Selasa, 19 Januari 2016

Setahun yang Bukan Semusim



“Tahun baru nanti, jalan-jalan ning Tanjung Pinang yo, Wi?” ujar Pak Tukidi yang saat ini menjadi Bapak angkatku.

Saat itu saye baru tersadar kalau empat hari lagi memasuki tahun baru 2016. Dengan cepat saya menjawab, “Ayo mangkat, Pak.” Baru pada tanggal 1, saye benar-benar tersadar untuk kedua kali kalau hari Jumat itu tahun baru. Rencana kami ke Tanjung Pinang yang akan kami tempuh menggunakan kapal selama enam jam tersebut tidak jadi, sebab gelombang laut sedang tinggi-tingginya. Baru, pada malam harinya saat saya menelpon rekan saya di Semarang, dia mengingatkan saya kalau ini benar bulan Januari. “Saya bertambah usia dong, 6 Januari nanti. Tepat di angka ganjil 23,” batinku. 

Seperti biasa momen pertambahan usia saya, tak ada yang special di hari itu. Kecuali, kejutan-kejutan dari kawan. Saya teringat ketika melewati pertambahan usia di kos Al-Baa’its, rutinitas guyur mengguyur air yang dicampur entah telur, sirup, kopi, selalu tak terlewatkan entah siapa pun yang ulang tahun. Tak pernah ada kekreatifan lain yang kami lakukan selain mengguyurkan air. Tidak hanya mengguyurkan air ke badan si yang sedang ulang tahun, tapi semua harus basah karena kami tetap mengamini jargon jawa mangan ora mangan tetep kumpul. Teles siji, liyane luweh teles gebes. Kejar-kejaran mengelilingi kos, di sudut-sudut tertentu ada petugas jaga, hingga yang pilih aman tak mau ikut-ikutan dan mendukung dari balik pintu kamar. Karena sekat kamar kos kami antar satu dengan yang lainnya masih ada celah, selalu saja ada yang menyiram dari celah tersebut sehingga tak jarang kasur dan barang-barang basah. 

Hhmmm. Tak jarang pasti ada yang ngambek. Karena, si ulang tahun dibiarkan sendiri untuk membersihkan lantai-lantai yang kotor, basah, dan bau. Saya juga pernah ngambek pada kawan-kawan yang usil tersebut. “Ulang tahun mah enak, ada kado. Ini apa, uda diguyur air diminta bersihin lantai pula!” Nah, mengingat momen-momen itu, saye jadi rindu dengan teman-teman somplak. Momen dimarah-marahi Ibu kos karena terlalu ramai. Kalau soal nyanyian-nyanyian nyaring tengah malam bak hantu, biasanya ulah dua manusia tengil, Nita dan Ifa. 

Kepindahan kos pada akhir-akhir semester ternyata memunculkan budaya baru. Kejutan ulang tahun berupa tiup api di pergantian tanggal. Juga kue-kue yang akrab disebut tar. Kami memang hidup dalam nuansa kos yang beda. Namun, aku selalu rindu. Entah kenapa, pergantian usia lebih sering mendapatkan bungkusan buku. “Lalu, berharap ada peri dan peru yang ngirim buku! Apalagi kalau dalam jumlah banyak. Nak dapet ngisi rumah baca baru nak sini. Ayolah siapa berbaik hati di luar sana! Haha.”

Satu tahun ke depan, saye hanya ingin menyelesaikan misi ini, menjadi pengajar muda di Natuna. Sebuah desa yang sebelumnya pernah ada dalam rabaan saya. Dan sekarang rasakno! Haha. Saya benar belojo bermasyarakat dengan orang dan budaya baru. Dengan orang dari beragam suku. Dengan cerita perjalanan perantauan orang-orang pribumi untuk mengubah nasib. Entah nasib mujur atau justru ajur. Namun, itu lah perjalanan hidop ndok isok ditebak. 

Sekembalinya di 2017, saye dapet jumpa lagi dengan kawan-kawan dan menyusun misi baru. Setahun lagi untuk tersadar di angka 24. Bukan hanya semusim untuk melewati bersama. Misi untuk melunasi janji satu per satu dan nak pelon-pelon sojoi (bukan lagunya kotak!). Di sini kadang saya mulai lelah menjawab pertanyaan, “Ibuk, nak sono lah de rang lom? Nak sini bonyok, Buk. Nak sini sajo ye, Buk?” Untung lah bertemu Pak Anis Baswedan sebelum pemberangkatan dulu adalah suatu pencerahan. Soal aturan nomor delapan ‘you may like it, but no falling in love’ dan pandangan hidup. Setahun ke depan, saya juga ingin menjabat tangan Pak Anis lagi dan berucap, “Pak Anis, fansmu bonyok! Janji terlunasi, bagaimana dengan Dek Michael apa sudah lulus dan cukup pantas?” Bhaaaha. 

Dewi Maghfi | 6 Januari 2016

Tidak ada komentar: