sementara Bu Suli berangkat mengajar. Setiba di rumah pukul 12.30, Ibu Suli langsung membuat jamu untuk dijual. Pukul 14.30 hingga 20.00 ia berjualan keliling dengan menggunakan onthel. Sepulang menjual jamu, ia baru dapat bertemu kembali dengan suaminya. Rutinitas itu dilakukan bertahun-tahun lamanya. 

Pada 2014, ia diterima menjadi calon pegawai negeri setelah enam kali mengikuti tes. Ibu Suli selalu mengatakan kalau mencari uang hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan dan sehari-hari saja, ia lebih nyaman hidup di Ngawi. Namun, ia ingin masa depan anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik. Maka itu, ia memulai dari dirinya sendiri. Ia memulai dengan mencerdaskan diri dulu, walau dengan payah. “Mari berbuat untuk anak-anak kite, anak-anak Indonesia,” ujar Ibu Suli yang kemudian mengajak saya ke sebuah warung khas jajanan Natuna. Lempeng namanya, pulut yang dibubuhi ikan tongkol dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dibakar. Wau…. Betapa nikmatnya. 

Dewi Maghfi | 13 Januari 2016

Berlayar ke Sedanau


Pak Tukidi, Bapak angkatku

Pernahkah anda merasakan bahwa kematian itu berasa dekat? 

Siang tadi, saya berlayar dari pulau sedanau ke desa Pian Tengah. Pulau sedanau ini adalah kota kecamatan. Yang mana, di pulau ini ada pasar yang lumayan besar buat kami orang-orang desa. Hampir tiap rumah berjualan. Dari toko sembako, kosmetik, makanan, elektronik, pancing, peralatan sekolah, hingga pelelangan ikan. Namun, jangan bayangkan macam pasar swalayan gedhe. Pasar ini, macam pasar tradisional kita di jawa. Namun, sungguhlah pasar ini menjadi kemewahan buat kami di desa. 

Saya ke sedanau untuk berkunjung ke uptd, kantor kecamatan, koramil, puskesmas, dan polsek. Sebab, Indonesia mengajar baru tahun pertama di Natuna, jadi kami bertugas babat alas. Berkunjung kemanapun dan mengulang-ngulang ‘what is Indonesia Mengajar?”. Entah dalam kondisi malas berbicara, mual-mual, kepanasan, harus tetap mampu memperkenalkan maksud kedatangan kami. Ada yang merespon baik, ada juga yang mengawali dengan kata ‘maaf’. Kalau sudah mengucap kata tersebut, untuk selanjutnya harus siap tetap melebarkan senyum walau hati kecut. Macam, “maaf gaji anda berapa? Gedhe dong? Jaminan pegawai ya? Lha itu kan pendirinya uda jadi Menteri, jaminan dong? Dapet dari pemda berapa?”

Biasanya kalau begitu, saya menunggu semua asumsinya keluar, baru membuka pertanyaan. “Kira, kalau yayasan itu negeri apa non-negeri?” dan lainnya. Namun, ada yang membuat hati ini merekah. Ada gadis muda pegawai perpustakaan kecamatan yang antusias menyambut saya yang mengenakan rompi Indonesia mengajar. “Ih, Mbak Dewi dari Indonesia Mengajar. Gimana-gimana ceritaya Mbak, saya sudah lho baca bukunya jilid 1-4 (Hah, emang ada 4? Setahuku…. Krik krik dalam hati.) lucu-lucu ya, ada yang bla bla bla. Mbak, bukunya ya dari pengajar muda ini.”

Saking seringnya bertemu orang dan mengenalkan Indonesia Mengajar, entah karena nglothok di luar kepala atau bingungnya, harus mencari tikungan-tikungan yang beda untuk tiap lawan bicara. Kadang berasa krik krik, menggebu-gebu karena lawan asyik, datar biasa saja. Hal yang masih membuatku butuh managemen adalah soal harapan perubahan. Padahal, saya sebisa mungkin tak bermaksud mengubah katakanlah kebiasaan lama dengan hal baru. Namun, saya ingin memancing tiap-tiap elemen berpikir soal kebiasaan-kebiasaan tersebut dan mereka yang menilai sendiri. Juga mereka yang menemukan kesadaran-kesadaran baru untuk memperbaikinya. 

Siang tadi, merasa dekat dengan kematian dan pasrah. Saya naik pompong (ada yang mengatakan ketinting). Sebuah perahu kecil yang muat maksimal lima orang. Saat ini di Natuna sedang musim utara, yang mana ombak dan anginnya gedhe. Sejak malam harinya saya menginap di salah satu rumah guru, rumah yang saya tempati beratap esbes dan dinding kayunya ingin melayang-layang. Rumah-rumah panggung yang berdiri di atas pinggiran laut. Bangun-bangun, hidung saya juga mulai berlendir. Karena saya berencana cuma dua hari saja di sedanau, berarti hari ini juga harus balik ke Pian Tengah. Saya dan mamak sudah janjian, bahwa mamak akan belanja ke sedanau dan saya numpang pompong ke Pian. Setelah menghubungi beberapa orang Pian dan tak ada respon, ketar-ketir bagaimana pulangnya tak ada pompong. Mamak mengabari tak jadi belanja karena tak ada pompong yang jalan. Akhirnya ada kabar kalau ada pompong yang jalan ke sedanau, jadi bisa numpang. Maklum, jika nyarter pompong mesti mengeluarkan uang dua ratus ribu. Hhmm, lumayan juga buat saya ini. 

Saya dijemput bapak. Orang-orang rumah ternyata mengkhawatirkanku. Kalau dalam kondisi seperti ini, aku sebenarnya memilih disakiti dan dijahati orang-orang saja daripada begini. Darah berasa berhenti ketika bapak tiba-tiba datang ke rumah Bu Suli. Padahal, Bapak sedang tak enak badan beberapa hari ini. Bapak usianya sudah 65an tahun. Ia juga sering masuk angin. Duh. Mata berkaca-kaca ketika dari jauh melihat baju garis-garis bapak. Yakinkah, bahwa banyak orang baik di luar sana? Jika kebaikan dibalas dengan kebaikan, aku bukan lah orang baik. Tapi, begitu banyak orang baik yang selalu saja hadir di hidupku. Bayangan ini yang sering kali membuat jiwaku berasa lepas juga sekaligus kuat. 

Perjalanan menuju Pian Tengah dari Sedanau satu jam naik pompong. Namun, bagiku seperti seharian. Apalagi daerah teman-teman lain yang lebih lebih lagi? Pemandangannya bagus. Satu-satunya langit yang bersih dan cerah yang pernah saya lihat tiap hari entah siang dan malam adalah di Natuna ini. Saya terheran-heran. Di tiap malam, saya bisa menghubungkan antar bintang menjadi sebuah lukisan indah. Mungkin ini juga tergantung suasana hati. Jadi sesuka-sukaku untuk menebak gambar tersebut. Ada gambar telapak tangan, wajah dengan bibir tersenyum, mata yang berbinar, burung, dll. Begitu juga ketika siang hari, oooo… cantiknya langit Natuna. 

Saya duduk di rumah-rumahan pompong. Sementara siswaku kelas lima anak dari pemilik pompong sesekali membantu ayahnya mengarahkan laju pompong. Namun, karena aku khawatir ku minta duduk saja di dekatku. Bapak duduk di ujung pompong dengan berpegangan di sebuah kayu. Bajunya ditumpas oleh angin ke kanan-kiri, depan-belakang. Sementara pengemudi pompong basah kuyup semua karena hantaman ombak yang masuk ke pompong. Selama di pompong, mulut ini selalu komat-kamit hingga maklap tertidur entah berapa menit. Air mulai masuk ke dalam. Sementara pompong terombang-ambing ke kanan-kiri. Tas ku peluk erat, karena ada laptop. Setengah gelo, kenapa dulu tidak beli dry bag. Sebab, laptop fasilitas kantor, jadi merasa was-was jika kenapa-kenapa. Syukurlah, masih bisa dibuat ngetik catatan ini. Mesin mulai mengeluarkan asap dari besi yang panas terhantam air laut. Banjir sudahlah dalam pompong. Mesin mulai dipelankan, dan pengemudi mengeluarkan air sedikit demi sedikit. Aku kian mual. Kepala pusing. Telinga tak mendengar apa-apa. Penyesalan datang, kenapa aku tak membawa pelampung. Sudahlah yang terjadi terjadi lah. 

Ketika mulai nampak rerimbunan pohon bakau, hati sedikit tenang. Namun, angin tak kunjung juga hadir pelan. Ingin sekali terbang langsung ke darat. Aku memang takut dengan air dengan jumlah banyak. Apalagi ditambah angin. Maka, sudah bertahun-tahun lamanya belajar renang tak bisa-bisa hingga kini. Karena aku belum bisa berdamai dengan diri dan mengatasi ketakutan. Aku sadar, aku tak perlu berani. Hanya saja perlu mengatasi ketakutan. Ya, mengatasi ketakutan dengan memupuk harapan. 

Malam pergantian tahun 2016 ini, beberapa orang desa pergi ke kota kabupaten untuk menyaksikan kembang api. Jarak tempuh desaku dengan kabupaten 72 kilo. Orang-orang rela menempuh jarak tersebut untuk berkerumun dan melihat kembang api yang mungkin hanya setahun sekali. Sementara, malam ini di desa listrik mati karena uang subsidi minyak belum cair. Aku memilih menepi dari kerumunan dan melewati pergantian malam ini dengan menulis catatan kecil ini sembari menunggu ditelpon kawan. Tapi PHP! Di sini hanya bisa pakai kartu telkomsel. Sementara membeli pulsa adalah perjuangan. Kadang aku merasa sepi nyit-nyit dan ingin diberi tahu informasi di luar sana. Haha. 

31 Desember 2015 | 11:05 PM

Selasa, 19 Januari 2016

Setahun yang Bukan Semusim



“Tahun baru nanti, jalan-jalan ning Tanjung Pinang yo, Wi?” ujar Pak Tukidi yang saat ini menjadi Bapak angkatku.

Saat itu saye baru tersadar kalau empat hari lagi memasuki tahun baru 2016. Dengan cepat saya menjawab, “Ayo mangkat, Pak.” Baru pada tanggal 1, saye benar-benar tersadar untuk kedua kali kalau hari Jumat itu tahun baru. Rencana kami ke Tanjung Pinang yang akan kami tempuh menggunakan kapal selama enam jam tersebut tidak jadi, sebab gelombang laut sedang tinggi-tingginya. Baru, pada malam harinya saat saya menelpon rekan saya di Semarang, dia mengingatkan saya kalau ini benar bulan Januari. “Saya bertambah usia dong, 6 Januari nanti. Tepat di angka ganjil 23,” batinku. 

Seperti biasa momen pertambahan usia saya, tak ada yang special di hari itu. Kecuali, kejutan-kejutan dari kawan. Saya teringat ketika melewati pertambahan usia di kos Al-Baa’its, rutinitas guyur mengguyur air yang dicampur entah telur, sirup, kopi, selalu tak terlewatkan entah siapa pun yang ulang tahun. Tak pernah ada kekreatifan lain yang kami lakukan selain mengguyurkan air. Tidak hanya mengguyurkan air ke badan si yang sedang ulang tahun, tapi semua harus basah karena kami tetap mengamini jargon jawa mangan ora mangan tetep kumpul. Teles siji, liyane luweh teles gebes. Kejar-kejaran mengelilingi kos, di sudut-sudut tertentu ada petugas jaga, hingga yang pilih aman tak mau ikut-ikutan dan mendukung dari balik pintu kamar. Karena sekat kamar kos kami antar satu dengan yang lainnya masih ada celah, selalu saja ada yang menyiram dari celah tersebut sehingga tak jarang kasur dan barang-barang basah. 

Hhmmm. Tak jarang pasti ada yang ngambek. Karena, si ulang tahun dibiarkan sendiri untuk membersihkan lantai-lantai yang kotor, basah, dan bau. Saya juga pernah ngambek pada kawan-kawan yang usil tersebut. “Ulang tahun mah enak, ada kado. Ini apa, uda diguyur air diminta bersihin lantai pula!” Nah, mengingat momen-momen itu, saye jadi rindu dengan teman-teman somplak. Momen dimarah-marahi Ibu kos karena terlalu ramai. Kalau soal nyanyian-nyanyian nyaring tengah malam bak hantu, biasanya ulah dua manusia tengil, Nita dan Ifa. 

Kepindahan kos pada akhir-akhir semester ternyata memunculkan budaya baru. Kejutan ulang tahun berupa tiup api di pergantian tanggal. Juga kue-kue yang akrab disebut tar. Kami memang hidup dalam nuansa kos yang beda. Namun, aku selalu rindu. Entah kenapa, pergantian usia lebih sering mendapatkan bungkusan buku. “Lalu, berharap ada peri dan peru yang ngirim buku! Apalagi kalau dalam jumlah banyak. Nak dapet ngisi rumah baca baru nak sini. Ayolah siapa berbaik hati di luar sana! Haha.”

Satu tahun ke depan, saye hanya ingin menyelesaikan misi ini, menjadi pengajar muda di Natuna. Sebuah desa yang sebelumnya pernah ada dalam rabaan saya. Dan sekarang rasakno! Haha. Saya benar belojo bermasyarakat dengan orang dan budaya baru. Dengan orang dari beragam suku. Dengan cerita perjalanan perantauan orang-orang pribumi untuk mengubah nasib. Entah nasib mujur atau justru ajur. Namun, itu lah perjalanan hidop ndok isok ditebak. 

Sekembalinya di 2017, saye dapet jumpa lagi dengan kawan-kawan dan menyusun misi baru. Setahun lagi untuk tersadar di angka 24. Bukan hanya semusim untuk melewati bersama. Misi untuk melunasi janji satu per satu dan nak pelon-pelon sojoi (bukan lagunya kotak!). Di sini kadang saya mulai lelah menjawab pertanyaan, “Ibuk, nak sono lah de rang lom? Nak sini bonyok, Buk. Nak sini sajo ye, Buk?” Untung lah bertemu Pak Anis Baswedan sebelum pemberangkatan dulu adalah suatu pencerahan. Soal aturan nomor delapan ‘you may like it, but no falling in love’ dan pandangan hidup. Setahun ke depan, saya juga ingin menjabat tangan Pak Anis lagi dan berucap, “Pak Anis, fansmu bonyok! Janji terlunasi, bagaimana dengan Dek Michael apa sudah lulus dan cukup pantas?” Bhaaaha. 

Dewi Maghfi | 6 Januari 2016